Selasa, 22 November 2011

MENYELAMATKAN GENERASI SEJAK DINI



Berbagai persoalan yang cukup mendasar tengah melanda negara kita, mulai dari bencana alam yang memang berada di luar jangkauan manusia sampai dengan dekadensi moral yang sebenarnya bisa dicegah. Persoalan ini tengah merambah seluruh pelosok negeri ini, tak terkecuali Kota Surabaya yang merupakan kota metropolitan terbesar kedua setelah Jakarta. Kita begitu miris setiap kali membaca koran atau mendengar dan melihat berita di media massa. Pabrik ektasi misalnya, ternyata banyak berada di tengah-tengah masyarakat yang  pada awalnya tak pernah kita duga. Generasi kita banyak yang terjebak dalam kehidupan narkoba, tindak kriminal, dan sebagainya. Ini merupakan indikator proses menuju pada kehancuran generasi, yang pada akhirnya akan dapat menghancurkan bangsa ini. 

Fenomena ini membuat kita tak pernah dapat tidur nyenyak setiap hari, terutama apabila mengingat bahwa putra-putri kita sedang berkembang dan berada di tengah-tengah masyarakat yang begitu sarat dengan persoalan. Ancaman kerusakan berada begitu dekat dengan mereka. Berbagai persoalan hidup yang semakin kompleks ini menuntut kemampuan individu untuk menghadapi dan memecahkan persolan ini sehingga dapat tetap bertahan dan berkembang. Maka dari itu, anak-anak kita perlu dibekali dengan kemampuan untuk itu sejak dini.

Mengapa demikian? Ini karena usia dini merupakan periode awal dari perkembangan setiap individu. Masa dini usia merupakan periode emas (golden age) bagi perkembangan anak. Periode emas ini sekaligus periode kritis bagi anak, karena perkembangan yang didapat pada periode ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan pada periode berikutnya hingga masa dewasa.

Ahli psikologi perkembangan, Bredekamp, et all (1997:97) mengungkapkan bahwa pemberian pendidikan pada anak usia dini diakui sebagai periode yang sangat penting dalam membangun sumber daya manusia dan periode ini hanya datang sekali dalam kehidupan serta tidak dapat diulang lagi. Bekal yang diberikan pada usia ini meruipakan fondasi bagi kehidupannya kelak.

Salah satu bekal yang dapat kita berikan adalah memberikan pendidikan kecakapan hidup (life skills). Dengan bekal ini anak-anak dipersiapkan untuk memasuki jenjang pendidikan selanjutnya yang kelak diharapkan dapat menjadi individu yang sukses, warga masyarakat dan warga negara yang berhasil serta makhluk Tuhan yang memiliki integritas, keimanan dan ketaqwaan.

Apakah sebenarnya kecakapan hidup itu? Kecakapan hidup merupakan sebuah bentuk kecakapan yang dapat menunjang kehidupan seorang manusia agar tetap survive dalam kondisi apapun, bahkan dapat selalu meningkatkan kualitas hidupnya. Kecakapan hidup bukan sekedar keterampilan yang diperlukan untuk bekerja, akan tetapi lebih dari itu. Dengan demikian, seseorang yang tidak bekerja pun tetap memerlukan kecakapan hidup, bahkan anak-anak yang baru lahir pun memerlukan kecakapan hidup sesuai dengan usianya.

Kecakapan hidup ini merupakan bekal yang sangat penting bagi seseorang untuk menjalani kehidupan, karena merupakan kecakapan yang dimiliki oleh seseorang untuk berani menghadapi dan memecahkan segala permasalahan kehidupan secara wajar tanpa adanya perasaan tertekan serta selalu aktif, proaktif dan kreatif dalam menjalani aktivitas hidupnya, sehingga setiap saat dan setiap waktu produktivitas seseorang senantiasa dalam kondisi prima.

Kecakapan hidup secara garis besar dapat dipilah menjadi kecakapan hidup generik atau umum (general life skills) dan kecakapan hidup spesifik (specific life skills), yang dapat dirinci sebagai berikut.
1.      Kecakapan hidup generik atau umum
a.       Kecakapan hidup personal untuk mengenal diri dan berpikir rasional
b.      Kecakapan sosial
2.      Kecakapan hidup spesifik  
a.       Kecakapan akademik, yaitu kemampuan untuk mengidentifikasi dan menemukan hubungan antar variabel, merumuskan hipotesis, dan merancang serta melaksanakan penelitian untuk membuktian suatu gagasan, ide atau untuk menjawab rasa ingin tahu
b.      Kecakapan vokasional

Kecakapan hidup yang bersifat umum diperlukan oleh siapa saja, dari segala lapisan usia, baik yang bekerja maupun yang tidak bekerja. Kecakapan hidup yang bersifat spesifik atau khusus diperlukan untuk menghadapi dan memecahkan permasalahan yang bersifat khusus.

