Senin, 15 Oktober 2012

Pengasuhan Anak *)


Oleh :

Widya Ayu Puspita. SKM.,M.Kes

Tahun-tahun pertama kehidupan anak merupakan kurun waktu yang sangat penting dan kritis dalam hal tumbuh kembang fisik, mental, dan psikososial, yang berjalan sedemikian cepatnya sehingga keberhasilan tahun-tahun pertama untuk sebagian besar menentukan hari depan anak. Kelainan atau penyimpangan apapun apabila tidak diintervensi secara dini dengan baik pada saatnya, dan tidak terdeteksi secara nyata mendapatkan perawatan yang bersifat purna yaitu promotif, preventif, dan rehabilitatif akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak selanjutnya (Sunarwati, 2007).

Selanjutnya, pengasuhan anak merupakan salah satu faktor yang menentukan pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama pada masa-masa kritis, yaitu usia 0 – 8 tahun. Kehilangan pengasuhan yang baik, misalnya perceraian, kehilangan orang tua, baik untuk sementara maupun selamanya, bencana alam dan berbagai hal yang bersifat traumatis lainnya sangat mempengaruhi kesehatan fisik dan psikologisnya.

Dengan demikian, kehilangan atau berpisah dari keluarga ini akan meningkatkan risiko kesehatan, perkembangan dan kesejahteraan anak secara keseluruhan. Risiko ini akan meningkat, apabila kehilangan ini terjadi dalam masa kritis pertumbuhan anak, yaitu masa awal kanak-kanak. Akibat bencana alam, perang, perceraian, kematian orang tua dan anggota keluarga lainnya, dan kelahiran tak dikehendaki seorang anak dapat mengalami kesulitan berkembang menjadi manusia dewasa seutuhnya.

Dengan mengacu kepada konsep dasar tumbuh kembang maka secara konseptual pengasuhan adalah upaya dari lingkungan agar kebutuhan-kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang (asuh, asih, dan asuh) terpenuhi dengan baik dan benar, sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Akan tetapi, praktiknya tidaklah sesederhana itu karena praktik ini berjalan secara informal, sering dibumbui dengan hal-hal yang tanpa disadari dan tanpa disengaja serta lebih diwujudkan oleh suasana emosi rumah tangga sehari-hari yang terjadi dalam bentuk interaksi antara orang tua dan anaknya serta anggota keluarga lainnya. Dengan demikian hubungan inter dan intrapersonal orang-orang di sekitar anak tersebut dan anak itu sendiri sangat memberi warna pada praktik pengasuhan anak.

Menurut Sears (1957) child rearing is not a technical term with precise significance. It refers generally to all the interactions between parents and their children. These interactions between parents and their children include the parent expressions of attitudes, values interests, and beliefs as well as their children care-taking and training behavior. Sociologically speaking, these interactions are an inseparable class of events that prepare the child, intentionally or not, for continuing his life (Sunarwati, 2007).

Pada kenyataannya seringkali kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang tidak didapatkan anak dengan baik dan benar. Beberapa contoh adalah:

a. Asuh, misalnya ketiadaan pemberian Air Susu Ibu (ASI) dengan pengganti ASI saja (meskipun belakangan ini ada susu-susu formula yang diupayakan mendekati kualitas ASI, yaitu dengan kandungan lizozim laktoferin dan laktosa), dan ketidaktahuan sehingga terjadi penelantaran anak

b. Asih, misalnya pada kehamilan tak diinginkan yang berkepanjangan, kasih sayang ibu yang tak benar (smother love versus mother love)

c. Asah, misalnya dusta putih, suasana murung, sepinya komunikasi, pertengkaran, kekerasan dalam keluarga, disparitas gender, dan sebagainya.

Thurbe dan Cursnann telah meneliti secara kohort selama 21 tahun terhadap 120 anak yang dilahirkan dari kehamilan yang tidak dikehendaki dibandingkan dengan 120 anak dengan keadaan setara namun lahir dari kehamilan yang diinginkan. Mereka menemukan bahwa kelompok anak yang tidak diinginkan menunjukkan perilaku asosial lebih banyak, lebih sering membutuhkan jasa dokter ahli jiwa serta kecerdasannya pun lebih rendah daripada kelompok anak yang lahir dari kehamilan yang diinginkan.

