Selasa, 14 Maret 2017

PENGAMATAN DAN PENCATATAN PERKEMBANGAN BICARA

Perkembangan bicara anak perlu diketahui, sehingga tampak tahap perkembangan bicara dan kemungkinan adanya gangguan atau keterlambatan. Oleh karena itu, perlu dilakukan penilaian perkembangan bicara, yang difokuskan pada tiga tujuan utama, yaitu :
1.         Mendokumentasikan perkembangan bicara anak sebagai dasar untuk melaksanakan stimulasi dan intervensi selanjutnya. Bagi guru PAUD, data perkembangan anak sangat bermanfaat untuk menyusun program pembelajaran selanjutnya
2.         Mengecek kemungkinan terjadinya keterlambatan bicara, sehingga dapat direncanakan tindak lanjut, terutama apabila harus berhubungan dengan para profesional
3.         Melakukan diagnosis kemampuan bicara anak pada beberapa bidang khusus yang kesulitan, misalnya artikulasi, fonologi dan sebagainya
Penilaian perkembangan bicara dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu penilaian formal dan penilaian informal. Penilaian informal dalam pendidikan anak usia dini lebih banyak dilakukan dengan observasi, danmendokumentasikannya melalui daftar centang (checklist), catatan anekdot (anecdotal records) dan rekaman audio atau video. Penilaian formal meliputi kegiatan untuk mendapatkan respon anak-anak terhadap segala hal yang berkaitan dengan tugas perkembangan bicara, misalnya dengan meminta anak mengungkapkan pendapatnya di depan anak lain atau kelompok. Penilaian formal meliputi prosedur khusus untuk pengadministrasian, penilaian, pelaporan maupun interpretasi. Kedua jenis penilaian tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Penilaian informal sering digunakan untuk mendokumentasikan perkembangan bicara sementara penilaian formal lebih sering digunakan untuk proses diagnosis, terutama untuk melakukan pemeriksaan keterlambatan bicara serta mendiagnosis wilayah-wilayah khusus yang sulit dalam perkembangan bahasa. Dengan demikian, penilaian informal lebih sering dan lebih banyak digunakan terutama oleh pendidik PAUD.
Penilaian perkembangan bicara hendaknya dilakukan secara berkelanjutan, sehingga pendidik memiliki pemahaman yang komprehensif terhadap kemampuan berbicara anak, yang dapat digunakan untuk melakukan penyesuaian dan pengembangan kurikulum, sehingga sesuai dengan kebutuhan anak. Sebagai contoh, apabila pendidik melalui observasi berulang kali mendapatkan bahwa perkembangan kosakata anak dalam kondisi yang memerlukan perhatian, maka guru dapat memodifikasi kurikulum sehingga dapat menggabungkan lebih banyak pengalaman dan kegiatan dengan konsep yang kaya dan fokus pada pengembangan kosakata anak.
Sebagaimana dikutip dari Bredekamp dan Copple, 1997, penilaian berkelanjutan hendaklah 1). Berkelanjutan, strategis dan memiliki tujuan yang jelas, 2). Terutama meliputi observasi dan gambaran perkembangan anak dan contoh-contoh pembelajarannya, dan 3). Mencerminkan kemajuan anak dalam mencapai tujuan-tujuan perkembangan. Penilaian berkelanjutan tersebut sejalan dengan konsep penilaian otentik, yang menekankan ciri-ciri berikut (Kostelnik, Soderman, dan Wirren, 2007; Morisson, 2009):
1.    Berlangsung dalam konteks pembelajaran yang alami pada kegiatan sehari-hari
2.    Fokus pada hal-hal yang dilakukan anak-anak
3.    Merupakan suatu kesatuan dalam kurikulum umum di kelas
Morisson (2009) menyebut penilaian otentik sebagai penilaian yang berbasis pada pelaksanaan pembelajaran.