Kecakapan untuk mengenal diri merupakan kecakapan hidup untuk mengenal diri sendiri sebagai makhluk Tuhan, termasuk melakukan instropeksi diri dan memahami kekurangan serta kelebihan diri. Termasuk di dalamnya kemampuan untuk mengelola emosi dalam menghadapi perubahan lingkungan. Kecakapan hidup ini sangat penting artinya untuk mengenali potensi diri guna aktualisasi diri selanjutnya.

Kecakapan berpikir rasional merupakan kecakapan untuk berpikir sebab akibat, baik dalam arti abstrak maupun konkret, termasuk di dalamnya untuk menemukan, menggali dan mengolah data menjadi sebuah informasi yang penting. Kecakapan hidup ini juga merupakan kecakapan untuk menghadapi serta memecahkan masalah dengan tepat tanpa adanya perasaan tertekan.  Kecakapan sosial merupakan kecakapan untuk berinteraksi dengan orang lain atau lingkungan sosial, termasuk di dalamnya kemampuan untuk berkomunikasi dan bekerja sama dengan orang lain. Oleh karena itu, kecakapan ini menuntut adanya pengembangan empati, sikap penuh pengertian, saling membantu dan  saling menghargai. Kecakapan akademik merupakan pengembangan kecakapan berpikir rasional, akan tetapi sudah menjurus pada hal-hal yang bersifat, akademik, ilmiah dan keilmuan. Kecakapan vokasional merupakan kecakapan yang dikaitkan dengan bidang pekerjaan tertentu di masyarakat.

Anak usia dini perlu dibekali dengan kecakapan hidup sejak sehingga siap dalam memasuki jenjang pendidikan dan tahap kehidupan selanjutnya. (Sby, 23 November 2011. Salam, Widya Ayu)

Contoh sederhana :
Apakah anda terbiasa menempatkan sepatu / sandal setelah dipakai di tempatnya (rak sepatu/sandal)?
Apakah anda terbiasa menaruh handuk pada tempatnya setelah mandi?
Apakah anda selalu terbiasa mendengarkan, atau bahkan terbiasa menyela pembicaraan?
Apakah anda selalu berbagi dalam semua hal?
Apakah anda  berani tampil kedepan dengan mengungkapan ide-ide baru?
Apakah anda selalu berdo’a sebelum/sesudah melakukan aktifitas?
Dan sebagainya..dan sebagainya?
 Coba anda ingat-ingat..kebiasaan mana yang telah anda lakukan sejak masih kecil hingga saat ini?.. itulah kecakapan hidup yang telah tertanam dalam alam bawah sadar  anda sejak  masih kecil.


Senin, 21 November 2011

ORIENTASI PENDIDIKAN KECAKAPAN HIDUP PADA ANAK USIA DINI


Pendidikan kecakapan hidup pada anak usia dini paling tidak harus berorientasi pada tiga hal, yaitu :

1.      Pengembangan keterampilan
Pengembangan keterampilan adalah gabungan antara pengetahuan dan keterampilan fakultatif (seperti menggambar, mencoret, mewarna) dengan keterampilan sosial emosional untuk mengaplikasikan keterampilan fakultatif tersebut dalam sebuah perilaku perilaku tertentu.

2.      Penekanan terhadap kompetensi psikososial
WHO menyebutkan bahwa kompetensi psikososial dalam kecakapan hidup mencakup:
a.       Empati – kesadaran diri
Empati merupakan kemampuan untuk merasakan sesuatu yang dirasakan oleh orang lain. Dengan demikian anak mampu merasakan atau peka terhadap perasaan teman, orang tua, guru yang orang lain yang ada di sekitarnya. Kemampuan ini harus didukung oleh kemampuan untuk mengenal diri sendiri, mengenal kekurangan dan kelebihan diri, sehingga dapat mengenal orang lain dari sudut pandang orang lain.
b.      Komunikasi – hubungan interpersonal
Kemampuan berkomunikasi hendaknya dikembangkan sejak usia dini, karena merupakan proses pengembangan interaksi dengan orang lain sehingga pengembangannya harus dilakukan bersama-sama dengan kemampuan untuk melakukan hubungan interpersonal.
c.       Pengambilan keputusan – pemecahan masalah (problem solving)
Permasalahan yang pasti akan dihadapi oleh anak-anak kita di masa mendatang adalah banyaknya pilihan mengenai berbagai hal, mulai dari yang paling sederhana hingga yang paling kompleks. Maka dari itu anak-anak perlu kita bekali dengan kemampuan untuk mengambil atau menentukan pilihan yang terbaik. Untuk itulah mereka kita bekali dengan kecakapan pengambilan keputusan. Di samping itu, anak-anak juga akan menghadapi banyak permasalahan yang perlu dipecahkan, sehingga bekal kemampuan pemecahan masalah amatlah diperlukan.
d.      Berpikir kreatif – berpikir kritis
Berpikir kreatif sangat diperlukan dalam menghadapi segala situasi dan kondisi, terutama pada saat  menghadapi dan memecahkan masalah. Berpikir kreatif memberikan bekal kepada anak-anak untuk melihat segala sesuatu dari berbagai sudut pandang tanpa merasa takut salah. Ini memberikan bekal bagi anak-anak untuk tetap bertahan. Demikian pula dengan pola pikir kritis. Kemampuan berpikir kritis memberikan bekal kepada anak-anak untuk dapat memilah yang benar dan salah serta yang relevan dan tidak.
e.       Mampu menanggulangi masalah-masalah emosional – mengatasi stres
Seringkali permasalahan bukan hanya berkaitan dengan logika, tetapi juga dengan emosi. Kematangan emosi anak-anak akan sangat membantu mereka dalam menanggulangi stres, sehingga kualitas hidup mereka tidak terganggu tetapi bahkan menjadi lebih baik.

