Kamis, 06 Februari 2020

SIKLUS BELAJAR DALAM KEGIATAN BERMAIN DENGAN MUATAN SCIENCE, TECHNOLOGY, ENGINEERING AND MATHEMATICS (STEM)


Kegiatan bermain dengan muatan STEM merupakan suatu konstruk yang dibuat dalam bentuk ragam kegiatan main yang dirancang dengan memanfaatkan alat dan bahan yang tepat dan terdapat di lingkungan sekitar. Alat dan bahan tersebut dapat dapat dimanipulasi atau dikreasikan oleh anak, sehingga otak anak menjadi aktif dan optimal untuk belajar dengan mengintegrasikan berbagai kecakapan dalam berbagai disiplin ilmu, sehingga memberikan kesempatan kepada anak untuk membangun kemampuan sains, teknologi, rekacipta dan matematika. Dengan demikian anak akan memiliki kemampuan untuk berkomunikasi, berkolaborasi, berpikir kritis dan bertindak kreatif, yang dilihat dari ketercapaian perkembangan aspek nilai agam dan moral, fisik motorik, kognitif, bahasa, sosial emosional dan seni. Kegiatan main dapat dilakukan dengan memanfaatkan daya dukung yang ada – misalnya lapangan, alun-alun, museum, dan lainnya -  dan diharapkan mampu memberikan keseimbangan kegiatan pada anak, yang pada saat ini sebagian besar didominasi dengan permainan gawai.
Kegiatan main dirancang oleh pendidik, dan disusun  dalam RPPH dengan menggunakan alat dan bahan yang bersifat “open-ended material” atau biasa disebut dengan barang-barang lepas “Open-ended materials” merupakan alat dan bahan yang dapat dimanipulasi oleh anak. Anak bisa saja menggunakan satu atau beberapa jenis, tetapi kemudian menghasilkan banyak hasil karya. Berbagai contoh open-ended materials antara lain :
1.        Bahan-bahan alam, seperti batu, daun, ranting, pasir, tanah liat dan sebagainya
2.        Barang-barang bekas yang aman, seperti ban bekas, kardus bekas, kain perca, dan sebagainya
3.        Barang-barang gagal produksi, sehingga tidak bisa digunakan sesuai dengan fungsinya, misalnya peralatan dapur yang cacat produksi, sandal yang tidak sesuai ukuran, dan lain-lain
Dengan demikian, “open ended materials” bukanlah “toys” atau mainan jadi yang siap dimainkan oleh anak. Anak distimulasi untuk membuat sendiri alat permainannya. Di sinilah kreativitas anak diharapkan berkembang dengan baik.
Bahan-bahan yang tersedia dan dapat digunakan dengan mudah oleh anak (open ended materials) merupakan salah satu bentuk dukungan yang bisa diberikan oleh pendidik, sehingga STEM dapat terintegrasi dalam kegiatan bermain. Dukungan lain yang diberikan oleh pendidik antara lain :
1.        Membangun kepekaan anak, melalui pengamatan dengan menggunakan seluruh panca indera
2.        Motivasi agar anak bersemangat, terlibat dan luas gagasan/ide kreatif melalui berbagai pertanyaan terbuka (open ended questions) atau pertanyaan yang memiliki kemungkinan lebih dari satu jawaban
3.        Suasana yang ramah, interaktif, menyenangkan, yang membuat anak merasa betah, bahagia
Oleh karena itu, dalam implementasinya, kegiatan main yang dirancang ini mengacu pada siklus belajar (learning cycle), yang bersandar pada aliran konstruktivistik. Siklus belajar berpusat pada anak, yang menekankan pada fase-fase belajar, yang setiap fase merupakan sebuah siklus yang tidak prosedural atau tidak mengacu pada tahapan-tahapan baku. Dengan demikian, antar fase dapat saling bertukar, misalnya, seorang anak dapat mulai dari fase 1 – 2 – 3 dan seterusnya, tapi, bisa pula dari fase 2 – 3 – 1, dan seterusnya. Fase-fase ini  terjadi pada anak usia dini ketika bermain. Dalam kegiatan main yang bermuatan STEM, dikenal dengan 6E (emphatized, explore, extend, engage, explain dan evaluate), Pendidik memiliki peran untuk menguatkan dan memperkaya pengalaman anak pada setiap siklus.
Siklus belajar sangat sesuai dengan Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini, yang menekankan pada inkuiri, yang pada dasarnya dimulai dari eksplorasi, pengembangan konsep dan ekspansi. Siklus belajar tersebut digambarkan secara skematis sebagai berikut.



Skema di atas dapat dijelaskan sebagai berikut.
1.    Membangun empati (Emphatized)
Empati adalah kemampuan untuk berbagai dan memahami emosi orang lain. Empati diperlukan agar anak dapat merespons situasi dengan tepat. Emphatized di sini dimaksudkan untuk membangun kepekaan terhadap lingkungan/situasi/kondisi, sehingga dapat memberikan respons yang tepat. Misalnya :
a.      Ketika melihat adanya sampah berserakan, anak dibangun kepekaan untuk mengetahui bahwa hal tersebut merupakan masalah yang harus diselesaikan dan agar dapat merespons dengan tepat, misalnya dalam bentuk berbagai ide untuk mengumpulkannya  atau membuat tempat sampah
b.      Ketika anak diajak mengunjungi teman yang sakit, anak dibangun kepekaannya, agar muncul ide untuk meringankan kesedihan temannya yang sedang sakit.

