Selasa, 27 Maret 2012

MEMBANGUN MIMPI ANAK USIA DINI


Usia dini merupakan usia emas. Di usia inilah puncak perkembangan terjadi. Anak berkembang, membangun dirinya dan mimpi-mimpinya. Anak bermimpi untuk menjadi yang terbaik bagi lingkungan dan masyarakatnya. Untuk mencapai mimpinya, anak perlu lingkungan yang kondusif, yang memberikan ruang untuk bergerak, belajar dan bereksplorasi, mencari dan mengembangkan pengetahuan dan pengalaman baru.
Lingkungan yang kaya sangat membantu perkembangan anak pada berbagai aspek, antara lain kognitif, bahasa, sosial emosional, fisik motorik. Lingkungan yang kaya dapat dapat berupa :
A.        Lingkungan fisik
  1. Lingkungan yang luas sebagai tempat bermain. Lingkungan ini dapat berupa halaman, kebun, areal persawahan, pantai, dan sebagainya, yang terdekat dengan anak, tempat anak hidup dan bertumbuh
  2. Lingkungan yang menyediakan kesempatan anak untuk berekplorasi, sehingga anak dapat melakukan percobaan dan menemukan sesuatu yang baru. Misalnya, anak dapat mencampur berbagai warna sehingga menemukan warna yang baru, anak dapat membelah buah jeruk, sehingga mengetahui bagian-bagian yang ada di dalamnya, anak dapat mengamati biji yang sedang tumbuh lalu bertunas dan  menjadi kecambah
  3. Lingkungan yang membangun kreativitas anak, dengan berbagai macam bahan atau alat permainan, yang dapat dibuat sendiri oleh anak 
B.        Lingkungan nonfisik
1.    Lingkungan yang aman dan nyaman, sehingga mampu membangun rasa percaya diri anak, penuh penghargaan, cinta dan perhatian, sehingga anak merasa dihargai,  mampu mengungkapkan pikiran, ide dan perasaannya
2.    Lingkungan yang memberikan keteladanan, sehingga anak tumbuh menjadi generasi yang bermartabat.

Lingkungan fisik dan non fisik yang aman dan nyaman memungkinkan anak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. Anak yang tumbuh dan berkembang secara optimal inilah yang mampu membangun mimpi-mimpi indah anak, membangkitkan  motivasi dan spirit untuk mewujudkannya di masa depan. Mimpi-mimpi inilah yang akan membawa anak-anak Indonesia menjadi generasi yang mampu mewujudkan kehidupan yang lebih baik.
Kesuksesan berawal dari mimpi. Ketika setiap anak bermimpi untuk sukses, maka kesuksesanlah yang akan diraih, demikian pula sebaliknya. Maka dari itu, peran orang dewasa di sekitar anaklah yang sangat penting. Bila orang dewasa mampu membangun mimpi indah, maka itulah yang akan terjadi. Kreativitas, inovasi, spirit, akan terbangun. Demikian pula sebaliknya. Mari kita dukung anak-anak kita membangun mimpi-mimpinya yang indah... mulai saat ini.
(salam, Widya)

Kamis, 01 Maret 2012

SATU JAM SAJA....


Sebagai orangtua, sudah barang tentu kita mengharapkan anak yang sehat, cerdas, ceria, berakhlak mulia, tangguh serta siap menapaki kehidupan masa depan. Inilah impian kita bersama, impian orangtua, masyarakat dan bangsa ini.

Namun demikian, sebagai orangtua  - tempat pertama dan utama bagi anak untuk belajar dan bertumbuh – kita sering melalaikan tanggung jawab kita atas pendidikan anak. Kita menyerahkan begitu saja pada lembaga pendidikan, seperti sekolah, kursus atau lembaga-lembaga lainnya.  Kita menuntut lembaga tersebut untuk membuat anak-anak kita pandai, cerdas, dan mulia.

Contoh sederhana yang sering kita lalaikan adalah menemani anak bermain dan belajar. Kita mengabaikan kebutuhan mereka untuk dekat dengan kita, karena berbagai alasan, seperti kesibukan kita dalam pekerjaan kantor, pekerjaan rumah tangga, atau urusan-urusan lainnya.

Kita sulit sekali  meluangkan waktu untuk anak kita, meski hanya SATU JAM SAJA. Satu jam yang sangat bermakna bagi anak-anak, sementara kita punya banyak waktu untuk “ngerumpi”, “kongkow-kongkow”, atau melakukan aktivitas lain bersama orang lain. Sungguh sangat ironis.