3.      Adanya partisipasi aktif anak
Partisipasi aktif  ini dikembangkan terutama untuk menumbuhkan ketegaran mental emosional yang ditunjukkan dengan rasa percaya diri dan sikap untuk menghargai diri sendiri. Dengan demikian pendidikan kecakapan hidup tidak hanya mengembangkan kemampuan kognitif, tetapi juga mengembangkan sikap dan perilaku mereka.

Pendidikan kecakapan hidup dapat diberikan di keluarga ataupun lembaga pendidikan anak usia dini, misalnya di kelompok bermain, taman penitipan anak, taman-kanak-kanak, ataupun lembaga sejenis.
Melalui pendidikan kecakapan hidup pada usia dini diharapkan kelak anak akan lebih siap dalam menghadapi permasalahan di masyarakat, sehingga tidak akan terbawa arus, misalnya terjerat dalam kehidupan narkoba atau kehidupan yang bersifat destruktif lainnya, terutama di kota besar yang penuh dengan kompleksitas masalah ini. Dengan demikian generasi bangsa dan masa depan bangsa ini dapat terselamatkan. ( Sby, 22 November 2011 --Salam, Widya )

Kamis, 17 November 2011


Sepenggal Catatan Perjalanan-1
Perkembangan Motorik Anak

Yogya, Nopember 2011

Saya berkunjung ke lembaga PAUD ketika anak-anak baru saja datang. Wajah-wajah mereka yang cerah penuh kegembiraan memasuki halaman sekolah, bertegur sapa dengan teman-teman dan menyimpan barang bawaan di loker.

Beberapa saat kemudian, waktu memasuki kelas tiba. Anak-anak berbaris dalam lingkaran, bernyanyi, kemudian membentuk barisan kereta api dan masuk ke kelas masing-masing dengan didampingi oleh dua orang guru.

Anak-anak kemudian diajak duduk melingkar dan guru menanyakan kabar masing-masing anak hari itu, sambil mencatat jumlah kehadiran anak. Ternyata, pada hari itu, semua anak di kelompok TK B hadir. Setelah itu, guru mengajak anak-anak berdoa.

Setelah berdoa, anak-anak diajak melakukan kegiatan untuk meningkatkan keterampilan motorik kasar. Kegiatannya adalah bermain lempar bola. Sebelum melakukan bersama anak-anak, dua orang guru memberikan contoh cara melempar dan menangkap bola. Anak-anak bertepuk tangan sambil menyemangati kedua guru mereka yang sedang bermain lempar bola.

Setelah guru selesai memberi contoh, guru melempar bola kepada anak, yang sebelumnya dipanggil namanya agar bersiap-siap. Pada akhirnya, semua anak mendapatkan giliran melempar dan menerima bola. Ternyata, meskipun rata-rata usianya sama, tidak semua anak dapat melempar dan menerima bola dengan baik.

Hal tersebut menunjukkan bahwa perkembangan motorik kasar anak berbeda-beda, sehingga setiap anak memerlukan stimulasi yang berbeda-beda.

Keterampilan  motorik kasar berkaitan dengan kemampuan anak untuk berjalan, berlari, melompat, meloncat. Keterampilan ini dapat ditingkatkan melalui berbagai aktivitas, antara lain bermain lempar bola, lompat tali, berjalan berjinjit, bersenam, ataupun aktivitas lain yang dapat dikembangkan bersama-sama anak.

Stimulasi yang tepat dapat meningkatkan kecakapan motorik kasar. Kecakapan motorik kasar yang baik membantu anak melakukan aktivitas sehari, terutama dalam melakukan eksplorasi lingkungan dan bersosialisasi.

Anak yang terbiasa melakukan kegiatan motorik kasar, memiliki stamina dan kesehatan yang baik, serta memiliki otot-otot tubuh dan tulang yang kuat. Anak yang sehat dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan usianya.

