Jumat, 20 Januari 2012

Bermain sebagai Media Katarsis Bagi Anak



Dalam kehidupan sehari-hari, anak  mengalami berbagai bentuk kesulitan yang dapat menyebabkannya berada dalam tekanan (stres). Kesulitan tersebut mulai dari tingkat ringan hingga yang berat, dan berasal baik dari dalam diri anak, keluarga maupun lingkungan. Kesulitan yang berasal dari dalam diri anak antara lain pengendalian diri, keinginan, sikap, tutur kata maupun tindakan, sehingga berimbas ke dalam perlakuan orang lain terhadap anak. Kesulitan yang berasal dari dalam keluarga antara lainketidaktepatan pola asuh orangtua, orangtua yang mengalami ketidakstabilan sosial,  ekonomi, fisiologis maupun psikologis, kehadiran anggota keluarga lain yang dapat mengurangi otonomi anak, dan sebagainya. Sementara itu, kesulitan yang berasal dari lingkungan masyarakat antara lain tata nilai yang tidak sesuai dengan yang ada dalam keluarga, persaingan antar teman sebaya, kurangnya penerimaan oleh teman sebaya, ketidakteraturan kondisi masyarakat, dan sebagainya.
Dengan adanya berbagai kesulitan tersebut, anak memerlukan media katarsis, untuk menyeimbangkan kondisi fisik dan psikologis, sehingga dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Salah satu media katarsis yang dapat digunakan oleh anak adalah bermain.
Bermain memegang peranan yang sangat penting dalam membantu anak untuk melepaskan energi positif, melepaskan emosi yang terpendam, mengembangkan kreativitas dan meningkatkan intelegensi. Dengan bermain, anak mendapatkan keseimbangan dalam pengembangan aspek fisik, psikis dan sosial.
Oleh karena itu, anak perlu mendapatkan kesempatan yang cukup untuk bermain, sehingga anak juga mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru yang luas serta mendapatkan keseimbangan guna kesehatan sosial, fisik dan mentalnya. 
(Surabaya, 20 Jan 2012..Salam, Widya)

Kamis, 22 Desember 2011

Dimensi Kesehatan Anak

Kesehatan merupakan dambaan setiap orang, karena dengan kesehatan yang prima kita dapat melaksanakan berbagai aktivitas dengan baik. Oleh karena itu, banyak dilakukan agar tetap sehat. Sehat sempurna memiliki pengertian dan spektrum yang sangat luas serta senantiasa mengalami perkembangan. Dahulu kesehatan hanya dipandang dari sisi fisik (biologis), akan tetapi kemudian berkembang menjadi lebih luas lagi.
Menurut WHO, yang dimaksud dengan kesehatan adalah :
“A state of complete physical, mental, and social well being and not merely the absence of disease or infirmity”  (Suatu keadaan yang sempurna baik fisik, mental dan sosial tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan).
Senada dengan definisi WHO, kamus besar bahasa Indonesia menyebutkan bahwa sehat adalah keadaan baik seluruh badan serta bagian-bagiannya (bebas dari rasa sakit) atau waras (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2005). Menurut Undang-undang Kesehatan No. 36 tahun 2009, definisi kesehatan jauh lebih luas dan kompleks, yaitu keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis (Bab 1 ketentuan umum pasal 1 butir 1). Jadi yang disebut sebagai sehat, bukan hanya tidak adanya penyakit atau rasa sakit pada individu atau terbatas pada kondisi fisik saja, tapi juga pada aspek kejiwaan atau psikologis, sosial dan produktivitas. 
Kesehatan merupakan hak dasar bagi setiap individu, termasuk anak. Anak yang sehat sempurna, baik dari aspek fisik, psikologis maupun sosial, diharapkan dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sehingga kelak menjadi generasi unggul yang siap menghadapi kompetisi global.
Kesehatan sosial berkaitan dengan interaksi antara anak dengan teman sebaya dan orang dewasa. Anak yang sehata secara sosial tidak mengalami kesulitan adaptasi atau penyesuaian sosial. Mereka dapat membangun dan mengembangkan hubungan positif serta mampu mengkomunikasikan ide/gagasan, pendapat, alasan atau pikiran-pikiran kritis lainnya.
Kesehatan fisik seorang anak tercermin dari pertumbuhan badan, ketiadaan penyakit atau kecacatan serta kemampuan pulih dari suatu penyakit. Anak yang memiliki kesehatan fisik baik memiliki pertumbuhan badan yang sesuai dengan usia, tidak mudah terserang penyakit, tidak mengalami kecacatan fisik serta mudah pulih dari penyakit. Anak tersebut memiliki aktivitas fisik dan kemampuan melakukan eksplorasi lingkungan yang aktif.
Pada aspek psikologis, ranah kesehatan anak mencakup kesesuaian antara perkembangan emosi, sosial, moral, kognitif dengan tugas perkembangan anak dalam setiap usia.
Ketiga aspek kesehatan tersebut saling mempengaruhi dan bersifat timbal balik, sehingga diharapkan anak memiliki kesehatan fisik, psikologis dan sosial yang prima. Dengan demikian, anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.
(Surabaya 23 Desember 2011; Salam, Widya)

