Jumat, 09 Desember 2011

Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini


Ketika bayi dilahirkan ke dunia, dia memerlukan interaksi dengan orang lain. Interaksi inilah dasar bagi perkembangan sosial emosional seorang anak. Ketika dia berinteraksi, berbagai pengetahuan dan pengalaman baru terbentuk dan dikuatkan. Anak memperkaya bahasa dan kemampuan komunikasinya berkat adanya interaksi sosial. Dalam perkembangannya, anak mempelajari  berbagai aturan, norma dan nilai, juga melalui interaksi sosial.

Interaksi sosial yang sehat dan positif membantu meningkatkan perkembangan sosial emosional yang baik. Ketika kita berbicara masalah sosial emosional, ada dua hal yang terlibat, yaitu hubungan sosial dan perkembangan emosi. Hubungan sosial menyangkut hubungan anak dengan orang lain di sekitarnya, termasuk orangtua, teman sebaya, saudara kandung ataupun orang dewasa lainnya. Anak perlu memiliki hubungan sosial yang luas sehingga mudah menyesuaikan diri. Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah meningkatkan frekuensi bermain dengan teman sebaya. Interaksi anak dengan teman sebaya dapat mengurangi sifat egosentris anak, serta memahami berbagai aturan sosial.

Emosi merupakan suatu konseptualisasi yang sangat penting dalam ranah perkembangan anak. Mendefinisikan emosi tidaklah mudah, tetapi beberapa ahli menyatakan bahwa emosi merupakan perasaan atau afeksi yang timbul ketika seseorang sedang berada dalam suatu keadaan atau suatu interaksi yang dianggap penting olehnya, terutama well being dirinya (Campos, 2004; Saarni, dkk, 2006).

Kemampuan pengendalian emosi sangatlah diperlukan dalam interaksi sosial, dan pada anak usia dini sedang dalam proses perkembangan, sehingga sering terlihat kecenderungan tidak stabil. Ketidakstabilan tersebut tampak dari ekspresi yang mudah dan cepat sekali berubah. Sebagai contoh, seorang anak dapat tertawa terbahak-bahak, padahal baru saja menangis meraung-raugn. Oleh karena itu, anak perlu dibekali kemampuan mengendalikan emosi melalui contoh yang baik serta pembiasaan sejak dini.

Contoh yang baik ini berasal dari orang yang ada di dekat anak, seperti orangtua, guru, saudara atau orang dewasa lain. Apabila anak dikelilingi oleh orang-orang yang memiliki pengendalian emosi yang baik, maka dia akan memiliki kecenderungan pengendalian emosi yang baik, demikian pula sebaliknya. Oleh karena itu, kita sebagai orang dewasa yang erat berinteraksi dengan anak hendaklah memiliki kematangan dalam pengendalian emosi, sehingga dapat menjadi contoh yang baik bagi anak-anak.
(Surabaya, 10 Desember 2011; Salam, Widya)

Rabu, 07 Desember 2011

Pengembangan Bahasa, Matematika dan Sains pada Anak Usia Dini



 Pengalaman awal seorang anak dimulai dengan bahasa dan stimulasi terhadap anak sangat erat dengan “kesadaran bahasa”, yaitu melalui interaksi verbal yang responsif, buku, cerita, lagu, dan permainan, yang ini mempengaruhi kemampuan anak dalam membaca dan menulis (Arnqist, 2000). Anak-anak “mempelajari bahasa melalui aktivitas sehari-hari” (Novick, 1999/2000, p.70).

Perkembangan bahasa atau komunikasi pada anak merupakan salah satu aspek dari tahapan perkembangan anak yang penting dan pemerolehan bahasa pada anak merupakan prestasi manusia yang paling hebat dan menakjubkan. Oleh sebab itulah hal ini mendapat perhatian besar dari para ahli. Pemerolehan bahasa telah ditelaah secara intensif sejak lama. Pada saat itu kita telah mempelajari banyak hal mengenai cara atau proses ketika anak berbicara, mengerti, dan menggunakan bahasa, tetapi sangat sedikit hal yang kita ketahui mengenai proses aktual perkembangan bahasa.