Dalam kaitan tercapainya keeratan ikatan ibu-anak, selain kontak kulit, visual dan emosi sesegera mungkin setelah anak lahir, banyak peneliti mengemukakan pula perlunya pemberian asah jauh sebelum anak dilahirkan, yaitu dengan memperdengarkan musik klasik serta berbicara dengan anak selama masih dalam kandungan. Pengasuhan anak oleh subtitusi ibu, baik yang paruh waktu (misalnya di tempat penitipan anak) maupun yang purna waktu (misalnya oleh pramusiwi) harus selalu memperhatikan hal-hal tersebut di atas, yaitu pada dasarnya agar asuh, asih, asah didapatkan anak dengan baik dan benar (Sunarwati, 2007).
Oleh karena itu, dalam pengasuhan anak ada empat hal yang harus dipenuhi, yaitu bahwa setiap anak membutuhkan orang tua, dan tumbuh secara alamiah dengan saudara kandung yang dimilikinya, di dalam rumah mereka sendiri dan di dalam lingkungan yang mendukungnya.
Diharapkan bahwa pengasuhan anak ini akan mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak. Pertumbuhan (growth) berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu, yang bisa diukur dengan ukuran berat (gram, pounds, kilogram), ukuran panjang (cm, meter), umur tulang dan keseimbangan metabolik (retensi kalsium dan nitrogen tubuh). Perkembangan (development) adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan sebagai hasil dari proses pematangan (Soethiningsih, 1995)

Menurut teori perkembangan psikososial Erikson ada empat tingkat perkembangan anak yaitu :
1. Usia anak 0 - 1 tahun yaitu trust versus mistrust. Pengasuhan dengan kasih sayang yang tulus dalam pemenuhan kebutuhan dasar bayi menimbulkan "trust" pada bayi terhadap lingkungannya. Apabila sebaliknya akan menimbulkan "mistrust" yaitu kecemasan dan kecurigaan terhadap lingkungan.
2. Usia 2 - 3 tahun, yaitu autonomy versus shame and doubt. Pengasuhan melalui dorongan untuk melakukan apa yang diinginkan anak, dan sesuai dengan waktu dan caranya sendiri dengan bimbingan orang tua atau pendidik yang bijaksana, maka anak akan mengembangkan kesadaran autonomy. Sebaliknya apabila pendidik tidak sabar, banyak melarang anak, akan menimbulkan sikap ragu-ragu pada anak. Hal ini dapat membuat anak merasa malu.
3. Usia 4 - 5 tahun, yaitu inisiative versus guilt, yaitu pengasuhan dengan memberi dorongan untuk bereksperimen dengan bebas dalam lingkungannya. Pendidik dan orang tua tidak menjawab langsung pertanyaan anak, maka mendorong anak untuk berinisiatif sebaliknya, bila anak selalu dihalangi, pertanyaan anak disepelekan, maka anak akan selalu merasa bersalah.
4. Usia 6 - 11 tahun, yaitu industry versus inferiority, bila anak dianggap sebagai "anak kecil" baik oleh orang tua, pendidik maupun lingkungannya, maka akan berkembang rasa rendah diri, dampaknya anak kurang suka melakukan tugas-tugas yang bersifat intelektual dan kurang percaya diri.

Teori lainnya yang berkaitan dengan perkembangan kognitif, yaitu Piaget menyebutkan bahwa ada tiga tahapan perkembangan kognitif anak, yaitu :
1. Tahap sensorimotorik (usia 0 - 2 tahun). Pada tahap ini anak mendapatkan pengalaman dari tubuh dan indranya.
2. Tahap praoperasional. Anak berusaha menguasai simbol-simbol (kata-kata) dan mampu mengungkapkan pengalamannya, meskipun tidak logis (pra-logis). Pada saat ini anak bersifat egosentris, yaitu melihat sesuatu dari dirinya (perception centration), dengan melihat sesuatu dari satu ciri, sedangkan ciri lainnya diabaikan.
3. Tahap operasional kongkrit. Pada tahap ini anak memahami dan berpikir yang bersifat kongkret belum abstrak.
4. Tahap operasional formal. Pada tahap ini anak mampu berpikir abstrak.
Berkaitan dengan anak-anak, beberapa anak ditemukan memiliki kerentanan untuk menghadapi perubahan atau tekanan yang mereka hadapi.Akan tetapi, tidak jarang pula, orang tua atau pendidik mengeluhkan anak-anak memerlukan penyesuaian diri yang lama terhadap situasi baru, atau anak yang trauma dengan pengalaman negatif, seperti kehilangan sahabat, pindah rumah, nyaris tenggelam di kolam renang, atau menjadi korban bencana alam seperti gempa (Ilham, 2007).