Pengamatan atau observasi sebagai cara yang paling sering digunakan dalam penilaian informal, merupakan aktivitas yang fleksibel dan bisa diadaptasikan dengan situasi khusus di kelas, tetapi guru harus memiliki pemahaman yang jelas mengenai jenis perilaku atau pencapaian perkembangan bicara yang diamati. Apabila pendidik tidak memahami standar pencapaian perkembangan bicara, maka kesimpulan yang diambil tidak akan valid, sehingga dapat menghasilkan keputusan yang tidak tepat. Oleh karena itu, pengamatan sebaiknya dilakukan beberapa kali agar terlihat pola perkembangan bicara anak….. (Salam Widya, Surabaya 14 Maret 2017)

PERKEMBANGAN BICARA ANAK USIA DINI

Anak yang berbicara menggunakan bahasa lisan, menurut beberapa penelitian, tampak lebih sukses apabila dibandingkan dengan anak yang kurang fasih dalam berbicara (Fey, Catts & Larrivee, 1995). Pada anak yang sudah mulai belajar membaca dan menulis, menggunakan pengetahuan bahasa lisan sebagai dasar untuk mengungkapkan pengetahuan dan pengalaman barunya. Anak dengan kemampuan bicara yang baik, mampu mengekspresikan pikirannya dan berinteraksi sosial dengan baik. Dasar dari kemampuan bicara yang baik adalah kosakata, produksi dam pemahaman sintaksis, kesadaran fonemik, dan produksi serta kesadaran naratif. Kemampuan berbicara akan mendorong perkembangan bahasa, baik dalam bentuk reseptif maupun ekspresif. Kemampuan bahasa reseptif akan berkembang ketika anak mendapatkan banyak kesempatan untuk mendengarkan dan memahami arahan serta instruksi sederhana, baik dari orangtua, guru maupun teman sebaya. Dengan demikian, anak yang memiliki kesempatan luas untuk melakukan interaksi sosial, akan memiliki perkembangan bicara dan bahasa yang baik, asalkan tidak terdapat gangguan pada otak atau persarafan yang mengendalikan perkembangan tersebut. Dengan demikian, interaksi sosial membantu memperluas kemampuan berbicara anak.
Di sisi lain, perkembangan bicara juga mendorong kemampuan interaksi sosial yang luas. Anak yang mampu melakukan percakapan dan merespons pembicaraan orang lain juga akan lebih diterima, sementara anak yang kesulitan berbicara akan cenderung diabaikan dari interaksi sosial informal atau interaksi kolaboratif. Ketidakmampuan dalam keberhasilan partisipasi suatau percakapan atau ketidakmampuan dalam mengartikulasikan secara jelas bunyi kata akan menurunkan perasaan suka anak lain, untuk berusaha berbicara atau bermain (Otto, 2015).
Perkembangan bicara pada anak usia dini merupakan salah satu aspek perkembangan penting, karena mempengaruhi aspek-aspek perkembangan lainnya. Pada setiap tahap pertambahan usia, perkembangan bicara anak semakin terlihat, yaitu semakin kompleks. Pada saat bayi dilahirkan, dia berkomunikasi dengan tangisan, seiring dengan bertambahnya usia, bayi kemudian membuat suara-suara, seperti ah... eh.. uh... yang disebut dengan cooing(suara tidak beraturan). Bayi juga senang sekali berkesperimen dengan berbagai bunyi yang dapat dihasilkannya, lalu dilanjutkan dengan mulai mengenali emosi dan mengoceh (babling). Babling biasanya diucapkan dengan suku kata tunggal, menggunakan huruf-huruf bilabial, misalnya papapa... mamama... bababa..., Inilah sesungguhnya tahap awal perkembangan bicara. Ocehan adalah bunyi eksplosif awal yang disebabkan oleh gerakan mekanisme suara. Agar perkembangan bicara menjadi optimal, lingkungan yang kaya stimulasi akan sangat mendukung.
Owens, 2001, menyebutkan bahwa terdapat sekitar 10% anak sekolah dasar yang memiliki beberapa jenis gangguan komunikasi. Misalnya, anak dengan gangguan pendengaran, mengalami kesulitan dalam bahasa reseptif. Anak yang memiliki masalah memproduksi bunyi tertentu mengalami kesulitan dengan bahasa ekspresif. Anak yang berisiko mengalami gangguan berbicara dan bahasa selama masa prasekolah termasuk  yang sering terkena infeksi telinga, tidak berbicara atau memiliki ujaran yang terbatas, mengalami masalah berinteraksi (Patterson & Wright, 1990). Ada atau tidaknya kecenderungan keterlambatan bicara dapat dideteksi melalui penilaian yang dilakukan oleh guru, orangtua ataupun tenaga profesional.
Oleh karena itu, perkembangan bicara perlu diamati dan dicatat, sehingga gambarannya dapat diketahui dari waktu ke waktu. Gambaran perkembangan ini menjadi hal yang penting, agar apabila terdapat kemungkinan keterlambatan atau penyimpangan, dapat diketahui kemudian dilakukan stimulasi dan intervensi dini. Deteksi, stimulasi dan intervensi dini dapat dilakukan bersama-sama antara guru, orangtua dan tenaga profesional. Dengan demikian, akan didapatkan hasil yang komprehensif tentang perkembangan bicara anak.