Bahasa merupakan alat untuk berpikir, mengekspresikan diri, dan melakukan komunikasi sosial. Bahasa memberikan kekuatan kepada anak untuk membangun hubungan, menyelesaikan masalah dan mengekspresikan perasaan (Novick, 1999/2000). Bahasa digunakan anak dalam berkomunikasi dan beradaptasi dengan lingkungannya yang dilakukan untuk bertukar gagasan, pikiran dan emosi. Bahasa bisa diekspresikan melalui bicara yang mengacu pada simbol verbal.

Penguasaan bahasa yang baik sangat penting bagi perkembangan anak, karena untuk mengembangkan kemampuan dalam pengorganisasian, klasifikasi, kategorisasi dan memahami konsep, anak harus  memiliki kosakata yang luas dan cukup, sehingga dapat mengekspresikan ide, pengetahuan dan pengalamannya dengan baik.

Penguasaan bahasa merupakan aspek yang sangat penting bagi anak untuk memulai pendidikan dasar (Eliason, 2008), sehingga harus diperhatikan secara serius sejak usia dini. Untuk mencapai optimalisasi perkembangan bahasa, hendaknya anak berada dalam lingkungan yang kaya bahasa dan keleluasaan untuk menyampaikan pendapat, ide, pengalaman, maupun ekspresi perasaan.

Di samping pengembangan bahasa, aspek lainnya adalah pengembangan kemampuan berpikir matematis. Kemampuan ini merupakan salah satu aspek penting dalam proses penyiapan anak usia dini dalam rangka memasuki jenjang pendidikan dasar. Oleh karena itu, perlu pembelajaran matematika yang berkualitas, yang sesungguhnya identik dengan tantangan dan kesenangan, bukan tekanan, dan hal ini lebih luas serta lebih mendalam dibanding sekedar penghitungan dan penambahan (Clements, 2001, p.270).  Pembelajaran matematika hendaknya merupakan proses yang menyenangkan bagi anak, sehingga memacu anak untuk dapat mengimplementasikannya dalam aspek-aspek lainnya.

Perkembangan dan pembelajaran matematika hendaknya dapat dilihat sebagaimana perkembangan keaksaraan, karena konsep matematika dikembangkan melalui latihan dan stimulasi yang tepat (Geist, 2001). Mengembangkan pemahaman mengenai matematika dapat dicapai dengan baik ketika anak dilatih untuk mengemukakan alasan, memecahkan masalah dan mengkomunikasikan ide-idenya kepada orang lain (Wood, 2001).

Di samping pengembangan bahasa dan matematika sebagaimana diuraikan di atas, aspek lainnya yang tidak kalah penting adalah sains. Hal ini terutama disebabkan oleh rasa ingin tahu pada anak yang sangat tinggi dan alami, sehingga pembelajaran sains sebaiknya dilakukan pada anak sejak dini (Buchanan dan Rios, 2004). Anak penuh dengan ketakjuban serta keinginan untuk mengeksplorasi dan mempelajari lingkungan di sekelilingnya. 

Setiap anak pada hampir setiap lingkungan  melakukan kegiatan sains pada sebagian besar waktunya, membangun pengalaman mengenai lingkungan sekitar dan mengembangkan teori tentang cara kerja, peristiwa dan proses yang ada di sekitar anak (Conezio dan French, 2002, p.12). Dengan dukungan dan bantuan dari pendidik, keingintahuan alami anak dapat diarahkan pada aktivitas penemuan dan eksplorasi (Conezio dan French, 2002). Ketika melakukan eksplorasi, anak mendapatkan pengetahuan, pemahaman dan pengalaman baru, yang sangat berguna dalam memahami lingkungan sekitar serta mengembangkan kepekaan dan kepedulian anak.

Pengembangan bahasa, matematika dan sains diintegrasikan dalam kegiatan anak sehari-hari. Dengan demikian, anak dapat melakukan eksplorasi, menentukan aktivitas, dan mengembangkan potensinya. (Salam, Widya)


Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini




Pendidikan anak usia dini merupakan upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak usia 0 (sejak lahir) sampai dengan 6 tahun, agar tumbuh dan berkembang secara optimal, siap dalam memasuki jenjang pendidikan selanjutnya, serta menjadi manusia paripurna yang handal. Dengan demikian, kelak dapat tumbuh menjadi generasi yang tangguh, cerdas, beradab dan berakhlak mulia. Dalam upaya menyiapkan generasi unggul tersebut diperlukan stimulasi pendidikan yang tepat, sesuai dengan kebutuhan, karakteristik, serta tahap perkembangan anak.
Dalam perkembangannya, anak memperoleh berbagai stimulasi pendidikan, dan salah satunya dilakukan di lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD). Di lembaga PAUD anak belajar melalui bermain, sehingga suasana pembelajaran menyenangkan dan sesuai dengan dunia anak, yaitu bermain. Melalui pembelajaran yang menyenangkan anak dapat menyerap informasi sehingga mencapai tingkat perkembangan sesuai dengan usia, baik usia kronologis maupun usia mental anak.
Dengan demikian, fokus pembelajaran adalah anak, bukan pendidik, pengelola, orangtua, maupun pihak lain, sehingga pertimbangan utama dalam pemberian stimulasi adalah kepentingan terbaik anak. Kepentingan terbaik anak berarti mengedepankan optimalisasi seluruh potensi anak dengan memperhatikan karakteristik dan tahap pertumbuhan serta perkembangan.
Namun demikian, fenomena di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak lembaga PAUD yang tidak atau kurang tepat dalam memberikan stimulasi pendidikan, baik dalam hal materi, metode, tuntutan kompetensi anak, maupun suasana pembelajaran. Stimulasi pendidikan masih lebih banyak menonjolkan aspek kognitif, yang dalam implementasinya salah satunya adalah mengajarkan membaca, menulis dan berhitung dalam usia anak yang terlalu dini.
Pembelajaran membaca, menulis dan berhitung tersebut dalam pelaksanaannya seringkali kurang mempertimbangkan tingkat perkembangan anak dan metode yang sesuai dengan karakteristik anak serta erat dikaitkan dengan tuntutan kompetensi ketika memasuki jenjang pendidikan dasar. Di samping itu, pembelajaran tersebut dilaksanakan karena tuntutan orangtua, yaitu bahwa pembelajaran pada anak usia dini dikatakan berhasil apabila anak mampu membaca, menulis dan berhitung dengan lancar, tidak peduli seberapa dini usia anak. Pada akhirnya, anak sering dihadapkan pada suasana pembelajaran yang tidak atau kurang menyenangkan.
Oleh karena itu, perlu adanya perubahan mindset dalam pengembangan pendidikan anak usia dini. Pendidikan pada anak usia dini hendaknya ditujukan pada pengembangan seluruh aspek perkembangan, antara lain nilai-nilai agama dan moral, sosial emosional, kognitif, bahasa serta fisik, agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.


Surabaya 7 Desember 2011
Salam, Widya

Selasa, 22 November 2011

MENYELAMATKAN GENERASI SEJAK DINI



Berbagai persoalan yang cukup mendasar tengah melanda negara kita, mulai dari bencana alam yang memang berada di luar jangkauan manusia sampai dengan dekadensi moral yang sebenarnya bisa dicegah. Persoalan ini tengah merambah seluruh pelosok negeri ini, tak terkecuali Kota Surabaya yang merupakan kota metropolitan terbesar kedua setelah Jakarta. Kita begitu miris setiap kali membaca koran atau mendengar dan melihat berita di media massa. Pabrik ektasi misalnya, ternyata banyak berada di tengah-tengah masyarakat yang  pada awalnya tak pernah kita duga. Generasi kita banyak yang terjebak dalam kehidupan narkoba, tindak kriminal, dan sebagainya. Ini merupakan indikator proses menuju pada kehancuran generasi, yang pada akhirnya akan dapat menghancurkan bangsa ini. 

Fenomena ini membuat kita tak pernah dapat tidur nyenyak setiap hari, terutama apabila mengingat bahwa putra-putri kita sedang berkembang dan berada di tengah-tengah masyarakat yang begitu sarat dengan persoalan. Ancaman kerusakan berada begitu dekat dengan mereka. Berbagai persoalan hidup yang semakin kompleks ini menuntut kemampuan individu untuk menghadapi dan memecahkan persolan ini sehingga dapat tetap bertahan dan berkembang. Maka dari itu, anak-anak kita perlu dibekali dengan kemampuan untuk itu sejak dini.