Kita menghadirkan anak-anak di dunia ini untuk kita sayangi, kita perhatikan, kita penuhi dan lindungi hak-haknya, tapi ternyata kita  banyak mengabaikan. Kedekatan bersama anak dibangun sejak dini, bukan dirajut ketika mereka dewasa. Ketika kedekatan ini tidak terbangun, maka akan muncul sekat-sekat dalam hubungan kita bersama anak-anak kelak ketika mereka dewasa.

Anak-anak tidak akan terus menjadi anak-anak. Mereka akan tumbuh dewasa, memiliki sayap-sayapnya sendiri untuk terbang menjauh dari kita. Bila kita tidak memiliki ikatan yang kuat, mereka akan terbang tinggi, jauh meninggalkan kita, sehingga kita akan menjadi orangtua yang kesepian di hari tua.

Anak-anak akan berkata (dalam hati, mungkin) : AYAH BUNDA TINGGALKAN AKU, KETIKA AKU MEMBUTUHKAN, MAKA ITULAH YANG TELAH AYAH BUNDA AJARKAN PADAKU. AKUPUN AKAN PERGI KETIKA AYAH BUNDA MEMERLUKANKU.

Tentu kita semua sebagai orangtua tidak mengharapkan hal yang demikian terjadi. Maka dari itu, inilah saatnya kita merengkuh mereka, memeluknya dalam kehangatan cinta kita, menyatakan bahwa kita mencintai dan menghargainya dalam setiap detik kehidupannya.

Jadi, luangkanlah waktu untuk anak-anak kita, mata air kehidupan. Satu jam saja dari dua puluh empat jam yang kita miliki dalam sehari, tentu bukan waktu yang lama (Hanya 4,167% dari waktu kita dalam sehari).
Satu jam saja untuk menemaninya bermain dan belajar, mendengarkan jiwa dan raganya yang sedang tumbuh dan berkembang. MARI KITA MULAI DARI DETIK INI..........
(Salam, Widya)

Rabu, 29 Februari 2012

Terima Kasih, Anakku.............


Anak memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi setiap orang dewasa yang berada di sekitarnya, terutama orangtua. Anak memberikan keteladanan yang bahkan sulit diwujudkan oleh orang dewasa. Coba kita amati dan cermati benar ketika kita bersama anak-anak. Mereka menampilkan perilaku yang apa adanya, sesuai dengan tugas perkembangan pada usianya masing-masing.

Anak-anak begitu jujur dan ekspresif dalam mengemukakan pendapatnya. Mereka apa adanya, tanpa ada kepentingan yang tersembunyi di balik setiap tutur kata maupun tindakannya, sementara kita sebagai orang dewasa, sulit sekali bertindak jujur, mengucapkan sesuatu apa adanya tanpa kepentingan tersembunyi berada di baliknya.

Anak-anak bergerak, berpikir dan berkreasi sepanjang waktu, sementara kita sebagai orang dewasa sering mengeluh karena terlalu banyak beban tanggung jawab, dan enggan  berkreasi untuk menghasilkan karya-karya besar yang berharga bagi lingkungan dan bahkan dunia.

Anak-anak senantiasa tersenyum, tertawa, dan riang gembira, sementara orang dewasa lebih banyak diam, mengeluh, menangis dan bersusah hati menghadapi kehidupan.

Anak-anak mudah melupakan masalah atau pertikaian dengan teman atau orang lain, sementara orang dewasa sering memendam dendam terhadap orang lain karena hal-hal sepele.

Anak-anak senantiasa mencari pengetahuan dan pengalaman baru. Eksplorasi adalah tantangan yang menyenangkan bagi setiap anak. Sementara itu, orang dewasa cenderung menyukai stabilitas atau zona nyaman, enggan menghadapi tantangan.

Banyak sekali pelajaran berharga yang dapat kita petik dari anak-anak kita. Yang menjadi pertanyaan adalah, siapkan kita meneladani mereka? Ataukah kita akan tetap terpaku pada keangkuhan dan keakuan kita sebagai orang dewasa. Atau memang benar pepatah jawa “Kebo nusu Gudhel..?”.. 
(salam, Widya)

KARENA KITA ADALAH BANGSA INDONESIA....