Kamis, 15 Desember 2011

Sepenggal catatan tentang : Kesantunan Sosial



Baru-baru ini saya mengikuti diskusi ilmiah di sebuah kampus ternama di kota Surabaya. Dalam diskusi tersebut, dihadirkan narasumber salah seorang pakar perkembangan anak, dan diikuti oleh peserta yang terdiri atas pemerhati anak serta para profesional yang berkaitan dengan perkembangan, pertumbuhan dan kesehatan anak. Secara khusus, diskusi tersebut membahas tentang anak-anak yang mengalami malnutrisi (salah gizi) dan penanganannya.

Sebagaimana diskusi biasanya, pasti ada peserta yang tidak atau kurang setuju dengan konsep yang disampaikan oleh pembicara. Akan tetapi, hal yang luar biasa adalah ketidaksetujuan ataupun sanggahan tersebut disajikan dalam kesantunan sikap, bahasa dan tingkah laku, sehingga tampak perilaku yang saling menghargai dan menghormati perbedaan. Di sana tidak nampak upaya untuk merendahkan atau menjatuhkan seseorang. Sungguh, sebuah kesantunan yang dibangun oleh masyarakat akademik, dengan mengedepankan toleransi dan keberadaban, serta tidak menunjukkan keangkuhan atas pengetahuan dan pengalaman individu, padahal para peserta yang hadir di dalam forum tersebut adalah orang-orang ternama, yang memiliki pengalaman, pengetahuan dan pemahaman luas, serta berpendidikan tinggi.

Kesantunan seperti ini apabila menular ke masyarakat yang lebih luas, dan setiap hari disaksikan oleh anak-anak kita yang sedang dalam proses mengembangkan karakter, pasti akan mampu mewujudkan masyarakat yang lebih beradab. Pembangunan kesantunan sosial pada dasarnya dimulai dari setiap individu. Pada hakekatnya, sesungguhnya manusia telah dibentuk menjadi manusia yang santun, yang dimulai dari tingkatan sel yang ada dalam tubuh manusia itu sendiri.

Coba kita kaji tubuh kita masing-masing dan mekanisme kerjanya. Setiap individu dibentuk dari 2 sel yang menyatu, yaitu ovum dan sperma. Sel yang menyatu ini kemudian membelah menjadi lebih banyak sel. Setiap sel baru, meski dengan komposisi yang sama, menjalankan fungsinya masing-masing. Sel yang bertanggung jawab atas pembentukan jantung membentuk jantung dengan sempurna hinggap mampu berdegub memompa darah tiada henti. Sel yang bertanggung jawab atas pembentukan mata, membentuk mata dengan sempurna, hingga dapat menyaksikan keindahan dunia sebagai ciptaan Allah SWT, demikian pula dengan sel-sel yang lainnya. Tidak ada sel yang ingin berubah fungsi. Sel pada kuku, tidak pernah ingin menjadi sel rambut, sel hidung tidak pernah ingin menjadi sel telinga.