Mengapa demikian? Ini karena usia dini merupakan periode awal dari perkembangan setiap individu. Masa dini usia merupakan periode emas (golden age) bagi perkembangan anak. Periode emas ini sekaligus periode kritis bagi anak, karena perkembangan yang didapat pada periode ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan pada periode berikutnya hingga masa dewasa.

Ahli psikologi perkembangan, Bredekamp, et all (1997:97) mengungkapkan bahwa pemberian pendidikan pada anak usia dini diakui sebagai periode yang sangat penting dalam membangun sumber daya manusia dan periode ini hanya datang sekali dalam kehidupan serta tidak dapat diulang lagi. Bekal yang diberikan pada usia ini meruipakan fondasi bagi kehidupannya kelak.

Salah satu bekal yang dapat kita berikan adalah memberikan pendidikan kecakapan hidup (life skills). Dengan bekal ini anak-anak dipersiapkan untuk memasuki jenjang pendidikan selanjutnya yang kelak diharapkan dapat menjadi individu yang sukses, warga masyarakat dan warga negara yang berhasil serta makhluk Tuhan yang memiliki integritas, keimanan dan ketaqwaan.

Apakah sebenarnya kecakapan hidup itu? Kecakapan hidup merupakan sebuah bentuk kecakapan yang dapat menunjang kehidupan seorang manusia agar tetap survive dalam kondisi apapun, bahkan dapat selalu meningkatkan kualitas hidupnya. Kecakapan hidup bukan sekedar keterampilan yang diperlukan untuk bekerja, akan tetapi lebih dari itu. Dengan demikian, seseorang yang tidak bekerja pun tetap memerlukan kecakapan hidup, bahkan anak-anak yang baru lahir pun memerlukan kecakapan hidup sesuai dengan usianya.

Kecakapan hidup ini merupakan bekal yang sangat penting bagi seseorang untuk menjalani kehidupan, karena merupakan kecakapan yang dimiliki oleh seseorang untuk berani menghadapi dan memecahkan segala permasalahan kehidupan secara wajar tanpa adanya perasaan tertekan serta selalu aktif, proaktif dan kreatif dalam menjalani aktivitas hidupnya, sehingga setiap saat dan setiap waktu produktivitas seseorang senantiasa dalam kondisi prima.

Kecakapan hidup secara garis besar dapat dipilah menjadi kecakapan hidup generik atau umum (general life skills) dan kecakapan hidup spesifik (specific life skills), yang dapat dirinci sebagai berikut.
1.      Kecakapan hidup generik atau umum
a.       Kecakapan hidup personal untuk mengenal diri dan berpikir rasional
b.      Kecakapan sosial
2.      Kecakapan hidup spesifik  
a.       Kecakapan akademik, yaitu kemampuan untuk mengidentifikasi dan menemukan hubungan antar variabel, merumuskan hipotesis, dan merancang serta melaksanakan penelitian untuk membuktian suatu gagasan, ide atau untuk menjawab rasa ingin tahu
b.      Kecakapan vokasional

Kecakapan hidup yang bersifat umum diperlukan oleh siapa saja, dari segala lapisan usia, baik yang bekerja maupun yang tidak bekerja. Kecakapan hidup yang bersifat spesifik atau khusus diperlukan untuk menghadapi dan memecahkan permasalahan yang bersifat khusus.

Kecakapan untuk mengenal diri merupakan kecakapan hidup untuk mengenal diri sendiri sebagai makhluk Tuhan, termasuk melakukan instropeksi diri dan memahami kekurangan serta kelebihan diri. Termasuk di dalamnya kemampuan untuk mengelola emosi dalam menghadapi perubahan lingkungan. Kecakapan hidup ini sangat penting artinya untuk mengenali potensi diri guna aktualisasi diri selanjutnya.

Kecakapan berpikir rasional merupakan kecakapan untuk berpikir sebab akibat, baik dalam arti abstrak maupun konkret, termasuk di dalamnya untuk menemukan, menggali dan mengolah data menjadi sebuah informasi yang penting. Kecakapan hidup ini juga merupakan kecakapan untuk menghadapi serta memecahkan masalah dengan tepat tanpa adanya perasaan tertekan.  Kecakapan sosial merupakan kecakapan untuk berinteraksi dengan orang lain atau lingkungan sosial, termasuk di dalamnya kemampuan untuk berkomunikasi dan bekerja sama dengan orang lain. Oleh karena itu, kecakapan ini menuntut adanya pengembangan empati, sikap penuh pengertian, saling membantu dan  saling menghargai. Kecakapan akademik merupakan pengembangan kecakapan berpikir rasional, akan tetapi sudah menjurus pada hal-hal yang bersifat, akademik, ilmiah dan keilmuan. Kecakapan vokasional merupakan kecakapan yang dikaitkan dengan bidang pekerjaan tertentu di masyarakat.