*) re-load tulisan lama dari blog. PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) tgl. 17 juni 2008 untuk judul yang sama.
(salam, Widya)

Senin, 18 Juni 2012

MENINGKATKAN KINERJA OTAK MELALUI BRAINDANCE


Otak manusia memiliki cara kerja yang kompleks dan unik, menerima, memproses, menyimpan dan menggunakan kembali informasi dengan cara yang unik. Otak terdiri atas milyaran sel saraf yang memiliki fungsi penting dalam kehidupan sejak manusia diciptkan.  Keunikan otak dan cara kerjanya telah menjadi perhatian yang luar biasa dan banyak sekali penemuan spektakuler mengenai otak.
Sepanjang kehidupan manusia, kinerja otak dapat terus ditingkatkan, terutama dengan telah ditemukannya plastisitas otak. Kinerja otak dapat ditingkatkan melalui stimulasi yang tepat. Salah satu bentuk stimulasi adalah melalui braindance.

Braindance merupakan gerakan yang mengutamakan kelenturan, yang dapat digunakan untuk anak usia dini. Rangkaian stimulasi gerak braindance bertujuan untuk merangsang struktur otak yang akan membantu mengoptimalkan fungsi otak dengan gerak yang dinamis dan harmonis dengan ekspresi dan imajinasi untuk membangun dan mengoptimalkan gerakan fundamental menuju kesiapan anak untuk belajar.

Secara umum, braindance antara lain berfungsi untuk :
a.    Meningkatkan kesehatan dan kebugaran
b.    Meningkatkan keseimbangan anggota gerak
c.     Mengoptimalkan perkembangan persyarafan
d.    Mengoptimalkan fungsi otak

Gerakan braindance sesuai dengan anak usia dini, terutama untuk meningkatkan kinerja otak yang sedang dalam proses perkembangan dan memerlukan stimulasi yang tepat sehingga siap belajar. Oleh karena itu, gerakan tersebut dapat diberikan kepada anak usia dini sebagai salah satu ragam kegiatan untuk meningkatkan kesiagaan otak anak.
( Salam, Widya )

Kamis, 14 Juni 2012

KITA ADALAH MANUSIA WHOLE BRAIN


Istilah otak kanan dan otak kiri pertama kali dipopulerkan oleh seorang guru besar dari Universitas California di era 1950-an, yakni Roger Sperry. Berkat temuan ini, ia meraih nobel di bidang otak. Roger meminta para pelajar yang menjadi subyek penelitiannya untuk melakukan beberapa tugas mental, seperti melamun, menghitung, membaca, menggambar, bercerita, menulis, mewarnai dan mendengarkan musik. Di sela-sela kesibukan mengamati mereka, Roger mengukur gelombang otak subyek penelitian (Gunawan, 2003).

Hasil pengukuran gelombang otak sungguh mengejutkan. Pada umumnya, korteks serebral membagi tugas otak ke dalam dua kategori utama, yaitu kiri dan kanan. Tugas otak sebelah kanan (right cerebral hemisphere) meliputi irama, kesadaran ruang, imajinasi, melamun, warna dan dimensi. Otak kanan meruapakan bagian otak yang berpikir secara afektif dan relasional, memiliki karakter kualitatif, impulsif, spiritual, holistik, emosional, artistik, kreatif, subyektif, simbolis, imajinatif, simultan, intuitif dan mengontrol gerak motorik tubuh sebelah kiri.

Tugas otak sebelah kiri (left cerebral hemisphere) mencakup kata-kata, logika, angka, urutan, garis, analisis dan daftar. Bagian ini memiliki karakteristik khas yang bersifat logis, matematis, analitis, realistis, vertikal, kuantitatif, intelektual, obyektif dan mengontrol sistem motorik bagian tubuh kanan.