Penilaian perkembangan bicara anak dapat dilakukan melalui pengamatan, pencatatan dan pendokumentasian setiap aktivitas yang terkait dengan hal tersebut. Penilaian tersebut hendaknya dilakukan secara berkala dan sistematis, sehingga tren atau kecenderungannya dapat diketahui. Penilaian sangat penting artinya untuk deteksi, stimulasi maupun intervensi dini, sehingga sedapat mungkin anak mengalami perkembangan bicara yang optimal sesuai dengan usianya. Perkembangan bicara yang optimal sangat berpengaruh terhadap kehidupan anak selanjutnya, terutama dalam mengembangkan interaksi dan sosialisasi dalam rangka penyesuaian sosial dengan teman sebaya, orangtua, guru, maupun orang lain di sekitar anak. ... (Salam Widya, Surabaya, 14 Maret 2017) 

Rabu, 19 Desember 2012

MODEL STIMULASI UNTUK MENGOPTIMALKAN FUNGSI OTAK ANAK DENGAN MENGGUNAKAN BRAINDANCE


Otak anak berkembang dan bekerja dengan caranya yang unik. Keunikan inilah yang akhirnya membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang unik. Anak menerima, memproses, menyimpan dan menggunakan kembali informasi yang didapatkan dari lingkungan dengan cara yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.
Struktur otak anak terbentuk pada awal kehidupannya sejak berada dalam kandungan dan berlanjut terus hingga dia dilahirkan. Struktur otak yang telah terbentuk  seyogyanyalah mendapatkan stimulasi yang tepat agar dapat menjalankan fungsinya dengan baik, sehingga otak anak berkembang menjadi otak normal dan sehat.

Ketika anak dilahirkan, banyak stimulasi yang diberikan, salah satunya adalah dengan berbagai macam gerakan, karena ternyata, gerakan mendukung perkembangan fisik motorik, yang sangat menunjang perkembangan proses kognitif. Stimulasi gerak yang diberikan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anak serta sejalan dengan usia anak.
Pada usia 3 – 4 tahun, salah satu stimulasi gerakan yang dapat diberikan adalah braindance. Braindance, yang merupakan serangkaian gerakan yang mengutamakan kelenturan dan kesesuaian dengan perkembangan motorik anak usia 3 – 4 tahun, di samping juga berfungsi untuk mengoptimalkan kinerja otak, karena menstimulasi berbagai sel otak, sehingga menyiapkan anak untuk belajar.  Gerakan braindance terdiri atas 17 gerakan dasar yang mudah dilakukan oleh anak. Dalam braindance dikembangkan pula “touch” dan “sensation”, sehingga anak dapat mengembangkan “sense of self”. Lebih lanjut, gerakan braindance dapat dikembangkan dengan latar budaya Indonesia sehingga nampak kekhasan masing-masing daerah dengan tetap mengedepankan karakteristik anak usia dini.