Anak usia dini perlu dibekali dengan kecakapan hidup sejak sehingga siap dalam memasuki jenjang pendidikan dan tahap kehidupan selanjutnya. (Sby, 23 November 2011. Salam, Widya Ayu)

Contoh sederhana :
Apakah anda terbiasa menempatkan sepatu / sandal setelah dipakai di tempatnya (rak sepatu/sandal)?
Apakah anda terbiasa menaruh handuk pada tempatnya setelah mandi?
Apakah anda selalu terbiasa mendengarkan, atau bahkan terbiasa menyela pembicaraan?
Apakah anda selalu berbagi dalam semua hal?
Apakah anda  berani tampil kedepan dengan mengungkapan ide-ide baru?
Apakah anda selalu berdo’a sebelum/sesudah melakukan aktifitas?
Dan sebagainya..dan sebagainya?
 Coba anda ingat-ingat..kebiasaan mana yang telah anda lakukan sejak masih kecil hingga saat ini?.. itulah kecakapan hidup yang telah tertanam dalam alam bawah sadar  anda sejak  masih kecil.


Senin, 21 November 2011

ORIENTASI PENDIDIKAN KECAKAPAN HIDUP PADA ANAK USIA DINI


Pendidikan kecakapan hidup pada anak usia dini paling tidak harus berorientasi pada tiga hal, yaitu :

1.      Pengembangan keterampilan
Pengembangan keterampilan adalah gabungan antara pengetahuan dan keterampilan fakultatif (seperti menggambar, mencoret, mewarna) dengan keterampilan sosial emosional untuk mengaplikasikan keterampilan fakultatif tersebut dalam sebuah perilaku perilaku tertentu.

2.      Penekanan terhadap kompetensi psikososial
WHO menyebutkan bahwa kompetensi psikososial dalam kecakapan hidup mencakup:
a.       Empati – kesadaran diri
Empati merupakan kemampuan untuk merasakan sesuatu yang dirasakan oleh orang lain. Dengan demikian anak mampu merasakan atau peka terhadap perasaan teman, orang tua, guru yang orang lain yang ada di sekitarnya. Kemampuan ini harus didukung oleh kemampuan untuk mengenal diri sendiri, mengenal kekurangan dan kelebihan diri, sehingga dapat mengenal orang lain dari sudut pandang orang lain.
b.      Komunikasi – hubungan interpersonal
Kemampuan berkomunikasi hendaknya dikembangkan sejak usia dini, karena merupakan proses pengembangan interaksi dengan orang lain sehingga pengembangannya harus dilakukan bersama-sama dengan kemampuan untuk melakukan hubungan interpersonal.
c.       Pengambilan keputusan – pemecahan masalah (problem solving)
Permasalahan yang pasti akan dihadapi oleh anak-anak kita di masa mendatang adalah banyaknya pilihan mengenai berbagai hal, mulai dari yang paling sederhana hingga yang paling kompleks. Maka dari itu anak-anak perlu kita bekali dengan kemampuan untuk mengambil atau menentukan pilihan yang terbaik. Untuk itulah mereka kita bekali dengan kecakapan pengambilan keputusan. Di samping itu, anak-anak juga akan menghadapi banyak permasalahan yang perlu dipecahkan, sehingga bekal kemampuan pemecahan masalah amatlah diperlukan.
d.      Berpikir kreatif – berpikir kritis
Berpikir kreatif sangat diperlukan dalam menghadapi segala situasi dan kondisi, terutama pada saat  menghadapi dan memecahkan masalah. Berpikir kreatif memberikan bekal kepada anak-anak untuk melihat segala sesuatu dari berbagai sudut pandang tanpa merasa takut salah. Ini memberikan bekal bagi anak-anak untuk tetap bertahan. Demikian pula dengan pola pikir kritis. Kemampuan berpikir kritis memberikan bekal kepada anak-anak untuk dapat memilah yang benar dan salah serta yang relevan dan tidak.
e.       Mampu menanggulangi masalah-masalah emosional – mengatasi stres
Seringkali permasalahan bukan hanya berkaitan dengan logika, tetapi juga dengan emosi. Kematangan emosi anak-anak akan sangat membantu mereka dalam menanggulangi stres, sehingga kualitas hidup mereka tidak terganggu tetapi bahkan menjadi lebih baik.