Karena kita bangsa Indonesia, maka kita adalah bangsa yang besar, bangsa yang kaya. Bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki nilai-nilai religius tinggi serta akhlak mulia, yang tercermin dari pola pikir, pola tindakan dan pola bahasa atau tutur kata.

Bangsa yang kaya adalah bangsa yang mandiri, sanggup hidup di atas kemampuannya sendiri, dan bahkan memberikan warna yang indah dalam percaturan dunia. Dengan demikian, diharapkan kita mampu mencetak anak-anak bangsa yang selalu beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi luhur.

Kita diharapkan melahirkan generasi yang memiliki kekayaan hati,  rasa empati, dan memaafkan yang tinggi, sehingga mampu mencegah timbulnya tindakan yang merugikan, baik bagi diri sendiri, masyarakat, maupun bangsa dan negara.

Karena kita adalah bangsa Indonesia, maka kita adalah bangsa yang merdeka, sehingga diharapkan akan melahirkan anak-anak yang merdeka. Merdeka dari kekerasan (fisik, verbal maupun emosi), merdeka dari keterbelakangan, merdeka untuk menuntut ilmu, merdeka untuk tampil mandiri dan disiplin, merdeka untuk bermain, bereksplorasi dan berpikir.

Karena kita adalah bangsa Indonesia, maka kita adalah bangsa yang menjunjung tinggi kesantunan, sehingga anak-anak yang memiliki kesantunanlah yang ingin kita tumbuhkan. Anak-anak yang dapat menghargai dirinya, orang lain, masyarakat dan lingkungannya. Anak-anak yang akan selalu menghormati pendapat orang lain dan  menghargai hasil karya orang lain.

Karena kita adalah bangsa Indonesia, maka kitalah yang bertanggung jawab untuk menjaga dan menguatkan jati diri bangsa.

Sudahkah kita berperilaku sebagai bangsa Indonesia yang berakhlak mulia?

Selasa, 28 Februari 2012

TERIMA KASIH, BUNDA PAUD


Beberapa hari yang lalu saya berkeliling di beberapa Pos PAUD, beberapa diantaranya adalah Pos PAUD Terpencil di pelosok daerah di Jawa Timur, yang merupakan salah satu layanan pendidikan bagi anak usia 0 – 6 tahun. Pos PAUD merupakan bentuk kepedulian masyarakat terhadap pentingnya pendidikan pada usia dini. Pos PAUD dikelola oleh para kader yang ada di daerah.

Saya melihat ketulusan yang begitu dalam dari bunda PAUD dalam mendidik anak, membelajarkan mereka agar siap menapaki masa depan. Mereka rela meluangkan waktu, sementara para orangtua sibuk bergelut dengan roda perekonomian, dan sering tidak terlalu memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan anak.


Para bunda PAUD berjuang di kancah pendidikan, hanya berbekal keikhlasan dan semangat. Mereka rela menyediakan ruang-ruang kosong di rumah untuk kegiatan pembelajaran, atau berjuang mendapatkan ruang-ruang kosong di daerah mereka masing-masing (misalnya balai RW, balai desa, dan lain-lain) yang belum termanfaatkan untuk kegiatan pembelajaran. Para bunda PAUD juga sering harus menyediakan bahan-bahan pembelajaran dari uang pribadi. Bahkan, ketika acara makan bersama, misalnya, para bunda PAUD berbagi dengan bunda  PAUD lainnya untuk membawa bahan-bahan makanan, misalnya beras, krupuk, lauk pauk, sayur, buah dan sebagainya. Sungguh sebuah perjuangan yang patut dihargai. Perjuangan yang  bersandarkan pada kemauan dan tekad yang keras untuk mencerdaskan anak bangsa. Mereka inilah yang patut mendapatkan gelar “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” yang sesungguhnya.

Ketika digelar berbagai kegiatan peningkatan kompetensi, pelatihan misalnya, mereka sangat antuasias untuk mengikuti dan berburu ilmu, meski dari segi usia, banyak yang terbilang tidak muda lagi. Hal yang sangat patut kita contoh, terutama bagi generasi muda.

Acungan jempol dan ucapan terima kasih yang tiada terhingga layak diterima oleh bunda PAUD, meski mereka tak berharap hal tersebut. Pertumbuhan dan perkembangan anak yang optimal, hingga kelak menjadi generasi yang berakhlak mulia lah yang diharapkan dari kerja keras mendidik anak usia dini.

Sekali lagi, terima kasih, bunda PAUD.... Jasamu Tiada Tara..........