Oleh karena itu, kita sebagai orangtua hendaknya meluangkan waktu untuk melakukan berbagai aktivitas motorik kasar dengan anak, minimal 30 menit sehari. Selain meningkatkan kecakapan, kesehatan dan stamina anak, juga membangun hubungan emosional yang lebih erat dengan anak.

Jadi, mari kita bermain dengan anak-anak kita, karena mereka sangat memerlukan, demi kesehatan fisik, psikis dan sosial mereka.

(Salam, Widya Ayu)

Selasa, 15 November 2011


Beyond Centre and Circle Time

Repost dari blog http://paud-usia-dini.blogspot.com tgl. 16 Juni 2008 
Penulis : Widya Ayu Puspita., SKM., M.Kes

Bermain adalah dunia anak dan bukan hanya sekedar memberikan kesenangan, akan tetapi juga memiliki manfaat yang sangat besar bagi anak. Lewat kegiatan bermain yang positif, anak bisa menggunakan otot tubuhnya, menstimulasi penginderaannya, menjelajahi dunia sekitarnya, dan mengenali lingkungan tempat ia tinggal termasuk mengenali dirinya sendiri.

Kemampuan fisik anak semakin terlatih, begitu pula dengan kemampuan kognitif dan kemampuannya untuk bersosialisasi. Dalam bahasa sederhana, bermain akan mengasah kecerdasannya.
Metode sentra dan lingkaran merupakan salah satu metode pembelajaran dalam pendidikan anak usia dini yang mengedepankan konsep bermain bagi anak, sehingga pertumbuhan dan perkembangannya optimal. Dalam metode ini, alat-alat dan bahan-bahan main dikelompokkan dalam beberapa sentra sesuai dengan kebutuhan.

Sentra persiapan merupakan salah satu sentra yang mengasaha kemampuan kognitif dan motorik halus pada anak. Dengan demikian, saya menyambut baik kehadiran bahan belajar ini sebagai pendukung bagi pendidik anak usia dini dalam mengembangkan sentra persiapan lebih lanjut. Bermain bukan hanya sekadar memberikan kesenangan, tapi juga bermanfaat besar bagi anak. Lewat kegiatan bermain yang positif, anak bisa menggunakan otot tubuhnya, menstimulasi penginderaannya, menjelajahi dunia sekitarnya, dan mengenali lingkungan tempat ia tinggal termasuk mengenali dirinya sendiri. Kemampuan fisik anak semakin terlatih, begitu pula dengan kemampuan kognitif dan kemampuannya untuk bersosialisasi. Dalam bahasa sederhana, bermain membuatnya mengasah kecerdasannya.

Setiap anak pada dasarnya cerdas. Akan tetapi, kecerdasan tidak semata-mata merujuk kepada kecerdasan intelektual saja, atau lebih dikenal dengan istilah IQ. Ada pula kecerdasan majemuk (multiple intelligences) seperti kecerdasan bahasa, logika matematika, visual spasial, musik, kinestetik, interpersonal, intrapersonal, natural dan moral. Setiap anak memiliki kesembilan kecerdasan ini meski dengan taraf yang berbeda-beda.
Bermain merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk mengembangkan potensi dan multiple intelligences anak karena melalui kegiatan bermain ia akan lebih mudah menyerap informasi dan pengalaman.
Dengan bermain, berdasarkan riset penelitian yang ada, anak ternyata menjadi lebih cerdas, emosi dan kecerdasan anak pun meningkat. Anak juga jadi lebih peka akan kebutuhan dan nilai yang dimiliki orang lain. Bermain bersama teman juga memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk menyesuaikan perilaku mereka dengan orang lain. Hebatnya lagi, anak juga mampu menghargai perbedaan di antara mereka.
Bermain merupakan jendela perkembangan anak. Lewat kegiatan bermain aspek perkembangan anak bisa ditumbuhkan secara optimal dan maksimal. Membiarkan anak-anak usia pra sekolah bermain telah terbukti mampu meningkatkan perkembangan mental dan kecerdasan anak, bahkan jika anak tersebut mengalami malnutrisi.

Lancet Medical Journal baru-baru ini menyebutkan bahwa ada beberapa penelitian yang menemukan kaitan antara kecerdasan dan kegiatan bermain anak. Program kegiatan bermain untuk anak-anak kekurangan gizi di Bangladesh terbukti meningkatkan IQ mereka sampai 9 poin (Sally McGregor, 2006) dari Institute of Child Health at University College London. Malnutrisi atau kekurangan gizi sudah suatu masalah, namun malnutrisi tanpa stimulasi bagi perkembangan mental merupakan masalah yang jauh lebih besar. Juga dilaporkan dalam jurnal tersebut bahwa lebih dari 200 juta anak miskin di dunia kekurangan gizi. Sekitar 89 juta di antaranya ada di Asia Selatan dan 145 juta lainnya ada di negara India, Nigeria, China, Bangladesh, Ethiopia, Pakistan, Congo, Uganda, Tanzania, dan Indonesia.