3.      Adanya partisipasi aktif anak
Partisipasi aktif  ini dikembangkan terutama untuk menumbuhkan ketegaran mental emosional yang ditunjukkan dengan rasa percaya diri dan sikap untuk menghargai diri sendiri. Dengan demikian pendidikan kecakapan hidup tidak hanya mengembangkan kemampuan kognitif, tetapi juga mengembangkan sikap dan perilaku mereka.

Pendidikan kecakapan hidup dapat diberikan di keluarga ataupun lembaga pendidikan anak usia dini, misalnya di kelompok bermain, taman penitipan anak, taman-kanak-kanak, ataupun lembaga sejenis.
Melalui pendidikan kecakapan hidup pada usia dini diharapkan kelak anak akan lebih siap dalam menghadapi permasalahan di masyarakat, sehingga tidak akan terbawa arus, misalnya terjerat dalam kehidupan narkoba atau kehidupan yang bersifat destruktif lainnya, terutama di kota besar yang penuh dengan kompleksitas masalah ini. Dengan demikian generasi bangsa dan masa depan bangsa ini dapat terselamatkan. ( Sby, 22 November 2011 --Salam, Widya )

Kamis, 17 November 2011


Sepenggal Catatan Perjalanan-1
Perkembangan Motorik Anak

Yogya, Nopember 2011

Saya berkunjung ke lembaga PAUD ketika anak-anak baru saja datang. Wajah-wajah mereka yang cerah penuh kegembiraan memasuki halaman sekolah, bertegur sapa dengan teman-teman dan menyimpan barang bawaan di loker.

Beberapa saat kemudian, waktu memasuki kelas tiba. Anak-anak berbaris dalam lingkaran, bernyanyi, kemudian membentuk barisan kereta api dan masuk ke kelas masing-masing dengan didampingi oleh dua orang guru.

Anak-anak kemudian diajak duduk melingkar dan guru menanyakan kabar masing-masing anak hari itu, sambil mencatat jumlah kehadiran anak. Ternyata, pada hari itu, semua anak di kelompok TK B hadir. Setelah itu, guru mengajak anak-anak berdoa.

Setelah berdoa, anak-anak diajak melakukan kegiatan untuk meningkatkan keterampilan motorik kasar. Kegiatannya adalah bermain lempar bola. Sebelum melakukan bersama anak-anak, dua orang guru memberikan contoh cara melempar dan menangkap bola. Anak-anak bertepuk tangan sambil menyemangati kedua guru mereka yang sedang bermain lempar bola.

Setelah guru selesai memberi contoh, guru melempar bola kepada anak, yang sebelumnya dipanggil namanya agar bersiap-siap. Pada akhirnya, semua anak mendapatkan giliran melempar dan menerima bola. Ternyata, meskipun rata-rata usianya sama, tidak semua anak dapat melempar dan menerima bola dengan baik.

Hal tersebut menunjukkan bahwa perkembangan motorik kasar anak berbeda-beda, sehingga setiap anak memerlukan stimulasi yang berbeda-beda.

Keterampilan  motorik kasar berkaitan dengan kemampuan anak untuk berjalan, berlari, melompat, meloncat. Keterampilan ini dapat ditingkatkan melalui berbagai aktivitas, antara lain bermain lempar bola, lompat tali, berjalan berjinjit, bersenam, ataupun aktivitas lain yang dapat dikembangkan bersama-sama anak.

Stimulasi yang tepat dapat meningkatkan kecakapan motorik kasar. Kecakapan motorik kasar yang baik membantu anak melakukan aktivitas sehari, terutama dalam melakukan eksplorasi lingkungan dan bersosialisasi.

Anak yang terbiasa melakukan kegiatan motorik kasar, memiliki stamina dan kesehatan yang baik, serta memiliki otot-otot tubuh dan tulang yang kuat. Anak yang sehat dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan usianya.