Semua sel tubuh menerima dan menjalankan tugas serta fungsinya dengan penuh tanggung jawab. Sel-sel tubuh manusia pada bagian tertentu tidak pernah merasa iri terhadap tugas dan tanggung jawab sel-sel tubuh yang lainnya. Sel-sel rambut tidak pernah iri dengan sel-sel jantung yang penuh dengan aliran darah. Sel-sel pada saluran pembuangan, yang bertanggung jawab atas pembuangan kotoran, juga tidak pernah iri dengan sel-sel otak yang bertanggung jawab atas kecerdasan manusia, ataupun pada sel-sel rambut yang selalu disanjung hingga disebut sebagai mahkota. Sel-sel paru-paru, yang tidak pernah beristirahat sepanjang hidup manusia, tidak pernah iri dengan sel-sel mata, yang bisa beristirahat setiap saat. Semua sel bekerja sama, bahu membahu, saling menjaga, melindungi, menghormati dan menghargai, sesuai dengan fungsinya masing-masing, sehingga tubuh manusia dapat berfungsi dengan sempurna.

Kita hidup, sehat, dan dapat berkarya, karena sel-sel tubuh kita begitu santunnya dalam bekerja. Lalu, yang menjadi pertanyaan mendasar adalah, mengapa ketika kita hidup di masyarakat, kesantuan ini menjadi barang yang langka?

Kita sangat sulit menjaga lisan kita, hati kita, mata kita, pendengaran kita, pemikiran kita dan bahkan tingkah laku kita, padahal, tubuh kita sendiri telah mengajarkan hal tersebut. Inilah yang patut menjadi renungan kita semua, apabila kita berharap kesantunan menjadi karakter kepribadian kita dan anak cucu kita nantinya.  
(Surabaya, 16 Desember 2011; Salam, Widya)

Rabu, 14 Desember 2011

Kaitan antara Perkembangan Kognitif Anak dengan Kemampuan Anak dalam Merespons Kesulitan