2.    Melakukan eksplorasi (Explore)
Eksplorasi akan menumbuhkan rasa ingin tahu anak, oleh karena itu, pendidik hendaknya memberikan kesempatan kepada anak untuk melakukan eksplorasi. Kesempatan ini dapat diberikan melalui penyediaan berbagai alat dan bahan yang tepat, yang dapat dieksplorasi oleh anak dengan menggunakan seluruh panca inderanya. Di sisi lain, pendidik juga menyediakan waktu yang cukup bagi anak untuk melakukan eksplorasi. Pada saat anak melakukan eksplorasi, peran pendidik adalah sebagai pengamat dan fasilitator, sementara anak mencari tahu dan mencari jawaban atas rasa ingin tahunya. Pendidik tidak memberi tahu, tetapi memfasilitasi dan memberikan pijakan agar anak menemukan sendiri jawabannya. Bantuan pendidik yang diberikan kepada anak bersifat minimal, sesuai dengan kebutuhan anak.

3.    Memperluas ide/gagasan (Extend)
Pada fase ini, anak memperluas pengetahuan dan pengalamannya, sehingga rasa ingin tahunya semakin kuat. Pendidik dapat memberikan tantangan atau permasalahan sederhana, untuk merangsang ide kreatif anak, serta mendorong anak untuk melakukan investigasi.
Dengan menggunakan berbagai disiplin ilmu pada STEM, pendidik dapat memberikan tantangan seperti :
a.    Berapa banyak kayu yang dapat kamu susun ke atas sehingga seimbang
b.   Apa yang dapat kamu lakukan untuk mengumpulkan sampah?

Pendidik juga bisa mengajak anak untuk melakukan investigasi agar mendapatkan pengalaman yang lebih kaya, misalnya ketika pendidik dan anak-anak selesai berjalan-jalan di halaman sekolah yang terdapat sampah berserakan, pendidik dapat menanyakan kepada anak seperti :
a.    Apa saja jenis sampah di halaman yang kamu temukan?
b.   Bagaimana mengelompokkan sampah berdasarkan jenisnya?
c.    Untuk apa saja sampah bisa dimanfaatkan?
d.   Apa bahaya dari banyaknya sampah yang berserakan?
e.    Mengapa banyak sampah di halaman?

4.    Menjelaskan (Explain)
Pada siklus ini, anak telah menemukan ide/gagasan, dan menyampaikan kepada pendidik atau teman. Anak saling berbagi ide, sehingga tanpa disadari, anak belajar belajar berbagi, berkomunikasi, menghargai ide orang lain, dan mendengarkan. Pendidik memiliki peran untuk memotivasi anak agar mau dan mampu menyampaikan ide/gagasan.

5.    Terlibat (Engage)
Pada siklus ini, anak merasa nyaman dengan kegiatan yang dilakukan, karena terlibat aktif, sehingga tekun dalam melakukan aktivitas main yang dipilihnya. Pendidik dapat memberikan motivasi sehingga anak semakin terlibat aktif dalam pengalaman belajar, dan dapat mencapai kompetensi dasar. Agar anak terlibat lebih jauh, peran aktif pendidik sangat diperlukan. Peran tersebut antara lain :
a.    Memotivasi anak
b.   Memperluas dan memperkuat ide/gagasan anak
c.    Memperkuat bahasa anak
d.   Menyediakan alat dan bahan yang tepat, yang dapat dipergunakan untuk memperluas ide/gagasan/karya anak

6.    Melakukan evaluasi (Evaluate)
Pada tahap ini, pendidik dan anak melakukan recalling, yaitu mengajak anak untuk mengingat kembali pengalaman belajarnya, termasuk perasaan anak. Selain itu, anak juga diajak untuk melakukan evaluasi terhadap hal-hal yang sudah dilakukan, sehingga mendapatkan sesuatu yang optimal. Contoh :
a.    Anak membuat pesawat terbang dari kertas, ternyata setelah dilempar ke udara, langsung menukik jatuh. Anak diajak melakukan evaluasi untuk memperkirakan penyebabnya dan diberi kesempatan untuk membuat pesawat terbang yang lebih optimal dan dapat melayang lebih lama di udara
b.   Anak sedang membuat berbagai bentuk dari playdough, ternyata bentuk yang dibuat belum dibuat sempurna. Anak diajak berdiskusi untuk memprediksi penyebabnya dan diberi kesempatan untuk membuat kembali (bisa berulang-ulang, sesuai minat anak), sehingga mendapatkan hasil yang optimal.

Ketika kegiatan bermain pendidik dapat memberikan inspirasi pada anak, sebagai fasilitator dan motivator. Hal ini berbeda dari kegiatan main yang saat ini banyak terjadi, sebagaimana disajikan berikut ini.

Tabel 1.
Perbedaan Antara Kegiatan Bermain Pada Umumnya dengan
Kegiatan Bermain dengan Muatan STEM

No.
Substansi
Kegiatan Bermain
 (Pada Umumnya)
Kegiatan Bermain dengan Muatan STEM
1.
Pusat pembelajaran
Pendidik
Anak
2.
Peran pendidik
Dukungan yang diberikan seringkali terlalu banyak, sehingga kurang mendorong kemandirian
Dukungan diberikan sesuai kebutuhan
3.
Alat dan bahan
a.    Kebanyakan menggunakan mainan jadi, baik yang pabrikan, maupun yang dibuat oleh pendidik
b.    Berbasis kertas dan pensil
a.       Alat dan bahan yang dapat dimanipulasi/dikreasikan atau direkacipta  oleh anak
b.      Alat dan bahan tidak terbatas
4.
Aspek perkembangan
Seringkali lebih menekankan pada aspek kognitif, terutama kemampuan membaca, menulis dan berhitung
Mengembangkan kemampuan komunikasi, kolaborasi, berpikir kritis dan kreatif, yang tercermin pada ketercapaian seluruh aspek perkembangan (nilai agama dan moral, fisik motorik, bahasa, kognitif, sosial emosional, seni)
5.
Perencanaan pembelajaran
a.       Program semester
b.       Rencana pelaksanaan pembelajaran mingguan (RPPM)
c.        Rencana pelaksanaan pembelajaran harian (RPPH)
a.      Program semester
b.     Rencana pelaksanaan pembelajaran mingguan (RPPM)
c.     Rencana pelaksanaan pembelajaran harian (RPPH)
6.
Pelaksanaan pembelajaran
a.    Pendidik lebih banyak memberikan contoh karya yang harus dibuat oleh anak.
b.   Pendidik lebih banyak memberikan pertanyaan tertutup
a.     Anak memiliki kebebasan untuk mencipta.
b.    Pendidik lebih banyak memotivasi dengan memberikan pertanyaan terbuka
7.
Penilaian perkembangan anak
a.    Penilaian perkembangan anak, seringkali didasarkan atas salah/benar, baik/buruk.
b.   Lebih menekankan pada hasil
a.    Penilaian perkembangan didasarkan pada proses daripada hasil.
b.   Anak diberi kesempatan untuk salah, karena ketika membuat kesalahan anak mendapatkan kesempatan untuk melakukan perbaikan guna mengoptimalkan desain/hasil karya