Meskipun terdapat perbedaan dalam dominasi kerja, ketika bekerja, seluruh bagian otak teraktifkan, sehingga manusia sesungguhnya merupakan individu yang “whole brain” atau menggunakan keseluruhan bagian otaknya. Dengan demikian, kita tidak dapat mengatakan bahwa ada manusia yang berotak kanan atau berotak kiri, karena keseluruhan bagian otak teraktifkan ketika terdapat stimulasi.
(salam, Widya)

Selasa, 12 Juni 2012

MENGIMPLEMENTASIKAN NILAI-NILAI KARAKTER


1.    Keteladanan
Keteladanan merupakan kunci utama dalam pendidikan karakter. Anak usia dini belajar melalui melihat, mendengar dan melakukan. Apa yang didengar dan dilihat oleh anak, itulah yang akan dicontoh untuk dilakukan. Dengan demikian, orang dewasa yang ada di sekitar anak hendaknya menunjukkan karakter mulia yang dapat diteladani oleh anak. Pendidikan karakter tidak dapat dilakukan dengan hanya diceritakan dalam kelas, sementara dalam kehidupan nyata anak melihat dunia yang carut marut, misalnya perilaku tidak disiplin,  verbal orang dewasa yang tidak baik seperti berkata kasar, tidak jujur. Hal-hal yang dilakukan oleh orang dewasa merupakan bentuk pembelajaran yang sangat efektif bagi anak usia dini.

2.    Pembiasaan
Pada usia dini,  anak memilki kapasitas belajar yang besar untuk belajar selain itu anak merupakan sebagai sosok yang mampu memecahkan  masalah sendiri secara aktif (active problem solver), serta memiliki cara sendiri untuk memahami dunia (Bruner.J, dalam Palmer, J.A., 2001). Melalui kapasitas belajarnya anak membangun pondasi dan ikatan intelektual yang kuat sebagai dasar pemahamannya tentang nilai-nilai kehidupan.
Dengan demikian, pembiasaan yang diberikan sejak usia  dini melalui aktivitas keseharian dalam keluarga dan lingkungan menjadi akar yang kokoh untuk bertumbuh dan berkembangnya nilai-nilai kehidupan dalam konteks etika, moral dan sosial-emosional. Begitu pula ketika anak mulai menginjak pendidikan pra sekolah, diharapkan mereka dapat belajar dan menguasai berbagai keterampilan dasar dalam membangun sikap, perilaku dan hubungan antar sesama. Aktivitas apapun yang dilakukan anak dapat dimuati oleh nilai-nilai yang tertanam secara menyenangkan, menghibur dan memberikan kebebasan anak untuk menjelahi relung-relung dimensi kehidupan. Penanaman nilai–nilai kehidupan dapat dilakukan dengan mudah, karena pada dasarnya manusia diciptakan dengan seperangkat potensi untuk tumbuh menjadi baik dan survive/mampu bertahan dalam kehidupan.

3.    Pola asuh yang tepat
Pengasuhan yang tepat sesuai karakteristik, kebutuhan dan potensi  anak secara tidak langsung akan membangun karakter-karakter positif. Sebaliknya pengasuhan yang salah akan memunculkan serangkaian sikap dan perilaku  yang mereduksi nilai-nilai kebaikan dan menggerus optimalisasi tumbuh kembang kehakikian karakter-karakter positif  manusia.

(salam, Widya)

SESUNGGUHNYA, MANUSIA DICIPTAKAN DENGAN KESANTUNAN LUAR BIASA


Kita kerapkali mendengar, bahkan menyaksikan berbagai peristiwa di masyarakat yang berkaitan dengan nilai-nilai karakter. Salah satunya adalah kesantunan. Kita sering melihat kurang santunnya banyak pengguna jalan raya, saling menyerobot, kebut-kebutan, bahkan sampai pada tindakan saling memaki hanya karena menganggap pengemudi lain bertindak tidak sopan, yang berujung pada timbulnya kericuhan atau kecelakaan yang membahayakan keselamatan pengguna jalan.

Betapa banyak orang yang beradu bicara, bahkan sampai beradu otot, hanya untuk hal-hal yang sesungguhnya bisa diselesaikan. Di dalam sebuah pertemuan, tidak jarang perdebatan menjadi pertengkaran yang berujung pada kekacauan. Tidak ada lagi penghormatan terhadap budaya untuk saling mendengar, memahami dan mengerti.