Salah satu aspek kesehatan psikologis berkaitan dengan perkembangan kognitif. Dimensi perkembangan kognitif  berkaitan dengan daya nalar atau daya pikir anak yang berhubungan dengan pemrosesan, penyimpanan, dan pemanfaatan kembali  informasi melalui proses memori (Santrock, 1995). Proses tersebut salah satunya berkaitan dengan kemampuan anak dalam memecahkan masalah, mengatasi konflik, dan berbagai kesulitan lainnya, yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya.
Fenomena di lapangan menunjukkan bahwa ada anak yang mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan namun ada pula yang pantang menyerah walaupun mengalami kesulitan atau kegagalan berkali-kali. Sebagai contoh anak yang sedang belajar menaiki sepeda. Ada anak yang ketika terjatuh bangkit lagi dan belajar lagi sampai bisa menaiki sepeda, akan tetapi ada pula yang menyerah dan bahkan takut untuk mencoba lagi ketika terjatuh dari sepeda. Pada saat bermain, ada anak yang mudah menyerah ketika mengalami kesulitan dalam memasang puzzle, namun ada pula yang terus mencoba hingga berhasil (Stolzt, 2000).
Di sisi lain, seiring dengan perkembangan jaman, anak dihadapkan pada berbagai kesulitan sejak masa kanak-kanak (childhood adversity)  mulai dari yang ringan hingga berat, misalnya child abuse, ketidakharmonisan keluarga, pola disiplin yang kurang atau tidak konsisten, child maltreatment, child trauma, dan childhood stressful events (Lumley, 2007; Diane, 2007).
Oleh karena itu, anak diharapkan memiliki respons yang baik terhadap berbagai kesulitan. Kemampuan merespons kesulitan apabila tertanam sejak dini akan menjadi sebuah kebiasaan atau perilaku menetap, yang akan terus dibawa kelak ketika anak menjadi remaja atau dewasa. Kemampuan menghadapi kesulitan yang baik merupakan dasar bagi terbentuknya pribadi tangguh. Syarif  (2009)  menyebutkan bahwa anak yang tangguh akan mampu mengontrol emosi dan membentuk tindakan yang mengubah kejadian penuh stres menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi diri. Dengan demikian, individu tersebut memiliki kepribadian tangguh dan dapat menjalani kehidupan  serta mengisinya dengan berbagai pengalaman yang menyenangkan. Hal ini diperkuat oleh Istono (1999) bahwa individu yang memiliki kepribadian tangguh akan lebih kuat dalam menghadapi berbagai kenyataan dan beradaptasi secara lebih efektif terhadap kejadian yang penuh dengan tekanan apabila dibandingkan dengan individu yang lemah.
Putri (2008) menyatakan bahwa individu yang berkepribadian tangguh memiliki tingkat keyakinan yang tinggi, dapat mempengaruhi dan mengendalikan berbagai peristiwa yang terjadi atas dirinya (control). Individu juga memiliki kecenderungan untuk melibatkan diri dalam aktivitas yang sedang dihadapi (commitment) dan memandang suatu perubahan yang terjadi sebagai kesempatan untuk mengembangkan diri, bukan sebagai ancaman terhadap rasa aman (challenge). Tipe kepribadian tangguh memberikan konstelasi  yang menguntungkan bagi seseorang untuk mengatasi tekanan hidup sehingga menjadi pribadi yang  tahan banting.
Beberapa hasil penelitian menyimpulkan bahwa individu yang berkepribadian tangguh memiliki penyesuaian diri yang lebih efektif terhadap peristiwa yang menimbulkan stres. Penelitian yang dilakukan oleh Faridah (2004) membuktikan bahwa terdapat hubungan negatif antara kepribadian tangguh dengan kecenderungan somatisasi (gangguan fisik yang diakibatkan oleh gangguan psikologis).  Semakin tinggi ketangguhan kepribadian seseorang, semakin rendah kecenderungan somatisasinya, demikian pula sebaliknya.
Penelitian serupa dilakukan oleh Yayasan Topeka dan rumah sakit Chestnut Lodge, Maryland, Amerika Serikat, pada tahun 1987,  mengenai kehidupan keluarga dengan ibu menderita paranoia skizopfrenik. Dua anak perempuan dari keluarga tersebut mengalami hal yang sama, tetapi seorang anak laki-lakinya sama sekali tidak menderita paranoia skizofrenik serta tidak terpengaruh kondisi tersebut. Anak laki-laki tersebut berhasil menyelesaikan pendidikan di universitas dan menjadi sarjana hukum yang brilian. Penelitian tersebut  juga mengungkapkan mengenai anak-anak yang berasal dari Pulau Kauai, Hawaii, sebuah kawasan perkebunan gula, yang pada tahun 50-an dikenal sebagai daerah miskin. Sebagian besar anak  yang tumbuh di lingkungan ini mengalami gangguan emosional dan pada usia 7 – 10 tahun mengidap kelainan psikologis, namun ternyata satu di antara 10 anak bisa tumbuh dengan baik, menempuh masa-masa sulit, mampu bertahan (survive), intelektualnya berkembang, mencapai karier di atas rata-rata, dan muncul sebagai sosok yang menonjol. Mereka inilah anak-anak tangguh yang mampu merespons kesulitan dengan baik.