Dengan demikian, anak memiliki kesempatan yang luas untuk mengembangkan potensinya. Anak memiliki “kemerdekaan” dalam bermain dan beraktivitas. Pendidik berperan sebagai fasilitator, motivator, pemberi inspirasi (sejauh diperlukan), pemberi dukungan (scaffolding), sehingga anak tumbuh dan berkembang secara optimal.


Surabaya, 06022020

Salam, Widya Ayu

Senin, 03 Februari 2020

MENGAPA KEGIATAN BERMAIN DENGAN MUATAN SCIENCE, TECHNOLOGY, ENGINEERING AND MATHEMATICS (STEM) ?


Perubahan dan perkembangan jaman selalu terjadi, sangat cepat dan pesat, demikian pula pada bidang pendidikan. Perubahan dan perkembangan tersebut harus segera disikapi dengan tepat, sejak pendidikan anak usia dini, sehingga bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang maju, dengan kualitas sumber daya manusia yang handal, unggul dan memiliki akhlak mulai.
Pendidikan abad 21 mengalami perubahan yang luar biasa, karena menghadapi tantangan untuk dapat menyiapkan anak di masa depan, yang masa depan itu sendiri tidak dapat diprediksi saat ini. Bisa jadi, tantangan, permasalahan, dan kecakapan yang diperlukan di masa depan, belum terbayangkan pada saat ini. Berbagai bidang pekerjaan yang saat ini ada, bisa jadi di masa depan sudah tidak ada lagi, mungkin juga muncul teknologi baru, yang saat ini belum tergambarkan sama sekali. Oleh karena itu, pendidikan, termasuk pendidikan anak usia dini, perlu mempersiapkan kecakapan dasar untuk menyongsong masa depan. Kecakapan dasar yang dipercayai  diperlukan dimasa depan yaitu kecakapan komunikasi (communication), kolaborasi (collaboration), berpikir kritis (critical thinking), dan bertindak kreatif (creative). Kecakapan berpikir kritis (critical thinking), dan bertindak kreatif (creative) merupakan komponen dari kecakapan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills). Kecakapan dasar tersebut diintegrasikan dengan berbagai kemampuan, antara lain membaca, sains, teknologi, rekacipta, dan matematika.
Berdasarkan riset internasional melalui PISA (OECD, 2018), yang terkait kemampuan membaca, matematika, dan sains, kemampuan anak Indonesia (usia sekitar 15 tahun), masih berada pada ranking bawah, meskipun sebenarnya sudah menunjukkan kenaikan dari tahun ke tahun. Berdasarkan nilai rerata, terjadi peningkatan nilai PISA Indonesia di tiga kompetensi yang diujikan. Peningkatan terbesar terlihat pada kompetensi sains, dari 382 poin pada tahun 2012 menjadi 403 poin di tahun 2015. Dalam kompetensi matematika meningkat dari 375 poin di tahun 2012 menjadi 386 poin di tahun 2015. Kompetensi membaca belum menunjukkan peningkatan yang signifikan, dari 396 di tahun 2012 menjadi 397 poin di tahun 2015. Peningkatan tersebut mengangkat posisi Indonesia 6 peringkat ke atas bila dibandingkan posisi peringkat kedua dari bawah pada tahun 2012. Berdasar nilai median, capaian membaca siswa Indonesia meningkat dari 337 poin di tahun 2012 menjadi 350 poin di tahun 2015. Nilai matematika melonjak 17 poin dari 318 poin di tahun 2012, menjadi 335 poin di tahun 2015. Lonjakan tertinggi terlihat pada capaian sains yang mengalami kenaikan dari 327 poin di tahun 2012 menjadi 359 poin di tahun 2015. Peningkatan capaian nilai tengah (median) yang lebih tinggi dari rata-rata (mean) ini merupakan indikator yang baik dari sisi peningkatan akses dan pemerataan kualitas secara inklusif.
Kita harus bergerak cepat mengejar ketertinggalan dalam bidang pendidikan, yang salah satunya melalui peningkatan kualitas muatan pembelajaran. Masih rendahnya kecakapan membaca, matematika dan sains, sangat terkait dengan kurikulum yang diberlakukan pada setiap jenjang satuan pendidikan. Pada saat ini, kurikulum pendidikan yang terintegrasi dengan STEM diyakini mampu menyiapkan anak menyongsong masa depan.  Dalam Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini, dengan pendekatan saintifik yang diintegrasikan dengan kegiatan bermain, muatan STEM sesungguhnya secara implisit sudah ada di dalamnya.
STEM merupakan akronim dari Sains (Science), Teknologi (Technology), Rekacipta (Engineering), Matematika (Mathematic). Akan tetapi, ini bukanlah sekedar akronim. Di dalam STEM, terdapat berbagai disiplin ilmu, yang terkait satu sama lain, tidak berdiri sendiri. Istilah STEM itu sendiri sekarang berkembang luas. Ada yang menambahkan dengan A, yaitu Art (Seni), ada yang menambahkan dengan L, yaitu Literacy, ada pula yang menambahkan dengan R, yaitu Religiusitas. Dalam panduan ini akan digunakan STEM, karena seni, literasi dan religiusitas terintegrasi di dalam STEM.
Pesatnya penelitian di bidang neurosains dan perkembangan anak menunjukkan bahwa arsitektur dasar otak anak dikonstruksi melalui suatu proses yang bersifat terus menerus, yang dimulai sejak dalam kandungan hingga dewasa, bahkan hingga tutup usia. Sebagaimana membangun sebuah rumah, proses pembangunan dimulai dari membuat fondasi, membuat desain rumah, dan merancang sistem kelistrikan yang aman serta dalam rangkaian yang dapat diprediksi. Pengalaman awal membentuk bangunan/konstruksi otak. Pondasi yang kuat pada usia dini meningkatkan kemungkinan optimalnya perkembangan anak. Membangun interaksi positif untuk mengoptimalkan perkembangan otak pada awal tahun-tahun kehidupannya adalah jauh lebih efektif,  dibandingkan apabila kita lakukan pada tahun-tahun berikutnya, dan bahkan itu akan jauh lebih mahal, karena mungkin saja diperlukan intervensi yang lebih lama dan sulit.
 Lingkungan yang didesain kaya pengalaman, sehingga memberikan banyak stimulasi positif untuk mengembangkan otak, akan sangat berharga bagi anak. Salah satu desain lingkungan yang kaya adalah memberikan kesempatan bagi anak untuk bermain, melakukan eksplorasi, percobaan-percobaan serta mencipta. Dari sinilah awal dari kecakapan anak untuk mengenal dan memperkuat serta menghubungkan lintas disiplin pengetahuan dalam bentuk STEM dimulai. Anak yang terbiasa berpikir secara komprehensif akan mudah untuk berpikir kritis, kreatif dan inovatif.