(Salam, Widya)

Sabtu, 25 Februari 2012

HATI-HATI, BUTA WARNA

Agaknya, kita harus mulai mewaspadai gangguan kronis yang melanda mata kita, yaitu buta warna, karena sebagian masyarakat kita ternyata terkena penyakit tersebut. Parahnya lagi, penyakit ini dapat menular kepada anak-anak.

Betapa tidak, ketika saya beberapa melalui perempatan jalan raya yang terdapat lampu lalu lintas, ternyata banyak orang yang tidak sabar dan menyerobot ketika lampu berwarna merah sebagai tanda untuk berhenti sejenak. Saya bertanya dalam hati, adakah masyarakat kita mengalami buta warna, sehingga tidak dapat membedakan warna merah, hijau dan kuning? Yang lebih parah lagi, perbuatan tersebut dilihat oleh anak-anak. Mereka mungkin berkata dalam hati, "kalau begitu, peraturan memang boleh dilanggar, karena banyk orang dewasa yang melakukannya". Sungguh, perilaku tersebut akan cepat menular kepada anak-anak, karena salah satu cara mereka belajar adalah dengan meniru.

Beberapa waktu yang lalu, saya juga melintasi jalan dengan rambu lalu lintas bertuliskan, "Belok Kiri Mengikuti Isyarat Lampu", namun ketika lampu lalu lintas berwarna merah, beberapa kendaraan juga dengan santai mengabaikan peringatan tersebut. "Waduh, kalau begitu, selain buta warna, buta huruf juga melanda sebagian masyarakat kita".

Tidak berhenti sampai di sini. Ketika saya melanjutkan perjalanan, ada tanda dilarang belok, dan ternyata beberapa kendaraan pun belok melalui jalan tersebut "Wah, ternyata tambah parah penyakitnya. Ada tambahan buta simbol atau buta tanda. Penyakit kronis plus komplikasi. Parah sekali".

Saya pikir, inilah saatnya kita mengoreksi diri, bila kita memimpikan lingkungan yang tertib, aman dan nyaman, serta generasi yang memiliki disiplin tinggi.

Sanggupkah kita?......?!?!?!?!?!
(Surabaya, 26 Pebruari 2012;  Salam, Widya)
   

Kamis, 23 Februari 2012

Membangun Karakter, Tugas Mulia yang Mendesak


Karakter mulia suatu bangsa hanya dapat terpelihara ketika masyarakat dalam bangsa tersebut melestarikannya. Salah satu cara untuk melestarikan adalah melalui pendidikan, yang dimulai dari pendidikan anak usia dini. Pada usia dini, terjadi proses pembentukan karakter, sehingga setiap orang dewasa hendaknya menunjukkan karakter mulia, karena anak usia dini belajar melalui melalui keteladanan dan pembiasaan. Orang dewasa yang memegang peranan penting adalah orangtua, baik orangtua kandung maupun orangtua “sosial” (dalam hal ini masyarakat, termasuk pendidik).
Karakter mulia merupakan implementasi nilai-nilai karakter luhur, yang diharapkan membawa bangsa ini menjadi bangsa yang besar, bangsa yang berbudi luhur. Dalam pendidikan anak usia dini, terdapat 15 nilai karakter yang telah dikembangkan, yaitu:
1          1.       Kecintaan terhadap Tuhan YME
2          2.       Kejujuran
3          3.       Disiplin
4          4.      Toleransi dan cinta damai
5          5.       Percaya diri
6          6.       Mandiri
7          7.       Tolong menolong, kerjasama, dan gotong royong
8          8.       Hormat dan sopan santun
9          9.       Tanggung jawab
1          10.   Kerja keras
1          11.   Kepemimpinan dan keadilan
1          12.   Kreatif
1          13.   Rendah hati
1          14.   Peduli lingkungan
1          15.   Cinta bangsa dan tanah air
Agar nilai-nilai tersebut terinternalisasi pada diri anak, maka sudah seyogyanyalah kita sebagai orangtua menginternalisasikan terlebih dahulu nilai-nilai tersebut. Hal yang selanjutnya perlu kita renungkan adalah, sudahkan keseluruhan perilaku kita mencerminkan keseluruhan nilai-nilai tersebut? Apabila jawaban belum, sanggupkah kita mengubah diri kita, demi pembangunan karakter anak-anak kita dan menyelamatkan bangsa ini?
(Surabaya, 24 Pebruari 2012; Salam, Widya)