Ada pula kisah dari negeri seberang, pada tahun 2007, mengenai anak tangguh dengan kemampuannya yang luar biasa untuk merespons kesulitan, bernama Zhang Da, berasal dari propinsi Zhejiang, Cina. Pada usia 10 tahun Zhang Da harus bergulat dengan kemiskinan, tetap bersekolah, merawat dan mengobati ayahnya yang lumpuh dan ditinggalkan oleh ibunya. Dia tidak menyerah dan memikul tanggung  jawab untuk melanjutkan kehidupannya dan ayahnya. Pada saat ini Zhang Da berusia 15 tahun  dan mendapatkan penghargaan dari pemerintah Cina sebagai anak luar biasa.
Di tanah air  juga terdapat kisah mengenai anak yang tangguh sebagaimana ditulis oleh Irfan (2010). Perempuan kecil bernama Sinar, berusia 6 tahun, tinggal di pedalaman hutan Polewali Mandar, Sulawesi Selatan. Selama bertahun-tahun Sinar harus mengurus dan merawat ibunya yang lumpuh, sementara ayahnya telah meninggalkannya sejak usia 4 tahun. Dia memikul tanggung jawab dengan semangat pantang menyerah dalam kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan, yaitu berada dalam hutan, rumah tidak layak huni, tanpa listrik, dan tanpa pendukung kehidupan lainnya yang memadai. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa anak tangguh mampu merespons berbagai kesulitan yang dialami pada masa kanak-kanak dengan baik.
Beberapa penelitian terdahulu juga menunjukkan bahwa kesulitan pada masa kanak-kanak yang tidak dihadapi dengan baik memberikan dampak negatif terhadap perkembangan selanjutnya karena dapat mempengaruhi dan membahayakan kehidupan anak kelak dewasa (Harkness, 2002; Lumley, 2007; Pediatrics, 2008; Maunder, 2008). 
Para peneliti dari University College London pada tahun 2008 menyebutkan bahwa kesulitan pada masa kanak-kanak (childhood adversity) apabila tidak direspons dengan baik mengakibatkan timbulnya obesitas ketika dewasa dan meningkatkan risiko terjadinya diabetes tipe 2. Hal ini dipertegas oleh penelitian Foley (2004) yang meneliti hubungan antara kesulitan pada masa anak-anak (childhood adversity), tipe genotipe monoamine oksidase A dan perilaku menyimpang  pada anak laki-laki kembar usia 8 – 17 tahun, mendapatkan hasil bahwa kepribadian anak-anak yang bersifat antisosial berkaitan dengan pola asuh yang buruk disertai oleh kemampuan dalam menghadapi kesulitan yang rendah.
Kemampuan merespons kesulitan sesungguhnya terprogram dalam otak. Otak mampu membedakan antara individu yang memiliki kemampuan merespons kesulitan antara  yang tinggi dan rendah melalui bahan kimiawi yang dikeluarkan oleh tubuh. Bahan ini merembes ke seluruh tubuh, sehingga dapat berpengaruh pada tingkat seluler. Individu yang memliki kemampuan merespons kesulitan dengan baik adalah individu yang tangguh. Individu yang tangguh memiliki energi positif yang tinggi ketika mengalami kesulitan (Stolzt, 2000). Energi ini terus mengalir hingga tumbuh menjadi remaja dan dewasa.
Werner (1974) (Stolzt, 2000) menyatakan bahwa anak tangguh merupakan anak yang ulet serta perencana yang baik sehingga tumbuh menjadi orang yang mampu menyelesaikan masalah dan memanfaatkan peluang. Riset Werner juga menyebutkan bahwa anak yang ulet tersebut tumbuh menjadi generasi yang memiliki kesehatan baik.
Masa depan penuh dengan tantangan, peluang dan juga kesulitan. Oleh karena itu, diperlukan generasi tangguh yang dapat bertahan dalam setiap situasi, mampu menghadapi setiap kesulitan dengan baik, serta menjawab setiap tuntutan yang semakin tinggi dalam perkembangan global. Generasi tangguh dapat tumbuh dan berkembang dengan baik dalam segala kondisi, tidak menjadi anak yang maladaptive, memiliki tingkat kesehatan fisik dan psikis yang baik, serta dapat menjadikan kesulitan sebagai tantangan dan peluang untuk maju dan berprestasi. Kemampuan untuk merespons kesulitan dan mengubahnya menjadi peluang inilah yang disebut sebagai adversity response (AR).