STEM ada dimana-mana, dalam setiap sisi kehidupan kita. Di rumah, di sekolah, di lingkungan sekitar, dalam hubungan kita dengan keluarga, teman, dan tetangga. STEM dapat disebut sebagai cara berpikir, tentang bagaimana seharusnya pendidik – termasuk orang tua – seharusnya membantu anak untuk mengintegrasikan pengetahuan lintas disiplin, mendorong anak untuk berpikir dengan cara yang holistik dan terintegrasi satu sama lainnya (Sneideman, 2013). Oleh karena itu, STEM dapat merupakan pendekatan, metode, isi/muatan (content), ataupun aktivitas. Dalam model ini, STEM merupakan muatan/isi dalam kegiatan pembelajaran. Sebagai muatan pembelajaran, STEM terwujud dalam berbagai aktivitas main yang dirancang oleh pendidik, sehingga muncul kecakapan anak untuk berpikir tingkat tingkat.
Kecakapan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills/HOTS) meliputi kemampuan untuk melakukan analisis, evaluasi, mengembangkan dan mencipta. Kecakapan berpikir tingkat tinggi memungkinkan anak untuk berpikir kritis dan bertindak kreatif, yang terwujud dalam kemampuan untuk menncipta, dan ini adalah sebagian dari keterampilan yang diperlukan pada abad 21, selain komunikasi dan kolaborasi. Kegiatan main yang memiliki muatan STEM, mulai menggeser dari aktivitas yang sarat dengan kecakapan berpikir tingkat rendah (Lower Order Thinking Skills/LOTS), yaitu memahami, menghafal dan menerapkan.
STEM menjadi hal yang penting dalam implementasinya di satuan pendidikan, termasuk PAUD. Pada kenyataannya, belum banyak satuan PAUD yang mengintegrasikan STEM dalam proses pembelajaran, karena berbagai hal, misalnya kurangnya kemampuan pendidik, rendahnya rasa percaya diri pada pendidik, ketidakpercayaan terhadap kompetensi dasar anak, anggapan bahwa integrasi STEM dalam proses pembelajaran membutuhkan biaya mahal, kurangnya dukungan orang tua, karena mengganggap bahwa kemampuan anak hanyalah terkait dengan membaca, menulis dan berhitung guna kesiapan memasuki sekolah favorit, dan sebagainya. Oleh karena itu, perlu adanya kegiatan bermain yang mengintegrasikan STEM dalam setiap aktivitas bermain anak, yang pada dasarnya adalah mengintegrasikannya dengan Kurikulum 2013 PAUD, sebagai bentuk diversifikasi kurikulum secara eksplisit. Pada dasarnya, Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini dengan pendekatan saintifiknya sudah memiliki muatan STEM, dan bahkan, STEM itu sendiri sudah ada dalam kehidupan sehari-hari anak.  STEM sesungguhnya sudah ada dalam banyak aktivitas permainan tradisional yang ada di Indonesia.
Kegiatan bermain yang di dalamnya terdapat muatan STEM pada dasarnya merupakan kegiatan yang menyenangkan, memberikan anak berbagai pilihan main dan cara untuk memainkan alat dan bahan (melakukan manipulasi/kreasi), melibatkan sebagian besar anggota tubuh, termasuk panca indera, melibatkan imajinasi anak, sehingga kemampuan berpikir kritis dan dan kreatif terbangun. Dengan demikian, integrasi tersebut menunjukkan bahwa ciri-ciri bermain tampak jelas.
Kegiatan bermain  yang mengintegrasikan STEM pada dasarnya dapat diberikan sejak anak berada pada jenjang kelompok bermain, dengan kisaran usia anak antara 3-4 tahun, karena karakteristik perkembangan anak pada jenjang kelompok bermain menunjukkan kesiapan untuk bereksplorasi dan beraktivitas secara lebih beragam untuk membangun dasar pengetahuan, teknologi, reka cipta dan matematika. Selain itu kelompok bermain dipilih karena pada usia tersebut terjadi perkembangan penting pada aspek fisik motorik, sensorimotorik, panca indera, dan sosial emosional, terutama pada rasa  ingin tahu, percaya diri, dan sosialisasi. Dengan demikian mengintegrasikan STEM dalam satuan Kelompok Bermain (KB) akan efektif untuk mendukung perkembangan anak pada tahapan berikutnya.
Kegiatan bermain  yang mengintegrasikan STEM pada dasarnya dapat diberikan sejak anak berada pada jenjang kelompok bermain. Hal ini karena karakteristik perkembangan anak pada jenjang kelompok bermain menunjukkan kesiapan untuk bereksplorasi dan beraktivitas secara lebih beragam untuk membangun dasar pengetahuan, teknologi, reka cipta dan matematika. Selain itu kelompok bermain dipilih karena pada usia tersebut terjadi perkembangan penting pada aspek fisik motorik, sensorimotorik, panca indera, dan sosial emosional, terutama pada rasa  ingin tahu, percaya diri, dan sosialisasi. Dengan demikian mengintegrasikan STEM dalam satuan Kelompok Bermain (KB) akan efektif untuk mendukung perkembangan anak pada tahapan berikutnya.
Kegiatan bermain yang mengintegrasikan STEM akan lebih optimal bila tersedia berbagai fasilitas yang memudahkan anak mengembangkan kemampuan saintis, teknologi, reka cipta dan matematika. Di daerah perkotaan tentunya fasilitas tersebut lebih mudah tersedia. Selain itu kegiatan bermain  yang mengintegrasikan STEM diharapkan mampu menarik minat anak agar tidak terpaku pada penggunaan gawai. Hal ini karena banyak anak usia dini yang berada di daerah perkotaan lebih asyik dengan gawai, permainan-permainan yang bersifat individual, serta menggunakan berbagai alat permainan yang siap pakai, sehingga yang kuat adalah lower order thinking skills (LOTS), bukan higher order thinking skills (HOTS).
Kegiatan bermain yang mengintegrasikan STEM akan lebih optimal bila tersedia berbagai fasilitas yang memudahkan anak mengembangkan kemampuan saintis, teknologi, reka cipta dan matematika. Di daerah perkotaan tentunya fasilitas tersebut lebih mudah tersedia. Selain itu kegiatan bermain  yang mengintegrasikan STEM diharapkan mampu menarik minat anak agar tidak terpaku pada penggunaan gawai. Hal ini karena banyak anak usia dini yang berada di daerah perkotaan lebih asyik dengan gawai, permainan-permainan yang bersifat individual, serta menggunakan berbagai alat permainan yang siap pakai, sehingga yang kuat adalah lower order thinking skills (LOTS), bukan higher order thinking skills (HOTS). Namun, bukan berarti kegiatan main yang bermuatan STEM hanya bisa dilakukan di daerah perkotaan, tetapi di daerah yang memiliki karakteristik lainnya juga sangat memunhkinkan, karena daya dukungnya yang kaya, seperti perdesaan, pegunungan, pantai dan sebagainya.
Dengan demikian, aktivitas di kelompok bermain lebih menyenangkan, mengasyikkan dan bermakna bagi anak, yang memungkinkan potensi anak berkembang tanpa batas. Pendidik hendaknya senantiasa kreatif dan inovatif dalam merancang dan melaksanakan proses pembelajaran, sehingga anak terlibat aktif. Hal ini penting guna mengembangkan seluruh potensi anak.