Stimulasi gerak tersebut dapat diberikan kepada anak sebelum kegiatan pembelajaran, sebagai salah satu upaya untuk mengkondisikan anak. Pengkondisian ini penting mengingat bahwa anak memiliki latar belakang yang berbeda-beda ketika berada di rumah (sebelum berada di sekolah). Ada anak yang memang dalam kondisi baik-baik saja atau ceria, namun bermasalah atau mengalami hal-hal yang kurang menyenangkan  sehingga perlu dikondisikan. Pengkondisian ini membuat anak siaga untuk menerima informasi. Di sinilah peran utama braindance, yaitu menyiagakan dan meningkatkan kesiagaan otak, apalagi, gerakan braindance tersebut diiringi oleh musik yang menyenangkan, sehingga memberikan suasana yang riang. Musik tersebut dibarengi dengan lagu yang bercerita tentang binatang katak dan alam, sehingga menumbuhkan imajinasi mengenai hal tersebut.(salam, Widya)

MENGAJAK ANAK BERGERAK DENGAN BRAINDANCE


Bergerak bagi anak pada umumnya merupakan suatu kebutuhan dan aktivitas yang menyenangkan, kecuali bagi anak yang mengalami hambatan-hambatan tertentu. Oleh karena it ulah, anak akan sangat bersuka cita ketika bergerak menjadi bagian dari kegiatan pembelajaran. Agar gerakan yang dilakukan oleh anak lebih bermakna, maka model stimulasi gerak yang diberikan haruslah terarah.


Salah satu model yang dapat diberikan adalah dengan braindance. Sebagai salah satu bentuk stimulasi model, maka tahap-tahap pemberian stimulasi dapat diuraikan sebagai berikut.
  1. Penilaian sensory profile (1 hari sebelum braindance dilakukan)
  2. Pijakan awal
a.       Berdialog dengan anak (menanyakan kabar anak, perasaan anak, dan lain-lain)
b.      Bercerita tentang alam (kehidupan katak, alam, dan lain-lain terkait syair lagu dalam braindance)
c.       Menunjukkan gerakan braindance dengan memutarkan VCD braindance
d.      Mengajak anak melakukan gerakan braindance  satu per satu
e.      Melakukan gerakan braindance
  1. Anak diajak beristirahat sejenak (rileks, makan makanan ringan, minum, dan lain-lain)
  2. Pijakan akhir
a.       Menanyakan perasaan anak mengenai kegiatan yang telah dilakukan
b.      Menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan selanjutnya
  1. Penilaian sensory profile (1 hari sesudah braindance dilakukan)

Dengan melalui tahap-tahap tersebut diharapkan stimulasi dapat dilakukan dengan benar, sehingga tujuan stimulasi untuk mengoptimalkan fungsiotak anak usia dini dapat tercapai. Optimalnya fungsi otak akan mendukung kesiapan anak untuk belajar, sehingga proses perkembangan terjadi dengan baik. Proses perkembangan yang berjalan sesuai dengan tahap-tahapnya diharapkan mampu mewujudkan generasi Indonesia yang handal.(salam, Widya)

TOILET TRAINING BAGI ORANG DEWASA


Kita sering mendengar istilah “toilet training” atau latihan terkait penggunaan toilet dan aktivitas yang berhubungan dengan hal tersebut, seperti buang air besar dan buang air kecil. Akan tetapi, aktivitas ini lebih banyak terkait anak usia dini, yang memang sedang dalam proses berlatih, sehingga mungkin agak aneh ketika judul dalam tulisan ini adalah bagi orang dewasa? Pembaca pasti akan bertanya-tanya, perlukah toilet training bagi orang dewasa? Lalu, bagaimana caranya dan siapa yang akan melakukan? Judul ini pasti tidak serius atau salah ketik, demikian mungkin kata hati para pembaca.
Judul di atas tidak salah ketik, dan juga tidak sedang bercanda di dunia maya. Toilet training memang perlu dan penting bagi orang dewasa, karena ternyata banyak orang dewasa yang tidak melakukan dengan benar. Contoh menarik dan sering dijumpai terkait hal tersebut adalah ketika berada di toilet umum. Penulis pernah menjumpai ada seorang ibu keluar dari toilet dan mengatakan bahwa toilet rusak. Penulis merasa penasaran, karena toilet tersebut berada di sebuah bandara internasional dan tidak ada peringatan bahwa toilet rusak. Akhirnya, penulis “memberanikan diri” masuk ke toilet tersebut (karena yang lain penuh), dan ternyata ketika tombol kran ditekan, air mengalir, dan seluruh kotoran tersiram. Ternyata, ibu tersebut tidak tahu cara menggunakan toilet.
Pada kesempatan yang lain, di tempat yang lain, toilet umum berbau sangat tidak sedap. Ternyata, pengguna tidak menyiram dengan benar. Ini menunjukkan betapa toilet training diperlukan bagi orang dewasa, karena mungkin toilet training tidak tuntas waktu usia dini.
Lalu, bagaimana caranya?  Pertama, bentuk toilet di tempat-tempat umum pasti bervariasi, demikian pula dengan cara penggunaannya. Oleh karena itu,  perlu dipasang pengumuman cara penggunaan toilet, baik dalam bentuk tulisan maupun gambar, untuk membantu pengguna. Kedua, apabila toilet harus disiram, perlu diinformasikan dengan jelas, berapa gayung air yang harus disiramkan agar tidak meninggalkan bau yang tidak sedap, karena ternyata masih banyak orang dewasa yang berpikir konkret, sehingga perlu ada penjelasan rinci. Ketiga, pada pintu keluar perlu dipasang pengumuman agar mencuci tangan dengan sabun, karena ternyata masih banyak orang dewasa yang tidak mencuci tangan dengan benar ketika keluar dari toilet. Oleh karena itu, prosedur mencuci tangan dengan benar pun kiranya perlu diinformasikan. Dengan demikian, diharapkan orang dewasa dapat menjadi contoh yang baik dan benar bagi anak usia dini dalam penggunaan toilet, sehingga kesehatan lingkungan dan pribadi dapat terjaga. (salam, Widya)