(Surabaya, 14 Desember 2011: Salam, Widya)

Jumat, 09 Desember 2011

Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini


Ketika bayi dilahirkan ke dunia, dia memerlukan interaksi dengan orang lain. Interaksi inilah dasar bagi perkembangan sosial emosional seorang anak. Ketika dia berinteraksi, berbagai pengetahuan dan pengalaman baru terbentuk dan dikuatkan. Anak memperkaya bahasa dan kemampuan komunikasinya berkat adanya interaksi sosial. Dalam perkembangannya, anak mempelajari  berbagai aturan, norma dan nilai, juga melalui interaksi sosial.

Interaksi sosial yang sehat dan positif membantu meningkatkan perkembangan sosial emosional yang baik. Ketika kita berbicara masalah sosial emosional, ada dua hal yang terlibat, yaitu hubungan sosial dan perkembangan emosi. Hubungan sosial menyangkut hubungan anak dengan orang lain di sekitarnya, termasuk orangtua, teman sebaya, saudara kandung ataupun orang dewasa lainnya. Anak perlu memiliki hubungan sosial yang luas sehingga mudah menyesuaikan diri. Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah meningkatkan frekuensi bermain dengan teman sebaya. Interaksi anak dengan teman sebaya dapat mengurangi sifat egosentris anak, serta memahami berbagai aturan sosial.

Emosi merupakan suatu konseptualisasi yang sangat penting dalam ranah perkembangan anak. Mendefinisikan emosi tidaklah mudah, tetapi beberapa ahli menyatakan bahwa emosi merupakan perasaan atau afeksi yang timbul ketika seseorang sedang berada dalam suatu keadaan atau suatu interaksi yang dianggap penting olehnya, terutama well being dirinya (Campos, 2004; Saarni, dkk, 2006).

Kemampuan pengendalian emosi sangatlah diperlukan dalam interaksi sosial, dan pada anak usia dini sedang dalam proses perkembangan, sehingga sering terlihat kecenderungan tidak stabil. Ketidakstabilan tersebut tampak dari ekspresi yang mudah dan cepat sekali berubah. Sebagai contoh, seorang anak dapat tertawa terbahak-bahak, padahal baru saja menangis meraung-raugn. Oleh karena itu, anak perlu dibekali kemampuan mengendalikan emosi melalui contoh yang baik serta pembiasaan sejak dini.

Contoh yang baik ini berasal dari orang yang ada di dekat anak, seperti orangtua, guru, saudara atau orang dewasa lain. Apabila anak dikelilingi oleh orang-orang yang memiliki pengendalian emosi yang baik, maka dia akan memiliki kecenderungan pengendalian emosi yang baik, demikian pula sebaliknya. Oleh karena itu, kita sebagai orang dewasa yang erat berinteraksi dengan anak hendaklah memiliki kematangan dalam pengendalian emosi, sehingga dapat menjadi contoh yang baik bagi anak-anak.
(Surabaya, 10 Desember 2011; Salam, Widya)

Rabu, 07 Desember 2011

Pengembangan Bahasa, Matematika dan Sains pada Anak Usia Dini



 Pengalaman awal seorang anak dimulai dengan bahasa dan stimulasi terhadap anak sangat erat dengan “kesadaran bahasa”, yaitu melalui interaksi verbal yang responsif, buku, cerita, lagu, dan permainan, yang ini mempengaruhi kemampuan anak dalam membaca dan menulis (Arnqist, 2000). Anak-anak “mempelajari bahasa melalui aktivitas sehari-hari” (Novick, 1999/2000, p.70).