Oleh karena itu, kita sebagai orangtua hendaknya meluangkan waktu untuk melakukan berbagai aktivitas motorik kasar dengan anak, minimal 30 menit sehari. Selain meningkatkan kecakapan, kesehatan dan stamina anak, juga membangun hubungan emosional yang lebih erat dengan anak.

Jadi, mari kita bermain dengan anak-anak kita, karena mereka sangat memerlukan, demi kesehatan fisik, psikis dan sosial mereka.

(Salam, Widya Ayu)

Selasa, 15 November 2011


Beyond Centre and Circle Time

Repost dari blog http://paud-usia-dini.blogspot.com tgl. 16 Juni 2008 
Penulis : Widya Ayu Puspita., SKM., M.Kes

Bermain adalah dunia anak dan bukan hanya sekedar memberikan kesenangan, akan tetapi juga memiliki manfaat yang sangat besar bagi anak. Lewat kegiatan bermain yang positif, anak bisa menggunakan otot tubuhnya, menstimulasi penginderaannya, menjelajahi dunia sekitarnya, dan mengenali lingkungan tempat ia tinggal termasuk mengenali dirinya sendiri.

Kemampuan fisik anak semakin terlatih, begitu pula dengan kemampuan kognitif dan kemampuannya untuk bersosialisasi. Dalam bahasa sederhana, bermain akan mengasah kecerdasannya.
Metode sentra dan lingkaran merupakan salah satu metode pembelajaran dalam pendidikan anak usia dini yang mengedepankan konsep bermain bagi anak, sehingga pertumbuhan dan perkembangannya optimal. Dalam metode ini, alat-alat dan bahan-bahan main dikelompokkan dalam beberapa sentra sesuai dengan kebutuhan.

Sentra persiapan merupakan salah satu sentra yang mengasaha kemampuan kognitif dan motorik halus pada anak. Dengan demikian, saya menyambut baik kehadiran bahan belajar ini sebagai pendukung bagi pendidik anak usia dini dalam mengembangkan sentra persiapan lebih lanjut. Bermain bukan hanya sekadar memberikan kesenangan, tapi juga bermanfaat besar bagi anak. Lewat kegiatan bermain yang positif, anak bisa menggunakan otot tubuhnya, menstimulasi penginderaannya, menjelajahi dunia sekitarnya, dan mengenali lingkungan tempat ia tinggal termasuk mengenali dirinya sendiri. Kemampuan fisik anak semakin terlatih, begitu pula dengan kemampuan kognitif dan kemampuannya untuk bersosialisasi. Dalam bahasa sederhana, bermain membuatnya mengasah kecerdasannya.

Setiap anak pada dasarnya cerdas. Akan tetapi, kecerdasan tidak semata-mata merujuk kepada kecerdasan intelektual saja, atau lebih dikenal dengan istilah IQ. Ada pula kecerdasan majemuk (multiple intelligences) seperti kecerdasan bahasa, logika matematika, visual spasial, musik, kinestetik, interpersonal, intrapersonal, natural dan moral. Setiap anak memiliki kesembilan kecerdasan ini meski dengan taraf yang berbeda-beda.
Bermain merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk mengembangkan potensi dan multiple intelligences anak karena melalui kegiatan bermain ia akan lebih mudah menyerap informasi dan pengalaman.
Dengan bermain, berdasarkan riset penelitian yang ada, anak ternyata menjadi lebih cerdas, emosi dan kecerdasan anak pun meningkat. Anak juga jadi lebih peka akan kebutuhan dan nilai yang dimiliki orang lain. Bermain bersama teman juga memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk menyesuaikan perilaku mereka dengan orang lain. Hebatnya lagi, anak juga mampu menghargai perbedaan di antara mereka.
Bermain merupakan jendela perkembangan anak. Lewat kegiatan bermain aspek perkembangan anak bisa ditumbuhkan secara optimal dan maksimal. Membiarkan anak-anak usia pra sekolah bermain telah terbukti mampu meningkatkan perkembangan mental dan kecerdasan anak, bahkan jika anak tersebut mengalami malnutrisi.