Senin, 15 Oktober 2012

Pengasuhan Anak *)


Oleh :

Widya Ayu Puspita. SKM.,M.Kes

Tahun-tahun pertama kehidupan anak merupakan kurun waktu yang sangat penting dan kritis dalam hal tumbuh kembang fisik, mental, dan psikososial, yang berjalan sedemikian cepatnya sehingga keberhasilan tahun-tahun pertama untuk sebagian besar menentukan hari depan anak. Kelainan atau penyimpangan apapun apabila tidak diintervensi secara dini dengan baik pada saatnya, dan tidak terdeteksi secara nyata mendapatkan perawatan yang bersifat purna yaitu promotif, preventif, dan rehabilitatif akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak selanjutnya (Sunarwati, 2007).

Selanjutnya, pengasuhan anak merupakan salah satu faktor yang menentukan pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama pada masa-masa kritis, yaitu usia 0 – 8 tahun. Kehilangan pengasuhan yang baik, misalnya perceraian, kehilangan orang tua, baik untuk sementara maupun selamanya, bencana alam dan berbagai hal yang bersifat traumatis lainnya sangat mempengaruhi kesehatan fisik dan psikologisnya.

Dengan demikian, kehilangan atau berpisah dari keluarga ini akan meningkatkan risiko kesehatan, perkembangan dan kesejahteraan anak secara keseluruhan. Risiko ini akan meningkat, apabila kehilangan ini terjadi dalam masa kritis pertumbuhan anak, yaitu masa awal kanak-kanak. Akibat bencana alam, perang, perceraian, kematian orang tua dan anggota keluarga lainnya, dan kelahiran tak dikehendaki seorang anak dapat mengalami kesulitan berkembang menjadi manusia dewasa seutuhnya.

Dengan mengacu kepada konsep dasar tumbuh kembang maka secara konseptual pengasuhan adalah upaya dari lingkungan agar kebutuhan-kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang (asuh, asih, dan asuh) terpenuhi dengan baik dan benar, sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Akan tetapi, praktiknya tidaklah sesederhana itu karena praktik ini berjalan secara informal, sering dibumbui dengan hal-hal yang tanpa disadari dan tanpa disengaja serta lebih diwujudkan oleh suasana emosi rumah tangga sehari-hari yang terjadi dalam bentuk interaksi antara orang tua dan anaknya serta anggota keluarga lainnya. Dengan demikian hubungan inter dan intrapersonal orang-orang di sekitar anak tersebut dan anak itu sendiri sangat memberi warna pada praktik pengasuhan anak.