Kesantunan sepertinya mulai terkikis, dan yang terjadi adalah kelunturan nilai-nilai luhur yang dijunjung oleh bangsa ini. Sesungguhnyan kesantunan terkait erat dengan perkembangan moral seseorang. Seorang ahli perkembangan moral, Kolhberg, mengemukakan bahwa terdapat tiga tahap perkembangan moral, yaitu pra-conventional, conventional dan post conventional. Ketidaksantunan merupakan cerminan tahap perkembangan moral pra-conventional, yang setara dengan anak usia 0 – 8 tahun. Kalau sudah demikian, apakah hal ini menunjukkan bahwa sebagian masyarakat berada pada tahap belum dewasa, meskipun dari segi usia kronologis mungkin sudah sangat matang?

Sesungguhnya, kita dapat belajar kesantunan dari tubuh kita sendiri. Ketika sel-sel tubuh mulai berkembang, mereka menempatkan diri sesuai dengan fitrahnya masing-masing, meskipun sesungguhnya secara umum komposisi sel-sel tubuh tersebut hampir sama. Sel-sel tubuh yang mendapatkan tugas berkembang menjadi sel-sel rambut tidak pernah berkeinginan menjadi sel-sel jantung, demikian pula sel-sel  tubuh yang lain. Ketika menjalankan fungsinya, sel-sel tubuh  saling mendukung, menciptakan suasana yang kondusif, bekerja dalam sebuah sistem harmonis, menciptakan simponi kehidupan, sehingga seluruh bagian tubuh berfungsi sebagaimana mestinya.

Tidak ada sel tubuh yang menyombongkan diri atas kemampuan yang dimilikinya, tidak ada yang memiliki rasa iri, ingin menang sendiri ataupun ingin menunjukkan jasa-jasanya. Ketika ada benda asing yang memasuki tubuh, sel-sel tubuh yang bertanggung jawab atas pertahanan diri berusaha mengenali benda asing tersebut dengan baik sebelum bertindak. Sel-sel tubuh tidak bertindak semena-mena tetapi penuh kehati-hatian dan pertimbangan. Ketika ada sel-sel tubuh yang diserang penyakit, sel-sel tubuh yang lain membangun pertahanan tubuh agar sel-sel yang sakit kembali normal dan tubuh sehat kembali. Sungguh sebuah masyarakat sel yang damai.

Tubuh kita adalah cerminan masyarakat yang santun dan saling mendukung. Ini adalah teladan yang luar biasa. Lalu, mengapa kita tidak meneladani diri kita sendiri dan mengubahnya menjadi individu yang berbeda dengan apa yang dicontohkan oleh sel-sel tubuh kita?
(salam, Widya)

Senin, 11 Juni 2012

BELAJAR, BELAJAR, BELAJAR


Rasa ingin tahu akan membuat kita belajar. Belajar untuk mencari tahu, memahami dan mendapatkan lebih banyak pengalaman dan keterampilan. Semakin banyak kita belajar, maka semakin banyak yang TIDAK KITA KETAHUI. Pada saat itulah sesungguhnya kita benar-benar memahami tentang diri kita.

Tidak ada individu yang mengetahui segala hal, seberapa pun tinggi pendidikan yang telah dicapai, seberapa pun banyak pengalaman yang telah didapatkan. Ilmu Allah Maha Luas, sehingga tidak akan pernah mampu dikuasai oleh manusia, meski sepanjang kehidupannya dia terus berusaha.

Oleh karena itulah, kita diwajibkan untuk belajar, belajar dan belajar, tiada henti.Proses belajar inilah yang akan menjadikan individu lebih matang, dewasa dan memiliki integritas ketika menjalankan perannya, baik sebagai individu maupun anggota masyarakat.

Belajar dapat dilakukan dimana saja, kapan saja dan dengan siapa saja. Kita dapat belajar melalui membaca tiada lelah, berdiskusi secara positif, mengamati berbagai fenomena, mendengarkan orang lain dengan seksama, ataupun dengan cara-cara yang lain. Yang penting adalah, ketika kita belajar maka pikiran positif dan terbukalah yang perlu dimiliki.

Ketika kita berikiran positif, kita akan mampu menerima, memproses dan menggunakan kembali informasi dengan sangat baik. Di samping itu, pikiran positif mampu membangkitkan energi positif yang dapat menciptakan  suasana kondusif untuk belajar, tidak hanya untuk diri pribadi, tetapi juga untuk orang lain. Pikiran positif dapat menjadi “penyakit menular” yang akan menjalar pada orang lain di sekeliling kita, demikian pula sebaliknya.