Lancet Medical Journal baru-baru ini menyebutkan bahwa ada beberapa penelitian yang menemukan kaitan antara kecerdasan dan kegiatan bermain anak. Program kegiatan bermain untuk anak-anak kekurangan gizi di Bangladesh terbukti meningkatkan IQ mereka sampai 9 poin (Sally McGregor, 2006) dari Institute of Child Health at University College London. Malnutrisi atau kekurangan gizi sudah suatu masalah, namun malnutrisi tanpa stimulasi bagi perkembangan mental merupakan masalah yang jauh lebih besar. Juga dilaporkan dalam jurnal tersebut bahwa lebih dari 200 juta anak miskin di dunia kekurangan gizi. Sekitar 89 juta di antaranya ada di Asia Selatan dan 145 juta lainnya ada di negara India, Nigeria, China, Bangladesh, Ethiopia, Pakistan, Congo, Uganda, Tanzania, dan Indonesia.

Disimpulkan oleh para periset bahwa untuk meningkatkan kecerdasan anak-anak miskin tersebut bisa dilakukan dengan tindakan intervensi sederhana, yakni mendorong anak-anak untuk banyak bermain di rumah serta tentu saja meningkatkan kadar gizi mereka. Selama ini masyarakat terlalu memfokuskan untuk mengurangi angka kematian, tapi mereka sering lupa kalau banyak anak-anak yang terancam tidak bisa mencapai kecerdasan optimal, setelah duduk di kelas 5 atau 6 SD, kesempatan mereka untuk memperbaikinya sudah tipis.

Ditambahkan oleh Mc. Gregor, 2006, di sebuah daerah di Jamaica, anak-anak dari keluarga miskin diberi bantuan mainan yang bisa dimainkan sendiri di rumah, lalu perkembangan mereka dipantau sampai berusia 18 tahun. Tingkat IQ mereka lebih baik, kemampuan bacanya baik dan jarang yang drop-out dari sekolah, selain itu kesehatan mental anak-anak itu juga baik, mereka tidak depresi dan lebih percaya diri.
Sudah saatnya apabila kita semua, terutama para orang tua menyadari bahwa kegiatan bermain bukanlah kegiatan tak berguna dan hanya membuang waktu. Bermain selain merupakan hak asasi anak, juga diperlukan untuk meningkatkan kemampuan mereka (Kompas, 05 Januari 2007).

Selama ini perkembangan kecerdasan anak hanya dipandang dari kecerdasan intelektual saja, namun seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan para peneliti kecerdasan memunculkan teori baru tentang multiple intelligence. Teori tersebut menjadi dasar bagi beragamnya metode pembelajaran baik formal maupun non formal. Ragam metode pembelajaran tersebut bisa dilihat dari maraknya sekolah yang memunculkan berbagai keunggulan sekolah. Pada dasarnya metode belajar baik formal maupun non formal mengacu kepada bagaimana si anak dapat berkembang sesuai dengan minat dan bakatnya. Tugas pendidik dan orang tua adalah membidani pengetahuan yang sudah ada dalam diri anak agar tereksplorasi secara alamiah.
Pendidikan bagi anak usia dini seharusnya dapat menyeimbangkan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik serta memberikan pendidikan dari segi moral dan sensitivitas anak terhadap permasalahan sosial. Permainan yang disajikan bagi anak usia dini harus lebih kreatif lagi. Seiring dengan perkembangan budaya, permainan yang berkembang dalam diri anak sudah bergeser. Tidak salah jika anak sudah meninggalkan permainan tradisional daerah karena budaya permainan yang berbasis teknologi terus berkembang. Untuk itu tetap harus memperkenalkan permainan tradisional daerah, selain anak mempunyai variatif permainan juga untuk mewariskan khazanah budaya yang berjuta pesona.

Untuk memfasilitasi anak agar memiliki kesempatan bermain yang cukup, pendidikan anak usia dini salah satunya dikembangkan dengan menggunakan metode sentra dan lingkaran yang diadopsi dari metode BCCT (Beyond Centre and Circle Time). Dalam metode ini, pembelajaran dibagi dalam bentuk sentra. Salah satu sentra yang ada adalah sentra persiapan. Sentra ini merupakan ”bengkel kerja” bagi anak-anak guna mengoptimalkan kemampuan keaksaraan pada anak sejak dini.

(salam., Widya Ayu)