Menurut Sears (1957) child rearing is not a technical term with precise significance. It refers generally to all the interactions between parents and their children. These interactions between parents and their children include the parent expressions of attitudes, values interests, and beliefs as well as their children care-taking and training behavior. Sociologically speaking, these interactions are an inseparable class of events that prepare the child, intentionally or not, for continuing his life (Sunarwati, 2007).

Pada kenyataannya seringkali kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang tidak didapatkan anak dengan baik dan benar. Beberapa contoh adalah:

a. Asuh, misalnya ketiadaan pemberian Air Susu Ibu (ASI) dengan pengganti ASI saja (meskipun belakangan ini ada susu-susu formula yang diupayakan mendekati kualitas ASI, yaitu dengan kandungan lizozim laktoferin dan laktosa), dan ketidaktahuan sehingga terjadi penelantaran anak

b. Asih, misalnya pada kehamilan tak diinginkan yang berkepanjangan, kasih sayang ibu yang tak benar (smother love versus mother love)

c. Asah, misalnya dusta putih, suasana murung, sepinya komunikasi, pertengkaran, kekerasan dalam keluarga, disparitas gender, dan sebagainya.

Thurbe dan Cursnann telah meneliti secara kohort selama 21 tahun terhadap 120 anak yang dilahirkan dari kehamilan yang tidak dikehendaki dibandingkan dengan 120 anak dengan keadaan setara namun lahir dari kehamilan yang diinginkan. Mereka menemukan bahwa kelompok anak yang tidak diinginkan menunjukkan perilaku asosial lebih banyak, lebih sering membutuhkan jasa dokter ahli jiwa serta kecerdasannya pun lebih rendah daripada kelompok anak yang lahir dari kehamilan yang diinginkan.

Dalam kaitan tercapainya keeratan ikatan ibu-anak, selain kontak kulit, visual dan emosi sesegera mungkin setelah anak lahir, banyak peneliti mengemukakan pula perlunya pemberian asah jauh sebelum anak dilahirkan, yaitu dengan memperdengarkan musik klasik serta berbicara dengan anak selama masih dalam kandungan. Pengasuhan anak oleh subtitusi ibu, baik yang paruh waktu (misalnya di tempat penitipan anak) maupun yang purna waktu (misalnya oleh pramusiwi) harus selalu memperhatikan hal-hal tersebut di atas, yaitu pada dasarnya agar asuh, asih, asah didapatkan anak dengan baik dan benar (Sunarwati, 2007).
Oleh karena itu, dalam pengasuhan anak ada empat hal yang harus dipenuhi, yaitu bahwa setiap anak membutuhkan orang tua, dan tumbuh secara alamiah dengan saudara kandung yang dimilikinya, di dalam rumah mereka sendiri dan di dalam lingkungan yang mendukungnya.
Diharapkan bahwa pengasuhan anak ini akan mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak. Pertumbuhan (growth) berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu, yang bisa diukur dengan ukuran berat (gram, pounds, kilogram), ukuran panjang (cm, meter), umur tulang dan keseimbangan metabolik (retensi kalsium dan nitrogen tubuh). Perkembangan (development) adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan sebagai hasil dari proses pematangan (Soethiningsih, 1995)

Menurut teori perkembangan psikososial Erikson ada empat tingkat perkembangan anak yaitu :
1. Usia anak 0 - 1 tahun yaitu trust versus mistrust. Pengasuhan dengan kasih sayang yang tulus dalam pemenuhan kebutuhan dasar bayi menimbulkan "trust" pada bayi terhadap lingkungannya. Apabila sebaliknya akan menimbulkan "mistrust" yaitu kecemasan dan kecurigaan terhadap lingkungan.
2. Usia 2 - 3 tahun, yaitu autonomy versus shame and doubt. Pengasuhan melalui dorongan untuk melakukan apa yang diinginkan anak, dan sesuai dengan waktu dan caranya sendiri dengan bimbingan orang tua atau pendidik yang bijaksana, maka anak akan mengembangkan kesadaran autonomy. Sebaliknya apabila pendidik tidak sabar, banyak melarang anak, akan menimbulkan sikap ragu-ragu pada anak. Hal ini dapat membuat anak merasa malu.
3. Usia 4 - 5 tahun, yaitu inisiative versus guilt, yaitu pengasuhan dengan memberi dorongan untuk bereksperimen dengan bebas dalam lingkungannya. Pendidik dan orang tua tidak menjawab langsung pertanyaan anak, maka mendorong anak untuk berinisiatif sebaliknya, bila anak selalu dihalangi, pertanyaan anak disepelekan, maka anak akan selalu merasa bersalah.
4. Usia 6 - 11 tahun, yaitu industry versus inferiority, bila anak dianggap sebagai "anak kecil" baik oleh orang tua, pendidik maupun lingkungannya, maka akan berkembang rasa rendah diri, dampaknya anak kurang suka melakukan tugas-tugas yang bersifat intelektual dan kurang percaya diri.