Surabaya, 02022020
Salam, Widya Ayu

Minggu, 25 November 2018

STEM, Apa Kabarmu?


Tulisan singkat saya kali ini hanya ingin membuka kembali pemahaman kita tentang STEM, yang mungkin sudah terkubur dalam-dalam, sehingga harus kita gali kembali.

Apakah STEM?
STEM? Apakah itu? Sesuatu yang baru? Kurikulum Baru? Atau apakah itu? Saat ini banyak yang kaget dengan STEM, lalu tergopoh-gopoh, dan kebingungan.

STEM adalah akronim dari Science, Techonolgi, Engineering, Math.

Ada yang mengatakan ini pendekatan pembelajaran, ada pula yang mengatakan bahwa ini adalah isi (content). Hal ini saja sudah membuat kebingungan. Tapi, mari kira urai sedikit demi sedikit, sehingga kita tidak selalu terkejut dan bahkan shock dengan beragam istilah dan hal-hal yang “dianggap baru”.

STEM adalah cara berpikir yang dapat membantu anak untuk mengintegrasikan pengetahuan lintas disiplin, mendorong anak berpikir secara holistik dan komprehensif dengan menghubungkan berbagai pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya.

STEM ada dimana-mana dan digunakan dimana-mana. Di rumah, di sekolah, di lingkungan masyarakat, di sawah, di ladang, di kebun, di setiap sisi kehidupan kita, ada STEM.

ANAK MELAKUKAN STEM SETIAP HARI.

Masih banyak persepsi bahwa STEM harus dilakukan dengan eksperimen/percobaan, dan memerlukan peralatan yang banyak dan mahal. Itu adalah persepsi yang TIDAK BENAR.

Terbuka dengan beragam pertanyaan anak, dan menggali keingintahuan anak, memberikan berbagai pertanyaan terbuka, yang merangsang anak untuk berpikis logis, kritis, analitis, sintesis dan evaluatif, adalah pintu  untuk mengembangkan konsep STEM pada diri anak setiap hari.

Memberikan kesempatan kepada anak untuk menghubungkan berbagai peristiwa, merangkai berbagai aktivitas kreatif, dan mencipta adalah cara untuk memperkuat konsep STEAM. Lingkungan tempat anak tinggal dan aktivitas sehari-hari, adalah bengkel kerja bagi anak. Di situlah STEAM akan muncul dan berkembang.