Disimpulkan oleh para periset bahwa untuk meningkatkan kecerdasan anak-anak miskin tersebut bisa dilakukan dengan tindakan intervensi sederhana, yakni mendorong anak-anak untuk banyak bermain di rumah serta tentu saja meningkatkan kadar gizi mereka. Selama ini masyarakat terlalu memfokuskan untuk mengurangi angka kematian, tapi mereka sering lupa kalau banyak anak-anak yang terancam tidak bisa mencapai kecerdasan optimal, setelah duduk di kelas 5 atau 6 SD, kesempatan mereka untuk memperbaikinya sudah tipis.

Ditambahkan oleh Mc. Gregor, 2006, di sebuah daerah di Jamaica, anak-anak dari keluarga miskin diberi bantuan mainan yang bisa dimainkan sendiri di rumah, lalu perkembangan mereka dipantau sampai berusia 18 tahun. Tingkat IQ mereka lebih baik, kemampuan bacanya baik dan jarang yang drop-out dari sekolah, selain itu kesehatan mental anak-anak itu juga baik, mereka tidak depresi dan lebih percaya diri.
Sudah saatnya apabila kita semua, terutama para orang tua menyadari bahwa kegiatan bermain bukanlah kegiatan tak berguna dan hanya membuang waktu. Bermain selain merupakan hak asasi anak, juga diperlukan untuk meningkatkan kemampuan mereka (Kompas, 05 Januari 2007).

Selama ini perkembangan kecerdasan anak hanya dipandang dari kecerdasan intelektual saja, namun seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan para peneliti kecerdasan memunculkan teori baru tentang multiple intelligence. Teori tersebut menjadi dasar bagi beragamnya metode pembelajaran baik formal maupun non formal. Ragam metode pembelajaran tersebut bisa dilihat dari maraknya sekolah yang memunculkan berbagai keunggulan sekolah. Pada dasarnya metode belajar baik formal maupun non formal mengacu kepada bagaimana si anak dapat berkembang sesuai dengan minat dan bakatnya. Tugas pendidik dan orang tua adalah membidani pengetahuan yang sudah ada dalam diri anak agar tereksplorasi secara alamiah.
Pendidikan bagi anak usia dini seharusnya dapat menyeimbangkan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik serta memberikan pendidikan dari segi moral dan sensitivitas anak terhadap permasalahan sosial. Permainan yang disajikan bagi anak usia dini harus lebih kreatif lagi. Seiring dengan perkembangan budaya, permainan yang berkembang dalam diri anak sudah bergeser. Tidak salah jika anak sudah meninggalkan permainan tradisional daerah karena budaya permainan yang berbasis teknologi terus berkembang. Untuk itu tetap harus memperkenalkan permainan tradisional daerah, selain anak mempunyai variatif permainan juga untuk mewariskan khazanah budaya yang berjuta pesona.

Untuk memfasilitasi anak agar memiliki kesempatan bermain yang cukup, pendidikan anak usia dini salah satunya dikembangkan dengan menggunakan metode sentra dan lingkaran yang diadopsi dari metode BCCT (Beyond Centre and Circle Time). Dalam metode ini, pembelajaran dibagi dalam bentuk sentra. Salah satu sentra yang ada adalah sentra persiapan. Sentra ini merupakan ”bengkel kerja” bagi anak-anak guna mengoptimalkan kemampuan keaksaraan pada anak sejak dini.

(salam., Widya Ayu)

Senin, 14 November 2011

Pendidikan Karakter, Membangun bukan Mengisi “Form Not Furnish”