Perkembangan bahasa atau komunikasi pada anak merupakan salah satu aspek dari tahapan perkembangan anak yang penting dan pemerolehan bahasa pada anak merupakan prestasi manusia yang paling hebat dan menakjubkan. Oleh sebab itulah hal ini mendapat perhatian besar dari para ahli. Pemerolehan bahasa telah ditelaah secara intensif sejak lama. Pada saat itu kita telah mempelajari banyak hal mengenai cara atau proses ketika anak berbicara, mengerti, dan menggunakan bahasa, tetapi sangat sedikit hal yang kita ketahui mengenai proses aktual perkembangan bahasa.

Bahasa merupakan alat untuk berpikir, mengekspresikan diri, dan melakukan komunikasi sosial. Bahasa memberikan kekuatan kepada anak untuk membangun hubungan, menyelesaikan masalah dan mengekspresikan perasaan (Novick, 1999/2000). Bahasa digunakan anak dalam berkomunikasi dan beradaptasi dengan lingkungannya yang dilakukan untuk bertukar gagasan, pikiran dan emosi. Bahasa bisa diekspresikan melalui bicara yang mengacu pada simbol verbal.

Penguasaan bahasa yang baik sangat penting bagi perkembangan anak, karena untuk mengembangkan kemampuan dalam pengorganisasian, klasifikasi, kategorisasi dan memahami konsep, anak harus  memiliki kosakata yang luas dan cukup, sehingga dapat mengekspresikan ide, pengetahuan dan pengalamannya dengan baik.

Penguasaan bahasa merupakan aspek yang sangat penting bagi anak untuk memulai pendidikan dasar (Eliason, 2008), sehingga harus diperhatikan secara serius sejak usia dini. Untuk mencapai optimalisasi perkembangan bahasa, hendaknya anak berada dalam lingkungan yang kaya bahasa dan keleluasaan untuk menyampaikan pendapat, ide, pengalaman, maupun ekspresi perasaan.

Di samping pengembangan bahasa, aspek lainnya adalah pengembangan kemampuan berpikir matematis. Kemampuan ini merupakan salah satu aspek penting dalam proses penyiapan anak usia dini dalam rangka memasuki jenjang pendidikan dasar. Oleh karena itu, perlu pembelajaran matematika yang berkualitas, yang sesungguhnya identik dengan tantangan dan kesenangan, bukan tekanan, dan hal ini lebih luas serta lebih mendalam dibanding sekedar penghitungan dan penambahan (Clements, 2001, p.270).  Pembelajaran matematika hendaknya merupakan proses yang menyenangkan bagi anak, sehingga memacu anak untuk dapat mengimplementasikannya dalam aspek-aspek lainnya.

Perkembangan dan pembelajaran matematika hendaknya dapat dilihat sebagaimana perkembangan keaksaraan, karena konsep matematika dikembangkan melalui latihan dan stimulasi yang tepat (Geist, 2001). Mengembangkan pemahaman mengenai matematika dapat dicapai dengan baik ketika anak dilatih untuk mengemukakan alasan, memecahkan masalah dan mengkomunikasikan ide-idenya kepada orang lain (Wood, 2001).

Di samping pengembangan bahasa dan matematika sebagaimana diuraikan di atas, aspek lainnya yang tidak kalah penting adalah sains. Hal ini terutama disebabkan oleh rasa ingin tahu pada anak yang sangat tinggi dan alami, sehingga pembelajaran sains sebaiknya dilakukan pada anak sejak dini (Buchanan dan Rios, 2004). Anak penuh dengan ketakjuban serta keinginan untuk mengeksplorasi dan mempelajari lingkungan di sekelilingnya. 