Jadi, permasalahan utama tidak munculnya STEM pada anak adalah KURANGNYA KESEMPATAN (Kesempatan untuk menanya, kesempatan untuk bereksplorasi, kesempatan untuk mengamati/ berinteraksi/ menemukan/ merangkai/ berkreasi/ meneliti/ mencipta).

Kurangnya kesempatan ini timbul salah satunya karena masih belum mampunya orang terdekat anak (orangtua atau guru) untuk menggali, menanya dan menyediakan berbagai kesempatan melalui – salah satunya – penyediaan alat dan bahan.


STEM akan muncul bila pembelajaran berbasis inkuiri, yang pada prinsipnya :
·         Anak mengkonstruksikan pengalamannya sendiri (pendekatan konstruktivisme)
·         Minat anak sangat dihargai
·         Mendorong pembelajaran aktif, karena anak adalah pembelajar aktif
·   Mendorong pembelajaran yang lebih dalam lagi, dengan cara menggali secara terus menerus   pengalaman anak.
·         Anak diberi kesempatan untuk menanya dan memecahkan masalah dari waktu ke waktu

Membangun Kemampuan Berpikir untuk Mengembangkan STEM
· Science adalah cara berpikir. Sicence adalah melakukan observasi, eksperimen, membuat prediksi, berbagai penemuan, bertanya dan mencari tahu bagaimana sesuatu dapat bekerja.
· Technology adalah cara melakukan/mengerjakan sesuatu. Teknologi adalah menggunakan peralatan, mengidentifikasi permasalahan dan membuat “sesuatu” menjadi berfungsi/bekerja.
·   Engineering adalah memecahkan masalah. Engineering adalah menggunakan berbagai macam material, mendesain, mencipta dan membangun.
· Matematika adalah cara pengukuran. Matematika adalah mengurutkan, mengeksplorasi bentuk, volume dan ukuran.

Bagaimana Kenyataan STEM dalam Kehidupan Keseharian Anak?

Kita yang lahir tahun 1970 an mungkin masih mengingat dengan jelas apa yang kita lakukan ketika bermain. Kita bermain di halaman rumah, mengumpulkan tanah kemudian membuat rumah-rumahan dari tanah. Kita tanpa sengaja “meneliti” kondisi tanah, memisahkan yang terlalu kering dengan sapu lidi, lalu menggunakan tanah yang agak basah untuk membangun tembok rumah, mengukur tinggi tembok, membangun bagian-bagian dalam rumah, menambahkan dengan material lain, misalnya batu, kerikil, pasir, dan lain-lain. Kita memperindahnya dengan berbagai aksesoris dari alam, daun, bunga, ranting, lalu kita membuat oreang-orangan dari sapu lidi. Pada bagian akhir, kita memainkannya bersama teman-teman. Tanpa sadar, STEM ada dalam aktivitas bermain kita sehari-hari.

Saat kita meneliti tanah, mengamati tekstur dan jenisnya, saat itulah Scence muncul.
Ketika kita menggunakan berbagai peralatan untuk menggali dan mengumpulkan tanah, kerikil, pasir, daun, bunga, daun, ranting,  saat itulah kita menggunakan teknologi sederhana.
Saat kita merancang bentuk rumah, merancang tinggi tembok, membuat bagian-bagian dalamnya, menggabung berbagai material untuk aksesoris rumah, saat itulah, engineering berkembang.
Saat kita mengukur tingkat kebasahan tanah untuk membuat tembok rumah, mebuat bagian dalam rumah dengan berbagi ukuran yang berbeda, saat itulah kita belajar matematika.

Siapkan ALAT DAN BAHAN, Maka STEM akan Berkembang!!! Siapkan “OPEN ENDED MATERIAL” (Alat dan Bahan yang dapat Dikreasikan/Dibentuk oleh Anak).
Lingkungan kita KAYA AKAN ALAT DAN BAHAN, yang bisa dieksplorasi, digunakan, dirangkai, dan dikreasikan oleh anak. Dari sinilah, anak akan memiliki kecakapan dan kemampuan berpikir yang tinggi.

Jadilah GURU dan ORANGTUA KREATIF, ADAPTIF dan INOVATIF. Rangsang  anak dengan pertanyaan TERBUKA (OPEN ENDED QUESTIONS).

CONTOH ALAT DAN BAHAN YANG BISA DISIAPKAN

No.
Alat dan Bahan dari Rumah
Alat dan Bahan dari Lingkungan Sekitar
Berbagai bentuk Balok
Alat dan Bahan dari Pertukangan
1.
Peralatan memasak (panci, wajan, sendok, garpu, alat penggorengan, piring, gelas, wadah air isi ulang,  dll)
Tanaman : daun, buah, bunga, ranting, batang pohon, tangkai bunga/daun, akar, biji
Balok natural
Balok warna
Kayu/limbah kayu
Mur
Baut
Selang
2.
Bumbu dapur : garam, gula, rempah-rempah
Tanah, air, pasir, kerikil, batu
Bentuk-bentuk geometri

3.
Kain perca, baju bekas, kerudung bekas
Binatang (yang sudah mati/kering) : aneka kerang, karang, kerangka ikan, keong
Kardus


Kegiatan bermain :
1.      Bermain musik
2.      Bermain peran
3.      Merancang irigasi
4.      Membuat aneka kreasi dari bahan alam
5.      Membangun rumah/pabrik
6.      Berkreasi dengan kain perca, baju bekas, kerudung bekas
7.      Membuar areal persawahan/perkebunan/hutan/laut
8.      Bermain dengan bahan alam (tanah, air, pasir, dan lain-lain)
9.      Berkreasi dengan balok
10.  Membuat aneka karya seni dari bagian-bagian tanaman
11.  Berkreasi dengan alat dan bahan pertukangan
12.  Bermain di sawah (mengamati berbagai jenis tanaman/binatang, menanam, mengamati tekstur tanah, dll)
13.  Bermain di kebun