Saat ini, bangsa kita sepertinya sedang berada dalam sebuah titik kritis menuju kehilangan jati diri. Banyak sekali peristiwa di tanah air yang menunjukkan fenomena tersebut. Generasi muda larut dalam kesenangan duniawi, korupsi merajalela, perbedaan berujung pertikaian, perselisihan berujung pada hilangnya nyawa, tawuran pada masyarakat akademik, anak-anak tidak lagi mengenal budaya bangsanya, bahkan, banyak di antara kita yang lupa, bahwa kita tumbuh, berkembang, hidup, makan, minum dan bernafas di bumi pertiwi. Apakah gerangan yang sedang terjadi? Apakah bangsa ini memang sedang menuju kehancuran, atau bangsa ini sedang dijajah perlahan-lahan untuk kemudian dilenyapkan dari percaturan dunia? Itulah pertanyaan mendasar, yang tidak sekedar memerlukan jawaban, tetapi membutuhkan perenungan mendalam dari nurani kita masing-masing.
Kita semua pasti tidak menginginkan bangsa ini tenggelam perlahan-lahan. Sungguh sebuah tragedi bila itu yang terjadi. Sebuah bangsa besar yang diperjuangkan dengan darah dan airmata, hilang begitu saja, hanya karena pewaris negeri ini lupa akan jati diri bangsa, lupa akan nilai-nilai luhur bumi pertiwi. Sebelum semuanya terjadi, kita patut segera sadar diri. Membangun kembali diri kita, mengangkat kembali harkat dan martabat bangsa ini. Negeri ini negeri yang luhur, memiliki tata nilai yang beradab, memiliki masyarakat yang santun, memiliki kekayaan yang melimpah. Inilah harta kita, pusaka yang wajib kita jaga bersama. Saat ini, tidak ada kata tidak, dan tidak lagi bisa ditunda, yang harus dilakukan adalah membangun kembali karakter bangsa melalui pendidikan karakter yang tepat. Pendidikan karakter saat ini adalah kebutuhan yang bersifat “darurat”. Semua elemen bangsa harus melakukan.
Pendidikan karakter bukan sekedar penanaman nilai-nilai kognitif, bukan sekedar pengetahuan, tetapi harus merupakan sebuah proses internalisasi. Proses internalisasi merupakan proses panjang, yang berjalan secara perlahan-lahan, sehingga menghasilkan sebuah produk yang berkualitas, yaitu karakter mulia. Proses internalisasi tidak bisa diajarkan, tetapi dilakukan melalui keteladanan dan pembiasaan.
Keteladanan memiliki peran yang luar biasa dalam penanaman karakter. Ibarat menanam pohon, keteladanan adalah tanah yang subur tempat semua tanaman bisa tumbuh, hidup dan berkembang, kemudian semua tanaman ini memberikan kemakmuran bagi makhluk hidup yang lainnya. Keteladanan dapat dilakukan oleh semua orang, semua elemen, dimanapun dan kapanpun belajar. Keteladanan memberikan “role model” bagi sebuah karakter mulia. Akan tetapi, keteladanan inilah yang pada saat ini sangat sulit ditemukan di negeri ini.
Keteladanan hampir menjadi barang langka di bumi tercinta ini, dan mungkin sama langkanya dengan spesies langka lainnya yang ada di muka bumi ini. Ketika kita berada di jalan, kita dapat mengamati, berapa banyak yang berlaku santun, berapa banyak yang berlaku disiplin, berapa banyak yang menghormati pejalan kaki, berapa banyak tidak buta huruf atau buta tanda atau buta warna? Ketika kita berada dalam sebuah zona pekerjaan, berapa banyak yang memiliki kinerja baik, berapa banyak yang memiliki komitmen dan konsistensi, berapa banyak yang mampu membangun sinergitas, berapa banyak yang mampu mendengarkan dengan baik, berapa banyak yang berpikiran terbuka? Ketika kita berada dalam sebuah antrian, berapa banyak yang mengantri dengan tertib, berapa banyak yang menaati aturan antrian. Ketika kita berada dalam sebuah keluarga, berapa banyak orangtua yang sanggup menjadi pendengar yang baik, berapa banyak orangtua yang memiliki komitmen, berapa banyak orangtua yang bisa menghargai anak-anaknya, berapa banyak orangtua yang konsisten terhadap aturan dalam keluarga? Kalau kita menjawab, banyak sekali, sungguh sesuatu yang luar biasa, karena itu menunjukkan bahwa bangsa ini masih ada. Karakter bangsa ini masih tertanam, tetapi bila jawabannya adalah sebaliknya, ini adalah bencana yang luar biasa. Akan tetapi, tidak ada kata terlambat, saat inilah, kita bersama-sama, harus bangkit, menguatkan kembali nilai-nilai karakter mulia yang kita miliki sebagai harta karun, yang harus kita gali kembali.
Pendidikan karakter sesungguhnya adalah membangun struktur pikiran bukan memgisi pikiran dengan nilai-nilai artifisial, sehingga nilai-nilai mulia terbentuk dalam pikiran setiap individu. Keteladanan memiliki kekuatan moral untuk membangun struktur pikiran. Hal ini sejalan dengan cara otak kita bekerja. Otak kita bekerja dengan dua cara, yaitu template dan transkripsi.
Ketika template berproses, cara bekerjanya tidak terpengaruh lingkungan. Hal-hal yang termasuk template antara lain refleks. Refleks bekerja secara spontan, menanggapi stimulus secara spesifik. Ketika otak bekerja dengan cara transkripsi, maka prosesnya sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Yang termasuk dalam hal ini adalah kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh seseorang. Kebiasaan ini sangat dupengaruhi oleh lingkungan, antara lain keteladanan dan pembiasaan itu sendiri.
Pembiasaan dalam rangka membentuk karakter mulia hendaknya dilakukan sejak dini. Ibarat menanam tanaman, sekali lagi, pembiasaan adalah pupuk yang baik. Pupuk yang baik mampu menjadikan tanaman tumbuh dan berkembang dengan baik. Pupuk inilah yang harus selalu diberikan. Pembiasaan yang baik akan dibawa hingga kelak dewasa. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Piaget, bahwa pengalaman masa kecil memiliki pengaruh ketika anak dewasa. Pengalaman ini salah satunya adalah pembiasaan.
Pembiasaan yang baik sejak dini membentuk pribadi-pribadi berkarakter luhur yang akan menjaga pusaka Indonesia. Apabila sejak dini anak terbiasa dengan perilaku mulia, seperti  bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, jujur, disiplin, tanggung jawab, memiliki komitmen, mendengarkan orang lain, hormat, santun, cinta tanah air, kerja keras, mandiri, berpikiran terbuka, tangguh, dan berani mengambil risiko, demikian pulalah ketika kelak tumbuh menjadi remaja atau dewasa.
Nilai-nilai ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa memiliki esensi yang luar biasa dalam perkembangan anak di masa depan. Menanamkan nilai-nilai ketaqwaan berarti membangun generasi yang memiliki keimanan. Keimanan yang ditanamkan sejak dini diharapkan dapat membentuk generasi yang selalu dijiwai oleh nilai-nilai ketuhanan yang luhur. Hal ini ditumbuhkan sejak diri melalui pengenalan terhadap sifat-sifat Tuhan, pengenalan tata cara ibadah menurut agama dan kepercayaan masing-masing melalui praktek, cerita, gambar dan aktivitas lainnya, pembiasaan berdoa sebelum melakukan aktivitas, pengenalan terhadap kebesaran Tuhan melalui ciptaan-ciptaanNya, dan sebagainya.
Nilai-nilai kejujuran ditanamkan melalui pembiasaan berkata yang baik dan benar, mengakui perbuatan dan hasil dari perbuatan, menanggung risiko atas tindakan. Berbagai aktivitas yang dikembangkan antara lain bermain dalam kelompok, rekreasi pendidikan ke berbagai pusat perbelanjaan.
Nilai-nilai kedisiplinan berkaitan dengan pemahaman dan implementasi berbagai aturan, norma yang berlaku secara universal di masyarakat. Nilai-nilai tersebut ditanamkan melalui pembiasaan  dalam berbagai aktivitas, seperti budaya antri, mengembalikan barang sesuai dengan tempatnya, merapikan peralatan pribadi, menaati waktu belajar atau bermain, menaati peraturan sederhana dalam keluarga atau sekolah dan sebagainya.
Pada dasarnya, pada setiap aktivitas anak dilakukan pembiasaan karakter mulia, sehingga akan terinternalisasi yang kelak terwujud dalam pribadi mulia di masa depan.