Pikiran yang terbuka akan membuat kita memiliki wawasan yang luas dan sudut pandang yang berbeda-beda dalam menghadapi berbagi hal atau situasi. Pikiran terbuka juga mampu membangkitkan endorfin yang dapat menyebar pada orang-orang yang berada di sekeliling kita. Pikiran yang terbuka akan melahirkan ide-ide kreatif yang berguna bagi orang lain dan diri sendiri.

Jadi, pikiran positif dan terbuka merupakan prasyarat untuk belajar, dan belajar terjadi di sepanjang kehidupan kita. Ketika kita telah belajar, belajar dan belajar, barulah tiba saatnya kita melakukan “transfer of knowlegde”. “Transfer of knowledge” kepada orang lain memerlukan bekal yang cukup, agar apa yang kita transfer atau sampaikan adalah hal yang benar adanya. Pepatah mengatakan bahwa bila kita mengetahui sesuatu dengan baik dan benar, maka sampaikanlah, tetapi bila kita tidak mengetahui atau menguasainya, maka sebaiknyalah kita diam, agar kita tidak menyampaikan hal yang keliru, karena kekeliruan tersebut akan menimbulkan kekeliruan lainnya yang lebih besar lagi. Kekeliruan ini akan menjadi tanggung jawab moral kita hingga kita dapat memperbaikinya.

Pertanyaannya adalah “Sanggupkah kita untuk selalu belajar, belajar dan belajar, sementara mungkin kita sudah menganggap bahwa apa yang kita miliki sudah cukup atau bahkan lebih dari cukup?”
(Salam, Widya)

Terima Kasih Atas Segala Cintamu, Ya Rabb


Allah SWT memberikan kehidupan bagi manusia untuk selalu disyukuri, karena Allah SWT memberikannya dengan cinta. Akan tetapi, berapa banyak dari kita yang jarang atau bahkan tidak pernah mensyukuri karuniaNya.

Kita dapat menghirup oksigen dengan gratis, melalui hidung yang telah diberikan dengan gratis pula oleh Sang Pemberi Hidup. Kita dapat menatap indahnya rembulan dengan mata yang diberikan secara gratis oleh Sang Pemberi Nikmat. Kita dapat berjalan, berlari, dengan kaki yang telah diberikan oleh Sang Pencipta.

Namun, banyak di antara kita menjalani kehidupan dengan mengeluh. Di tempat kerja kita mengeluh dengan banyaknya beban tugas, tidak sesuainya imbalan/penghargaan, kurangnya diberi kepercayaan, suasana kantor yang tidak nyaman, pembagian kerja yang tidak seimbang, kesuksesan rekan kerja, dan sebagainya, sehingga tercipta nuansa negatif bagi diri kita dan lingkungan kita. Di jalan kita mengeluh. Mengeluh atas kemacetan, jalanan yang panas, berdebu, suara klakson kendaraan lain yang tiada berhenti, mogoknya kendaraan. Di rumah kita juga mengeluh. Mengeluh atas kreativitas anak-anak kita, tetangga kita, kebisingan di sekeliling, jauhnya dari fasilitas umum, dan yang lainnya.

Setiap saat kita mengeluh, sehingga berubah menjadi energi negatif yang sangat berpengaruh terhadap diri pribadi, baik secara fisik maupun psikis. Energi negatif inilah yang dapat menjadi salah satu sumber penyakit kita, sehingga tumbuh menjadi manusia yang tidak sehat dan tidak produktif. Energi negatif tersebut akan melemahkan pertahanan diri kita, menurunkan kewaspadaan otak dan kebugaran tubuh.

Daripada sepanjang waktu kita mengeluh, akan lebih baik apabila kita selalu bersyukur. Rasa syukur inilah yang akan mengalirkan energi positif. Energi positif memiliki daya yang luar biasa untuk meningkatkan stamina dan kesehatan fisik serta mental, sehingga kita tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, prima dan produktif. Telah banyak penelitian yang mendukung hal tersebut.

Jadi, mana yang akan kita pilih? Menjadi sehat lahir batin atau menjadi individu yang sakit lahir dan batin sepanjang masa?
(salam, Widya)