Dukungan orangtua/pendidik
1.    Memberikan pertanyaan terbuka : apa yang terjadi bila ... , apalagi yang dapat dilakukan ..., apa yang membedakan ..., apa lagi yang bisa ditambahkan dalam ... , apa yang menyebabkan ... , dan seterusnya
2. Memberikan kesempatan kepada anak untuk MENGAMATI, MENANYA, MELAKUKAN, MENALAR, MENGOMUNIKASIKAN
3.      Memberikan nama (naming)
4.      Memperkuat sikap, pengetahuan dan keterampilan anak

Jadi, kembali ke pertanyaan awal, apakah STEM memang sesuatu yang baru? Ataukah... STEM itu sudah ada, atau ekstrimnya, sudah pernah ada, namun terkubur dalam-dalam, dan sekarang kita harus menggalinya kembali dengan segala daya upaya.

Jangan-jangan, memang STEM sudah benar-benar terkubur, karena kemampuan analisis, sintesis, evaluatif (yang dalam bahasa keren disebut sebagai Higher Order Thinking Skill/HOTS), lebih banyak digantikan dengan kemampuan untuk menghafal, menerapkan saja, tanpa makna (yang dalam bahasa keren disebut sebagai Lower Order Thinking Skill/LOTS).

Mari kita renungkan dan pikirkan... demi perkembangan anak-anak kita yang lebih baik dan cemerlang.

Salam Widya /
Surabaya 24-11-18


Selasa, 14 Maret 2017

PENGAMATAN DAN PENCATATAN PERKEMBANGAN BICARA

Perkembangan bicara anak perlu diketahui, sehingga tampak tahap perkembangan bicara dan kemungkinan adanya gangguan atau keterlambatan. Oleh karena itu, perlu dilakukan penilaian perkembangan bicara, yang difokuskan pada tiga tujuan utama, yaitu :
1.         Mendokumentasikan perkembangan bicara anak sebagai dasar untuk melaksanakan stimulasi dan intervensi selanjutnya. Bagi guru PAUD, data perkembangan anak sangat bermanfaat untuk menyusun program pembelajaran selanjutnya
2.         Mengecek kemungkinan terjadinya keterlambatan bicara, sehingga dapat direncanakan tindak lanjut, terutama apabila harus berhubungan dengan para profesional
3.         Melakukan diagnosis kemampuan bicara anak pada beberapa bidang khusus yang kesulitan, misalnya artikulasi, fonologi dan sebagainya
Penilaian perkembangan bicara dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu penilaian formal dan penilaian informal. Penilaian informal dalam pendidikan anak usia dini lebih banyak dilakukan dengan observasi, danmendokumentasikannya melalui daftar centang (checklist), catatan anekdot (anecdotal records) dan rekaman audio atau video. Penilaian formal meliputi kegiatan untuk mendapatkan respon anak-anak terhadap segala hal yang berkaitan dengan tugas perkembangan bicara, misalnya dengan meminta anak mengungkapkan pendapatnya di depan anak lain atau kelompok. Penilaian formal meliputi prosedur khusus untuk pengadministrasian, penilaian, pelaporan maupun interpretasi. Kedua jenis penilaian tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Penilaian informal sering digunakan untuk mendokumentasikan perkembangan bicara sementara penilaian formal lebih sering digunakan untuk proses diagnosis, terutama untuk melakukan pemeriksaan keterlambatan bicara serta mendiagnosis wilayah-wilayah khusus yang sulit dalam perkembangan bahasa. Dengan demikian, penilaian informal lebih sering dan lebih banyak digunakan terutama oleh pendidik PAUD.
Penilaian perkembangan bicara hendaknya dilakukan secara berkelanjutan, sehingga pendidik memiliki pemahaman yang komprehensif terhadap kemampuan berbicara anak, yang dapat digunakan untuk melakukan penyesuaian dan pengembangan kurikulum, sehingga sesuai dengan kebutuhan anak. Sebagai contoh, apabila pendidik melalui observasi berulang kali mendapatkan bahwa perkembangan kosakata anak dalam kondisi yang memerlukan perhatian, maka guru dapat memodifikasi kurikulum sehingga dapat menggabungkan lebih banyak pengalaman dan kegiatan dengan konsep yang kaya dan fokus pada pengembangan kosakata anak.
Sebagaimana dikutip dari Bredekamp dan Copple, 1997, penilaian berkelanjutan hendaklah 1). Berkelanjutan, strategis dan memiliki tujuan yang jelas, 2). Terutama meliputi observasi dan gambaran perkembangan anak dan contoh-contoh pembelajarannya, dan 3). Mencerminkan kemajuan anak dalam mencapai tujuan-tujuan perkembangan. Penilaian berkelanjutan tersebut sejalan dengan konsep penilaian otentik, yang menekankan ciri-ciri berikut (Kostelnik, Soderman, dan Wirren, 2007; Morisson, 2009):
1.    Berlangsung dalam konteks pembelajaran yang alami pada kegiatan sehari-hari
2.    Fokus pada hal-hal yang dilakukan anak-anak
3.    Merupakan suatu kesatuan dalam kurikulum umum di kelas
Morisson (2009) menyebut penilaian otentik sebagai penilaian yang berbasis pada pelaksanaan pembelajaran.