Teori lainnya yang berkaitan dengan perkembangan kognitif, yaitu Piaget menyebutkan bahwa ada tiga tahapan perkembangan kognitif anak, yaitu :
1. Tahap sensorimotorik (usia 0 - 2 tahun). Pada tahap ini anak mendapatkan pengalaman dari tubuh dan indranya.
2. Tahap praoperasional. Anak berusaha menguasai simbol-simbol (kata-kata) dan mampu mengungkapkan pengalamannya, meskipun tidak logis (pra-logis). Pada saat ini anak bersifat egosentris, yaitu melihat sesuatu dari dirinya (perception centration), dengan melihat sesuatu dari satu ciri, sedangkan ciri lainnya diabaikan.
3. Tahap operasional kongkrit. Pada tahap ini anak memahami dan berpikir yang bersifat kongkret belum abstrak.
4. Tahap operasional formal. Pada tahap ini anak mampu berpikir abstrak.
Berkaitan dengan anak-anak, beberapa anak ditemukan memiliki kerentanan untuk menghadapi perubahan atau tekanan yang mereka hadapi.Akan tetapi, tidak jarang pula, orang tua atau pendidik mengeluhkan anak-anak memerlukan penyesuaian diri yang lama terhadap situasi baru, atau anak yang trauma dengan pengalaman negatif, seperti kehilangan sahabat, pindah rumah, nyaris tenggelam di kolam renang, atau menjadi korban bencana alam seperti gempa (Ilham, 2007).

*) re-load tulisan lama dari blog. PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) tgl. 17 juni 2008 untuk judul yang sama.
(salam, Widya)

Senin, 18 Juni 2012

MENINGKATKAN KINERJA OTAK MELALUI BRAINDANCE


Otak manusia memiliki cara kerja yang kompleks dan unik, menerima, memproses, menyimpan dan menggunakan kembali informasi dengan cara yang unik. Otak terdiri atas milyaran sel saraf yang memiliki fungsi penting dalam kehidupan sejak manusia diciptkan.  Keunikan otak dan cara kerjanya telah menjadi perhatian yang luar biasa dan banyak sekali penemuan spektakuler mengenai otak.
Sepanjang kehidupan manusia, kinerja otak dapat terus ditingkatkan, terutama dengan telah ditemukannya plastisitas otak. Kinerja otak dapat ditingkatkan melalui stimulasi yang tepat. Salah satu bentuk stimulasi adalah melalui braindance.

Braindance merupakan gerakan yang mengutamakan kelenturan, yang dapat digunakan untuk anak usia dini. Rangkaian stimulasi gerak braindance bertujuan untuk merangsang struktur otak yang akan membantu mengoptimalkan fungsi otak dengan gerak yang dinamis dan harmonis dengan ekspresi dan imajinasi untuk membangun dan mengoptimalkan gerakan fundamental menuju kesiapan anak untuk belajar.

Secara umum, braindance antara lain berfungsi untuk :
a.    Meningkatkan kesehatan dan kebugaran
b.    Meningkatkan keseimbangan anggota gerak
c.     Mengoptimalkan perkembangan persyarafan
d.    Mengoptimalkan fungsi otak

Gerakan braindance sesuai dengan anak usia dini, terutama untuk meningkatkan kinerja otak yang sedang dalam proses perkembangan dan memerlukan stimulasi yang tepat sehingga siap belajar. Oleh karena itu, gerakan tersebut dapat diberikan kepada anak usia dini sebagai salah satu ragam kegiatan untuk meningkatkan kesiagaan otak anak.
( Salam, Widya )