Terima kasih atas cintamu, Bunda
Terima kasih atas dukunganmu, Ayah
Semua itu membuat aku tumbuh
Terus tumbuh
Dan sanggup menghadapi kerasnya dunia

MEMBANGUN MODEL PERILAKU BAGI ANAK


Aku telah berusaha
Namun semua belumlah cukup
Yang aku tahu hanya satu, bahwa aku mencintaimu
Cintaku luas tanpa batas
Bahkan samudera tak sanggup melukiskan

Namun aku tak mampu mengungkapkannya
Maafkanlah aku, sayang
Waktu terus melaju
Bagai angin yang terus menghembus

Dan aku telah menjadi renta
Engkau tumbuh begitu cepat
Hingga saatnya engkau jauh dari pelukku

Maafkanlah aku, sayang
Bila memintamu terlalu banyak
Dan aku memang tak berhak meminta banyak darimu
Namun cukup satu pintaku,
Bila aku telah pergi, berikan doamu yang paling tulus
Anakku sayang


Dunia terus berputar, menjadi hari-hari yang penuh dengan aneka warna. Bocah cilik tumbuh semakin besar, dan menjadi anak-anak yang menghiasi dunia. Di dalam perjalanan hidupnya, orangtua turut mengukir nurani dan raganya.
Sebagai orangtua, kitalah model utama dan pertama bagi anak-anak, baik dalam hal bersikap, bertindak maupun bertutur kata. Otak anak memiliki kemampuan yang luar biasa untuk menyerap berbagai informasi dari lingkungan tempat dia hidup, tumbuh dan berkembang. Segala hal yang dilihat dan didengar anak merupakan masukan bagi otak yang akan dimanifestasikan dalam tingkah laku, sehingga setiap anak hendaknya berada dalam lingkungan yang kondusif dan positif agar dapat berkembang secara optimal, baik dalam hal bertutur kata, bersikap maupun bertindak.
Di sinilah orangtua memegang peranan yang sangat penting dalam pembentukan perilaku anak. Orangtua yang secara efektif menunjukkan perilaku positif akan memudahkan anak untuk meniru perilaku positif, demikian pula sebaliknya. Maka jadilah model bagi anak anak kita, model yang baik tentunya.