Pengamatan atau observasi sebagai cara yang paling sering digunakan dalam penilaian informal, merupakan aktivitas yang fleksibel dan bisa diadaptasikan dengan situasi khusus di kelas, tetapi guru harus memiliki pemahaman yang jelas mengenai jenis perilaku atau pencapaian perkembangan bicara yang diamati. Apabila pendidik tidak memahami standar pencapaian perkembangan bicara, maka kesimpulan yang diambil tidak akan valid, sehingga dapat menghasilkan keputusan yang tidak tepat. Oleh karena itu, pengamatan sebaiknya dilakukan beberapa kali agar terlihat pola perkembangan bicara anak….. (Salam Widya, Surabaya 14 Maret 2017)

PERKEMBANGAN BICARA ANAK USIA DINI

Anak yang berbicara menggunakan bahasa lisan, menurut beberapa penelitian, tampak lebih sukses apabila dibandingkan dengan anak yang kurang fasih dalam berbicara (Fey, Catts & Larrivee, 1995). Pada anak yang sudah mulai belajar membaca dan menulis, menggunakan pengetahuan bahasa lisan sebagai dasar untuk mengungkapkan pengetahuan dan pengalaman barunya. Anak dengan kemampuan bicara yang baik, mampu mengekspresikan pikirannya dan berinteraksi sosial dengan baik. Dasar dari kemampuan bicara yang baik adalah kosakata, produksi dam pemahaman sintaksis, kesadaran fonemik, dan produksi serta kesadaran naratif. Kemampuan berbicara akan mendorong perkembangan bahasa, baik dalam bentuk reseptif maupun ekspresif. Kemampuan bahasa reseptif akan berkembang ketika anak mendapatkan banyak kesempatan untuk mendengarkan dan memahami arahan serta instruksi sederhana, baik dari orangtua, guru maupun teman sebaya. Dengan demikian, anak yang memiliki kesempatan luas untuk melakukan interaksi sosial, akan memiliki perkembangan bicara dan bahasa yang baik, asalkan tidak terdapat gangguan pada otak atau persarafan yang mengendalikan perkembangan tersebut. Dengan demikian, interaksi sosial membantu memperluas kemampuan berbicara anak.
Di sisi lain, perkembangan bicara juga mendorong kemampuan interaksi sosial yang luas. Anak yang mampu melakukan percakapan dan merespons pembicaraan orang lain juga akan lebih diterima, sementara anak yang kesulitan berbicara akan cenderung diabaikan dari interaksi sosial informal atau interaksi kolaboratif. Ketidakmampuan dalam keberhasilan partisipasi suatau percakapan atau ketidakmampuan dalam mengartikulasikan secara jelas bunyi kata akan menurunkan perasaan suka anak lain, untuk berusaha berbicara atau bermain (Otto, 2015).
Perkembangan bicara pada anak usia dini merupakan salah satu aspek perkembangan penting, karena mempengaruhi aspek-aspek perkembangan lainnya. Pada setiap tahap pertambahan usia, perkembangan bicara anak semakin terlihat, yaitu semakin kompleks. Pada saat bayi dilahirkan, dia berkomunikasi dengan tangisan, seiring dengan bertambahnya usia, bayi kemudian membuat suara-suara, seperti ah... eh.. uh... yang disebut dengan cooing(suara tidak beraturan). Bayi juga senang sekali berkesperimen dengan berbagai bunyi yang dapat dihasilkannya, lalu dilanjutkan dengan mulai mengenali emosi dan mengoceh (babling). Babling biasanya diucapkan dengan suku kata tunggal, menggunakan huruf-huruf bilabial, misalnya papapa... mamama... bababa..., Inilah sesungguhnya tahap awal perkembangan bicara. Ocehan adalah bunyi eksplosif awal yang disebabkan oleh gerakan mekanisme suara. Agar perkembangan bicara menjadi optimal, lingkungan yang kaya stimulasi akan sangat mendukung.
Owens, 2001, menyebutkan bahwa terdapat sekitar 10% anak sekolah dasar yang memiliki beberapa jenis gangguan komunikasi. Misalnya, anak dengan gangguan pendengaran, mengalami kesulitan dalam bahasa reseptif. Anak yang memiliki masalah memproduksi bunyi tertentu mengalami kesulitan dengan bahasa ekspresif. Anak yang berisiko mengalami gangguan berbicara dan bahasa selama masa prasekolah termasuk  yang sering terkena infeksi telinga, tidak berbicara atau memiliki ujaran yang terbatas, mengalami masalah berinteraksi (Patterson & Wright, 1990). Ada atau tidaknya kecenderungan keterlambatan bicara dapat dideteksi melalui penilaian yang dilakukan oleh guru, orangtua ataupun tenaga profesional.
Oleh karena itu, perkembangan bicara perlu diamati dan dicatat, sehingga gambarannya dapat diketahui dari waktu ke waktu. Gambaran perkembangan ini menjadi hal yang penting, agar apabila terdapat kemungkinan keterlambatan atau penyimpangan, dapat diketahui kemudian dilakukan stimulasi dan intervensi dini. Deteksi, stimulasi dan intervensi dini dapat dilakukan bersama-sama antara guru, orangtua dan tenaga profesional. Dengan demikian, akan didapatkan hasil yang komprehensif tentang perkembangan bicara anak.

Penilaian perkembangan bicara anak dapat dilakukan melalui pengamatan, pencatatan dan pendokumentasian setiap aktivitas yang terkait dengan hal tersebut. Penilaian tersebut hendaknya dilakukan secara berkala dan sistematis, sehingga tren atau kecenderungannya dapat diketahui. Penilaian sangat penting artinya untuk deteksi, stimulasi maupun intervensi dini, sehingga sedapat mungkin anak mengalami perkembangan bicara yang optimal sesuai dengan usianya. Perkembangan bicara yang optimal sangat berpengaruh terhadap kehidupan anak selanjutnya, terutama dalam mengembangkan interaksi dan sosialisasi dalam rangka penyesuaian sosial dengan teman sebaya, orangtua, guru, maupun orang lain di sekitar anak. ... (Salam Widya, Surabaya, 14 Maret 2017)