Setiap anak pada hampir setiap lingkungan  melakukan kegiatan sains pada sebagian besar waktunya, membangun pengalaman mengenai lingkungan sekitar dan mengembangkan teori tentang cara kerja, peristiwa dan proses yang ada di sekitar anak (Conezio dan French, 2002, p.12). Dengan dukungan dan bantuan dari pendidik, keingintahuan alami anak dapat diarahkan pada aktivitas penemuan dan eksplorasi (Conezio dan French, 2002). Ketika melakukan eksplorasi, anak mendapatkan pengetahuan, pemahaman dan pengalaman baru, yang sangat berguna dalam memahami lingkungan sekitar serta mengembangkan kepekaan dan kepedulian anak.

Pengembangan bahasa, matematika dan sains diintegrasikan dalam kegiatan anak sehari-hari. Dengan demikian, anak dapat melakukan eksplorasi, menentukan aktivitas, dan mengembangkan potensinya. (Salam, Widya)


Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini




Pendidikan anak usia dini merupakan upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak usia 0 (sejak lahir) sampai dengan 6 tahun, agar tumbuh dan berkembang secara optimal, siap dalam memasuki jenjang pendidikan selanjutnya, serta menjadi manusia paripurna yang handal. Dengan demikian, kelak dapat tumbuh menjadi generasi yang tangguh, cerdas, beradab dan berakhlak mulia. Dalam upaya menyiapkan generasi unggul tersebut diperlukan stimulasi pendidikan yang tepat, sesuai dengan kebutuhan, karakteristik, serta tahap perkembangan anak.
Dalam perkembangannya, anak memperoleh berbagai stimulasi pendidikan, dan salah satunya dilakukan di lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD). Di lembaga PAUD anak belajar melalui bermain, sehingga suasana pembelajaran menyenangkan dan sesuai dengan dunia anak, yaitu bermain. Melalui pembelajaran yang menyenangkan anak dapat menyerap informasi sehingga mencapai tingkat perkembangan sesuai dengan usia, baik usia kronologis maupun usia mental anak.
Dengan demikian, fokus pembelajaran adalah anak, bukan pendidik, pengelola, orangtua, maupun pihak lain, sehingga pertimbangan utama dalam pemberian stimulasi adalah kepentingan terbaik anak. Kepentingan terbaik anak berarti mengedepankan optimalisasi seluruh potensi anak dengan memperhatikan karakteristik dan tahap pertumbuhan serta perkembangan.
Namun demikian, fenomena di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak lembaga PAUD yang tidak atau kurang tepat dalam memberikan stimulasi pendidikan, baik dalam hal materi, metode, tuntutan kompetensi anak, maupun suasana pembelajaran. Stimulasi pendidikan masih lebih banyak menonjolkan aspek kognitif, yang dalam implementasinya salah satunya adalah mengajarkan membaca, menulis dan berhitung dalam usia anak yang terlalu dini.
Pembelajaran membaca, menulis dan berhitung tersebut dalam pelaksanaannya seringkali kurang mempertimbangkan tingkat perkembangan anak dan metode yang sesuai dengan karakteristik anak serta erat dikaitkan dengan tuntutan kompetensi ketika memasuki jenjang pendidikan dasar. Di samping itu, pembelajaran tersebut dilaksanakan karena tuntutan orangtua, yaitu bahwa pembelajaran pada anak usia dini dikatakan berhasil apabila anak mampu membaca, menulis dan berhitung dengan lancar, tidak peduli seberapa dini usia anak. Pada akhirnya, anak sering dihadapkan pada suasana pembelajaran yang tidak atau kurang menyenangkan.
Oleh karena itu, perlu adanya perubahan mindset dalam pengembangan pendidikan anak usia dini. Pendidikan pada anak usia dini hendaknya ditujukan pada pengembangan seluruh aspek perkembangan, antara lain nilai-nilai agama dan moral, sosial emosional, kognitif, bahasa serta fisik, agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.


Surabaya 7 Desember 2011
Salam, Widya