(Salam, Widya Ayu)

Membangun Komunikasi Efektif


Hari ini kelompok bermain berkunjung ke KRI yang ada di daerah Surabaya Utara. Anak begitu senang melihat berbagai jenis dan ukuran kapal yang sedang berlabuh. Mereka bercanda dan berceloteh riang mengenai kapal-kapal tersebut. Sungguh menyenangkan melihat anak-anak yang riang gembira.

Udara memang cukup panas. Matahari bersinar sangat terang, hingga kami semua kegerahan, terutama para orangtua dan guru. Namun hal ini tampaknya tidak mengurangi keceriaan anak-anak. Mereka tidak menghiraukan teriknya matahari dan panasnya udara. Mereka terus berlarian kian kemari.Namun demikian, ada beberapa orangtua yang ternyata kurang begitu sabar menghadapi kegembiraan dan keingintahuan anak.
Saya mendengar Ani berkata kepada ibunya, “Bu, ayo kita ke sana... Aku mau lihat patung besar itu lho... Ayo, bu...” Ani merengek sambil menarik-narik tangan ibunya, lalu ibunya menjawab (sambil mengerutkan dahi),”... Aduh... Nih anak nakal banget seh... Nggak tahu panas ya? (Ibu membentak Ani supaya diam). Ani pun terdiam tanpa berani merengek lagi. Wajah Ani tampak murung dan tak lepas dari patung besar yang ada di kejauhan. Saya sedih melihat Ani yang terdiam karena jawaban ibunya yang kurang bersahabat.

Tak lama, saya mendengar Anto menangis. Saya menoleh. Saya melihat ibunya marah-marah, karena ternyata Anto  berlarian ke sana kemari. Ibunya mengatakan (sambil membentak), “... kamu kok nakal sih, diam kenapa? Nggak bisa, ya...” Ibunya kemudian menarik tangan Anto dan menyuruhnya duduk diam, sementara dia ingin berlari ke arah teman-temannya yang sedang melihat kapal. Saya menarik napas panjang.

Betapa mudah orangtua memberikan label  nakal kepada anak-anak. Sangat mudah. Setiap keinginan atau perilaku anak yang tidak sesuai dengan kehendak orangtua diberikan label nakal. Label nakal ini seorang terlukis pada dahi anak, dengan tinta merah yang tebal.

Kita mungkin lupa, bahwa label ini berpengaruh terhadap perkembangan anak. Label ini memberikan indikasi pada diri anak bahwa dia nakal dan apabila diulang secara terus menerus akan menguatkan citra diri yang negatif  pada anak. Selain label nakal, ada sederetan label lainnya yang biasanya diberikan kepada anak, seperti bandel, cerewet, tidak bisa diatur, pemarah, cengeng dan sebagainya.

Pemberian label semacam inilah yang sebaiknya dihindari, terutama ketika kita berkomunikasi dengan anak. Kita hendaknya mengembangkan komunikasi positif dengan anak. Komunikasi yang positif dapat membangun citra diri anak yang positif pula.

Di samping itu, komunikasi yang positif dapat mengembangkan kemampuan anak untuk berinteraksi secara positif pula, membangkitkan kreativitas, imajinasi, hubungan sosial dan mengembangkan daya pikir anak.
Sebagaimana kasus Ani di atas, bila orangtua mengembangkan komunikasi positif dengan memberikan pengertian bahwa udara sangat panas dan sebaiknya berteduh, akan membangun pengertian dan daya pikir anak, bahwa ketika cuaca panas, sebaiknya kita berlindung, karena sinar matahari kurang baik bagi tubuh kita saat itu. Atau dengan mencoba membangun pemahaman bahwa anak boleh melihat patung, tetapi menuju ke sana dengan berjalan pelan-pelan karena orangtua sudah kelelahan, akan membangun rasa empati pada anak.
Kita tidak akan pernah tahu, apa yang akan ditemukan oleh anak ketika dia mengamati patung dari dekat. Mungkin saja akan terbangun pengetahuan dan pengalaman baru yang berharga bagi anak, dan mungkin ini sesuatu yang luar biasa. Kita tidak akan pernah tahu, sampai anak betul-betul melakukan pengamatan dari dekat.

Demikian pula dengan kasus Anto di atas. Keingintahuannya terhadap kapal mungkin bisa membangun berbagai hal baru yang berguna. Pengamatannya terhadap kapal mungkin akan memberikan dasar-dasar sains yang berharga.

Sungguh, kita sebagai orangtua perlu mengembangkan kemampuan berkomunikasi secara efektif dengan putra-putri kita. Komunikasi inilah yang akan membuat hubungan kita terjalin erat dengan mereka hingga mereka dewasa kelak. (Salam, Ayu).

Kau tinggalkan aku
Ketika aku ingin engkau rengkuh
Maka, jangan kau salahkan aku,
Bila aku pergi, ketika engkau ingin aku rengkuh